Mari Jaga Harta Kita

 

Kisah#1

Ada yang kenal dengan Tsabit bin Ibrahim? Mungkin tak banyak. Namun sepenggal kisah hidupnya pantas menjadi pelajaran kita bersama. Suatu hari Tsabit berjalan dalam keadaan lapar. Dalam perjalanan itu, saat menyusuri sungai, dia melihat sebuah apel yang mengambang di sungai. Tanpa berpikir panjang, diapun segera menggigit buah itu untuk mengurangi rasa laparnya.

Setelah satu gigitan, dia tersadar bahwa buah ini bisa jadi milik seseorang. Dia menyesal telah memakan buah yang bukan miliknya dan bertekad meminta kepada pemiliknya agar mengikhlaskan buahnya. Diapun segera menyusuri sungai sampai ke tempat dimana buah itu berada.

Diapun mengetok pintu rumah dan menanyakan apakah ada pemilik kebun buah di rumah itu. Pemiliknya pun keluar dan bertanya maksud dan tujuan Tsabit datang ke rumahnya. Tsabit pun menjelaskan kalau dia meminta izin memakan buah tersebut sambil membawa buah yang sudah tergigit sebagian.

Pemilik kebun keheranan sejenak, kok ada orang yang seperti Tsabit ini ya. Kemudian mengatakan bahwa ia mengikhlaskan buah tersebut dengan syarat:

Tsabit harus menikahi anak perempuan si pemilik kebun yang buta, tuli dan bisu

Mimpi apa ya aku semalam, begitu kira-kira pikiran si Tsabit. Cuma gara-gara segigit buah, eh sialnya bisa seumur hidup. Namun karena Tsabit yakin bahwa ini adalah taqdir Allah, maka diapun mengikuti permintaan sang pemilik kebun.

Singkat cerita, ternyata istri yang dinikahi Tsabit adalah istri yang sholehah. Kecacatannya itu adalah tuli; tidak mendengar hal -hal yang buruk; bisu, tidak membicarakan hal-hal yang batil; dan tidak pernah melangkah ke tempat- tempat maksiat.

Dan anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut adalah Abu Hanifah, nah kalau ini pastinya kita tahu. Kok bisa? Ya bisalah, wong harta aja dijaga, apalagi keluarganya, itulah sebabnya dari pernikahan yang demikian dilahirkan seorang ulama besar.

Kisah seperti ini bukan satu satunya kisah teladan yang ada, misalnya kisah Umar bin Abdul Aziz yang merupakan cucu/cicit Umar bin Khatab hasil pernikahan anak Umar bibn Khatab dengan penjual susu yang jujur (pasti dah pernah dengar kan ceritanya.

Kisah#2

Agak sungkan juga mau cerita hal ini, tapi untuk menjadi pelajaran, bolehkah kita ketengahkan.

Ada seseorang yang bekerja di suatu tempat. (agak ditutup-tutupi agar menyamarkan identitas). Beliau ini bagian keuangan yang merupakan gerbongnya koruptor di sebuah kantor. Sebagai bagian gerbong, tugasnya adalah mengumpulan uang dari perjalanan dinas. Setiap perjalanan dinas ataupun proyek dipotong sekian persen dengan alasan untuk biaya pertanggungjawaban bila ada pemeriksaan. Bertahun-tahun begitu, sampai akhirnya beliau dimutasi ke suatu tempat karena atasannya yang baru,  tahu yang diperbuat beliau.

Di tempat baru, ternyata memiliki proyek besar, dan beliau pun bermain disana. Tidak heran ketika pensiunpun beliau ini punya beberapa mobil mewah, motor besar, rumah besar dan beberapa usaha.

Sekitar 2 tahun setelah pensiun, mantan anak buah beliau mendapat telpon dari beliau. Beliau mengatakan bahwa beliau sedang di rumah sakit dan ngg bisa keluar RS karena belum bayar tagihan. Waduh, anak buahnya bingung, kok bisa ya? Kan dulu jaya di darat laut dan udara, kok bisa menjadi susah dalam waktu singkat. Dan usaha-usahanya pun katanya bangkrut, anak-anaknya pun bermasalah terkait pernikahan yang kurang harmonis.


Pilih mana 1 atau 2 (bukan pilpres lo ya 😀 )

Ya pasti pilih kisah #1 lah.

Yang jelas, saya dan rekan-rekan para suami adalah pencari nafkah, sehari-hari menemui masalah seperti ini. Apalagi PNS/ASN. Pengalaman beberapa tahun menjadi pegawai swasta, menemui kesempatan mendapatkan harta haram/subhat sangat besar ketika berkarir di birokrasi, dan sangat jarang menemukannya di swasta. Bagaimana sih menghadapinya?

  1. Menyakini bahwa Allah telah menjamin rezeki kita

Allah SWT berfirman dalam surat Huud: 6

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Kalau sudah dijamin, buat apa kita mencari yang subhat apalagi haram?

2. Menghindari harta syubhat

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Nah, diskusi pada pengajian SMA 28 ’96 hari \ini lumayan hangat masalah ini. Karena definisi syubhat, yang samar-samar dapat membuat kita berbeda pendapat. Kalau saya pribadi sih, yang dinilai pakai hati ajalah, untuk membedakannya dengan harta halal/haram.

 

3. Hindari jebakan-jebakan keharaman yang sudah lazim

Riba misalnya, jelas sekali dosanya begitu besar. Namun zaman sekarang, demikian banyak tawaran ribawi. Sebagai contoh, apabila kita ingin membeli kendaraan, maka bayar tunai itu malah jadi susah dibandingkan dengan pinjaman bank konvesional. Padahal kalau logika, tunai harusnya lebih memudahkan dealer, karena tidak ada resiko, namun tentu jasa pinjaman yang ikut di dealer tidak akan dapat untung.


Susah ya menjaga harta? Yah…namanya juga ujian, sesuai firmannya di QS 64:15

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Semoga Allah SWT menguatkan jiwa kita untuk dapat mengatasi ujian harta sehingga keluarga kita dapat melahirkan generasi-generasi terbaik.

 

#pengajian28’96, 27 Oktober 2018

 

Pengajian selanjutnya Insy Allah akan dibahas akad-akad muamalah yang merupakan hasil diskusi setelah materi hari ini, oleh Akh Luqman sebagai praktisi perbankan syariah.

 

 

Advertisements

Dodo dan Syamil

Salah satu film kartun anak-anak yang bagus banget itu Dodo dan Syamil (lupa judul aslinya apa, ingetnya tokohnya aja).  Misal, dalam salah satu episode, Syamil dan Dodo kejar-kejaran ke kuburan, kemudian ngg sengaja ketemu rombongan yang sedang menguburkan anak kecil. (Agak lupa dialognya, intinya sbb)

Dalam film itu Dodo bertanya ke seorang Kakek tua yang ada di rombongan itu

Dodo : Innalillahi wainna ilaihi roojiun, Kek, siapakah yang meninggal?

Kakek : Itu cucu Kakek nak

Dodo : Astaghfirullah, kok cucu Kakek meninggal duluan Kek?

Disinilah masuk pesan film kartun ini

Kakek : Nak, ajal itu tidak mengenal usia, kadang masih kecil sudah kembali, kadang masih muda, kadang sudah usia seperti Kakek. Tidak selalu yang tua yang meninggal terlebih dahulu.

Dodo : Oh gitu ya Kek.


Ingat waktu itu nonton ini bareng Zaki dan Hilwa, mereka ngangguk-ngangguk.

Zaki   : Berarti Zaki bisa meninggal lebih dahulu dari Ayah ya?

Saya   : Iya,semua sudah ditentukan…


 

Usia kita semua sudah ditentukan 50 rb tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.  Umur kita tidak bisa memanjang, seperti nyanyian saat ada perayaan ulaang tahun. Yang bisa adalah memperbanyak amal sholeh yang dampaknya melampaui usia kita. Misal, di kantor ada sistem yang buruk, kemudian kita mengubahnya, maka amal sholeh kita tetap ada selama perubahan itu tetap bertahan, dan mungkin saja melampaui usia biologis kita.

Banyak tokoh-tokoh besar seperti misalnya Imam Nawawi yang usianya hanya mencapai 40 tahun, namun usia kebaiakannya jauh melampaui usia biologisnya dengan karya-karyanya yang luar biasa melintasi milenia.

Itulah sebabnya saya suka menulis di blog, dalam usaha agar  usia kebaikan bisa melampaui usia saya, walau secara bakat, menulis bukanlah keahlian saya (keliatan kan kualitas tulisan saya, hehehe) , namun yang terpenting keep writing, keep sharing…


Ditulis dalam sedih pada perjalanan Gambir – Pekalongan, bertakziah ke keponakan saya Hafhshah yang kembali kepangkuan-Nya kemarin siang. Innalillahi wainna ilaihi roojiun, semoga Umi dan Abi Hafshah chan diberi kesabaran dalam menerima ketentuan ini dan kelak bertemu di Jannah-Nya. Aamiin YRA.

 

 

 

Kisah Unik Panitia Walimah

IMG_9248

Beberapa kali jadi panitia, ada kisah2 unik yang pernah dialami. Mulai dari “masalah pemisahan ikhwan akhwat” yang kadang memicu “kehangatan” sampe didamprat sama kakaknya mempelai juga pernah.

Cerita 1: Masalah pemisahan

Karena menjodohkan sesama teman, well lebih tepatnya ‘ngompor-ngomporin dua orang teman satu organisasi, maka sayapun diminta “bertanggung-jawab” jadi ketua panitia nikahan mereka. Mereka berdua ini pasangan yang punya asal suku yang berbeda, Betawi dan Ambon, tapi sama-sama tukang ngebanyol, makannya cocok.

Nah, di hari pernikahan sesuai permintaan mempelai, nikahan pun dipisah laki-laki perempuan. Kami pun memasang hijab pembatas antara jamaah laki-laki dan perempuan. Ternyata ada anggota keluarga yang belum terbiasa dan “agak “protes dengan pemisahan yang aneh bagi mereka. Dengan wajah agak kesal, mereka menyingkirkan hijab dan kami pun pasrah. Mau masang lagi ngg berani, hehehe, yah begitulah liku-likunya panitia.

Cerita 2. Jadi Wali Nikah

Di Jepang, jabatan “agak naik” bukan sekedar panitia, tapi kadang jadi saksi. Maklum, ngg ada orang yang lebih ganteng eh lebih tua senior. Nah, suatu saat pernah diminta jadi wali, karena orang tua ybs tidak bisa datang. Wah, pengalaman pertama ini, unik juga.

Peristiwa jadi agak-agak gimana gitu ketika saya salah pengertian dengan pak Ustad yang menjadi semacam penghulu. Beliau ini orang campuran Jepang-Amerika. Saya pikir dia yang akan mewakili saya untuk pernikahan ini, ternyata saya tidak diwakili, jadi kurang siap dengan kata-katanya. Selain itu, perbedaan mahzab belum saya sadari, dan ternyata ngg terlalu formil seperti yang biasa di Indonesia, yang pake salaman. (Baca-baca di rumahfiqih, ternyata memang salaman itu ngg wajib ya, cuma kebiasaan aja). Hmmm, ternyata lebih grogi jadi wali ya daripada jadi pengantin. 😀

Cerita ke 3 : Didamprat Kakaknya Mempelai

Peristiwa di pernikahan ini adalah peristiwa paling ngenes selama jadi panitia. Seperti biasa, karena ngejodohin sesama teman, jadinya saya diminta jadi ketua panitia. Malam harinya bersama teman2 ngecek tempat nikah dan tempat resepsi sambil bantu-bantu sedikit dekorasi. Saya lupa malamnya itu apa banyak kerjaannya, intinya hampir dikatakan ngg bisa tidur semalaman. Alhamdulillahnya acara akad pagi itu berjalan lancar. Nah ngg lama setelah akad, eh ngg diduga saya kena damprat Kakaknya teman saya itu.

” Kamu gimana sih, nyari dimana itu MC? Ngg bagus. ” ujarnya ketus.

Kata-katanya sih sudah lupa, intinya begitu. Ngg tidur terus dimarahi itu rasanya argggggggggg. MC dinikahan itu salah seorang senior di kampus, yang ternyata satu angkatan dengan si Kakak itu. Dan ternyata “katanya”mereka pernah punya hubungan khusus dan putus dengan tidak baik. Lah, mana gw tahu.

Terus itu salah gw? Salah temen-temen gw? wkwkwkw

(banyak undangan bersliweran dari sahabat-sahabat di timeline fb, jadi mau nulis tentang pernikahan).
gambar bukan punya saya, diambil dari http://bluegreensee.blogspot.jp/2016/01/ll-wedding-teams.html

 

 

 



 

Ta’aruf Sekompi

tausiyah_1

Ada masa dimana saya punya teman2 liqo yang luar biasa dekat. Mungkin karena sebagian besar anggota berasal dari alumni SMA yang sama, usia sama atau cuma 2, 3 tahun berbeda ,berkarakter mirip dan sudah bertahun-tahun dalam satu kelompok liqo. Salah satu moto kami waktu itu adalah, murobbi boleh ganti-ganti, tapi kita bersepuluh ini harus tetap bersama.  Saking akrabnya, banyak hal yang tidka lazim kita lakukan bersama, misalnya, kalau ada salah satu dari kita yang sedang “penjajakan” atau ta’aruf dengan calonnya, maka yang ikut adalah semuanya.

Ya, sedikit aneh ya, kalau teman liqo ikutan lamaran, atau ikut bantu2 saat akad atau resepsi mah sudah biasa ya, lah ini ta’aruf aja semua ikutan. Dan biasa, murobiyyah sang akhwat standarnya pasti bingung melihat kedatangan rombongan yang 10 orang itu, ini yang mau taaruf yang mana? Kok rame2 gini, nanti saat tanya jawabnya apa ngg malu ya, jadi banyak yang tahu. Untungnya murobbi kami asyik orangnya (sebenarnya kami ragu, antara asyik atau terpaksa), beliau biasanya senyum-senyum aja mendengar ‘komplain’ dari murobiyyah.

Suatu hari salah seorang dari kami bertaaruf dengan calonnya, dan sebagian besar dari kami pun ikut serta. Namun melihat rumah yang dituju cukup sempit, saya dan beberapa teman mengurungkan niat ikut masuk ke rumah dan memilih menunggu di dalam mobil. Setelah selesai, teman saya yang taaruf tadi dan teman2 yang lain kembali ke mobil dan kami pun pulang. Karena penasaran, saya yang tidak ikut pun bertanya, gimana taaruf hari ini.

Saya : “Eh, gimana tadi, pertanyaan nya susah ya, kok muka ente kayak menyimpan sesuatu?”, tanya saya ke teman yang taaruf. Wajah teman saya ini masih galau gimana gitu

Teman : “Pertanyaan standar sih, alhamdulillah lancar. Tapi…

Saya     : “Tapi apa?”

Teman  : “Tadi kan kita masuk bareng2 yaa, eh saya pas kebagian tempat yang ngg bisa ngelihat wajahnya,” katanya agak-agak sendu

Saya : “Wkkwkwkw, kok bisa?”

Teman : “Ya, kan pas datang, kita main duduk2 aja, ngg menyangka kalau salah posisi begini.”

Saya : “Terus gimana dong?” Ada yang lihat langsung?”, ujar saya sambil memandang teman2 yang lain.

Teman no 2: Ane yang tepat di depan dia, manis kok orangnya, tenang aja,” sambil senyum2 ngg jelas

Saya : “Tuh udah ada testimoni, aman lah. Jadi mungkin ngg jauh lah sama biodata yang ente dapet,” kata saya menenangkan

Teman : Masalahlah, biodata yang kemarin itu fotonya kecil amat, 3 x 4, ngg jelas wajahnya

Saya : Waduh….

Andaikata 15 tahun lalu itu sudah ada facebook, paling ngg friendster lah, masalah ngg jadi rumit begini.

————————

 gambar diambil dari http://saungkertas.com/wp/tentang-penolakan-taaruf/

Tulisan lain tentang ta’aruf

https://luthfiti96.wordpress.com/2014/08/09/taaruf-salah-kostum/

Brexit dan Penaklukan Roma

Sekitar  2 minggu lalu mendarat di Heathrow, saya disambut petugas imigrasi. Seperti biasa petugas menanyakan keperluan apa di Inggris, berapa lama dan menginap di mana.  Pertanyaan sih biasa, namun petugasnya yang tidak biasa,  seorang wanita muda berwajah Pakistan berjilbab.Sayangnya pemeriksaan imigrasi adalah daerah steril foto jadi ngg bisa foto si petugas. Dan petugas imigrasipun ngg cuma satu yang berwajah Pakistan, ada beberapa orang.

Di jalan jalan pun saya menemukan banyak muslimah berjilbab ataupun wajah-wajah Pakistan/Bangladesh yang bersliweran. Dilihat data statistik, ternyata dalam 10 tahun kurun 2001-2011, populasi muslim berkembang dari hanya 3% menjadi sekitar 5%.Dan kita pun tahu bahwa walikota London sekarang adalah Sadiq Khan, seorang Muslim. Hal itu menunjukkan posisi tawar muslim di Inggris dan Eropa cukup kuat.

Prediksi ke depannya pun ternyata menunjukkan bahwa populasi muslim  makin besar. Di Eropa, setiap satu dekade naik 1 % dan PEW Research Center memperkirakan tahn 2030 akan mencapai 8% dari seluruh penduduk Eropa. Tidak itu saja,  rata-rata usia muslim eropa 32 tahun, jauh lebih rendah dari pada penduduk Eropa yaitu 40 tahun.

 

Capture europe.JPG

Muslim di Eropa tahun 2010

 

 

Saya jadi teringat hadist Rasulullah SAW tentang penaklukan Romawi.

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Hmmm, mungkinkah penaklukan Romawi Barat berbeda dengan Romawi Timur. Romawi Timur melalui peperangan, sedangkan Romawi Barat melalui imigrasi? Wallahu’alam bish showab. Jumlah 8% bisa jadi tercapai sebelum 2030 mengingat LGBT yang sangat massive di negara Barat.

Itulah sebabnya UK memilih Exit, bukan karena alasan ekonomi melainkan ketakutan yang berlebihan terhadap imigran muslim.

Capture imigran

 

referensi

5 facts about the Muslim population in Europe

https://www.facebook.com/Channel4News/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THR bagi Aparatur Sipil Negara

harta halal

Waktu masih kerja jadi general affair di bank XXX , menjelang lebaran gini biasanya ada beberapa aparat pemerintahan berseragam yang datang ke kantor bawa surat minta THR. Aparat yang datang mulai dari Kecamatan, Kelurahan, Kepolisian, Tentara. Kadang ada juga organisasi ” kepemudaan”, saya kasih tanda ” karena lebih ke organisasi preman dari pada pemuda.

Jyah, enak banget ya mereka…. Kalau iseng-iseng ngitung, setiap kantor di daerah Tanah Abang ngasih 200 rb aja, anggaplah sekitar 500 tempat usaha, sudah 1oo juta dapetnya, wow.

Nah, akun biaya buat ngasih THR kan ngg ada ya, emangnya kita bos mereka? Jadilah “ngakalin” dengan masuk ke pos biaya makan siang. Auditor pasti udah ngerti kalau ngeliat pengeluaran makan siang dengan lampiran surat minta THR. Yang jelas kami ngg ikhlas ngasih uang itu, ya mau bagaimana lagi, ngg ngasih takutnya urusan jadi repot

Nah, pas udah jadi aparat berseragam, terkadang mungkin kita akan menemukan THR-THR yang ngg jelas. Dari perusahaan anu, konsultan itu, dari pejabat anu, pejabat itu. Pas ngasih sih bilangnya mereka ikhlas. Yakin ikhlas? Yah tinggal kita ganti posisi aja, kalau jadi mereka, ikhlas ngg ngasih THR buat orang lain, mending untuk pegawai sendiri kan.

Kalau menemukan THR2, maka defaultnya adalah ngg jelas yang berarti tidak bisa dipakai.Kecuali misalnya bagi hasil koperasi yang dibagi sekitar Lebaran, selain itu, ya harus ada curiga-curiga lah.  Semoga Allah memudahkan kita menjemput rejeki kita.

Pengemis dan Songkok Hitam

Assalamu’alaikum brother. Are you Indonesian ? Please help me,  I am student from Palestine and I need some help. I need some money to continue my study here.

Saya orang yang paling males ketemu yang namanya pengemis, even di Indonesia. Kalau berangkat ke kantor naik Busway turun di Kuningan Madya, maka jika nyebrang ke arah gedung Bakrie akan menemui seorang pengemis wanita dengan anak bayinya. Tampangnya meyakinkanalias melas dan tulus banget.Ngg heran banyak sekali para pekerja yang kasihan dan memberi sekedarnya. Untuk hal yang begitu aja saya ngg tergerak, soalnya si pengemis hampir tiap pagi nongkrong di sana dan itu anak bayinya diam aja, ngg rewel. Well, anak saya empat dan termasuk ngg rewel, tapi pastilah ada gerak2nya  juga, masa diam aja. Jangan2 dikasih obat? Ah sudahlah…

Tapi si brother dari Palestine ini meminta di dalam Masjid Rasulullah yang mulia, Masjid Nabawi, masa dia bohong sih?Hmmm…

Mau bilang ngg bawa uang, dompet ada di kantong. Mau bohong, kok ya gimana gitu, ini baru hari pertama tiba di tanah suci dah gitu di masjid Nabi pula.

I am sorry brother, I need to discuss with my wife first. Ngg bohong, tapi menunda jawaban.

Do you have money in your pocket? I accept rupiah also, jawabnya agak kurang sabar.

Hmmm, jawaban saya membuatnya agak marah. Eh, bentar, kenapa dia tahu saya dari Indonesia ya? Oh, peci dari mertua saya berwarna hitam jadi penanda. Pantesan aja,hmm, alhamdulillah kalau gitu, orang Indonesia terkenal pemurah. Pecinya sekarang sudah jarang dipake sih  karena kesempitan. Saya itu berbadan kurus tapi besar kepala, eh berkepala besar, jadi yang dititipin beli peci salah perkiraan.

Kembali lagi, dalam hati berpikir, kalau dia bener mahasiswa yang lagi kesulitan gimana ya? Well, kasih jawaban gantung aja biar menguji dia juga. Kalau dia bener2 mahasiswa yang kesulitan, tentu punya akhlak yang baik.

So brother, can you donate your money? ujarnya makin sabar dengan muka marah. Saya diam saja dan kembali mengatakan ” I am sorry brother, I need to discuss with my wife. Saya menunggu jawaban dari dirinya ” OK brother, I will wait.

Tapi ternyata tidak, muka ramahnya ketika pertama kali memberikan salam menjadi muka marah dan pergi tanpa mengucapkan salam.

Ah, semoga dia benar penipu, dan kalau pun bukan, at least saya tidak berbohong.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ulang Tahun Hilwa

piagam12901527_10205098052170806_3873142726694532602_o

 

Hilwa chan, hari ini genap 8 tahun, alhamdulillah…

Lahir dengan muka pucat, Hb cuma 5.5 dan berulang diusia 7 bulan. Bolak balik ke spesialis anak, klinik tumbuh kembang sampai periksa thalasemia di RSCM. Sedih kalau inget harus bolak balik ambil sample darah. Kami telah bersiap bila ia menjadi slow learner karena keadaannya.

Alhamdulillah doa melalui namanya, Hilwa (Manis(nya) Tsabita(berpegang teguh)  Millati ((pada) agama)), Hilwa tumbuh sehat dan selalu bersemangat. Dan kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2 April ini, Hilwa dapat penghargaan, alhamdulillah. Nilai bahasa Jepangnya pun perfect 100, yang juga berarti lebih tinggi dari orang Jepang itu sendiri. Pafekto kata senseinya.

Semangat terus ya Ka, terus menginspirasi kami semua. Maafkan tidak ada kue dan hadiah dalam setiap ulang tahunmu, karena sejatinya usia kita berkurang otomatis, tidak ada istimewanya…

Ya Allah, kami mencintanya, Cintailah dia dan orang-orang yang mencintainya….

 

 

 

 

 

Sabar, Kunci Keberhasilan Dakwah (Catatan Dakwah di Jepang)

Sekitar awal 2011,

Kami diundang untuk mengisi pengajian ibu-ibu pernikahan campuran (istri Indonesia suami Jepang)  di sebuah kota, sekitar 100 km dari Hiroshima, 2 jam-an perjalanan dari Saijo. Teman yang mengundang sudah wanti-wanti,nanti jangan kaget ya, namanya juga dakwah. Entah lah maksudnya apa.

Hari itu karena sesuatu hal kami agak terlambat hadir. Seperti biasa pengajian dilakukan di sebuah apato kecil dan sudah dimulai tapi break dulu menunggu kami datang. Setiba disana, di samping rumah ada seorang wanita pakai hotpants, rambut warna warni sedang asyik merokok di luar. Saya pikir, oh orang Jepang kali ya, tetangga yang sedang merokok.(ngg kedinginan mba) #eh

port947

Setelah istirahat dan persiapan sedikit, pengajian pun dimulai kembali. Kebetulan teman yang memberikan materi, saya mendampingi saja. Peserta cuma 5 orang, kalau hitung2an materi ,cost lebih tinggi dari benefitnya. PP 200 km cuma dihadiri 5 orang; banyakan panitia daripada peserta, hehehe. Yang lebih mengagetkan, ternyata si wanita yang merokok tadi ikut pengajian. Yah, pakai kerudung sih, dan agak ditutupi gitu pakaian yang tadi itu, cuma kaget aja…Udah peserta sedikit, tampaknya masih jauuuuuuh dari harapan ini.

Setelah selesai pengajian, teman yang mengundang pun bertanya, kaget ngg pak Luthfi? Saya dan teman cuma senyum saja.

Alhamdulillah ya, masih mau ngaji, kata saya.

Iya Pak Luthfi, begitulah dakwah disini. Semoga sedikit demi sedikit ada yang masuk yang kita sampaikan. Hidayah kan milik Allah SWT, tugas kita mengantarkan.

Wow, salut dengan teman satu ini, optimis juga. Jadi ingat nasehat seorang ustad. Suatu hari ada seorang tukang mabuk yang ‘entah’ kenapa suatau saat sadar dan mau ikutan sholat berjamaah di masjid. Dengan celana blue jeans belel (yang pasti warnanya biru), kaos yang sudah sekian lama ngg dicuci, anting2 dan muka yang keliahtannya juga lupa disterika (alias jarang mandi) berjalan menuju masjid.  Begitulah, pas mau ikutan sholat, eh malah dicurigai dan ‘ditanya ini itu sama pengurus masjid. Dia pun balik arah dan ngg pernah kembali ke masjid itu. Sayang sekali…

Kembali ke pengajian tadi, sekitar 5 tahun kemudian,

Teman saya mengabarkan kalau pengajian ibu-ibu pernikahan campuran yang dirintis dulu itu sekarang sudah lebih ramai, alhamdulillah. Dan kami diundang untuk kembali hadir ke pengajian tersebut.  Istri2 muslimah yang ikut pengajian mulai menjalankan Islam dengan baik, tentu setahap demi setahap. Tidak minum2 (tradisi minum2 sangat kuat di Jepang), sholat 5 waktu, puasa dan memasak makanan halal. Untuk mengaji masih proses belajar. Di pengajian itu hampir semua sudah menggunakan jilbab, walau tentunya dalam keseharian belum semua pakai, masih dalam proses menuju ke sana. Anak2 mereka pun juga sudah mulai ikut ibunya. Bahkan peserta pengajian yang  bekerja di tempat-tempat yang ‘gimana’ gitu sudah berhenti atau pindah tempat yang lebih baik.

Namun sang suami yang orang Jepang masih jauh dari harapan. Ibarat lomba lari, sang istri sudah jauh, si suami masih duduk – duduk di garis start. Ada juga yang malah agak anti dengan perubahan sang istri, takut terbawa teroris; tapi yang seperti ini tidak banyak. Jadi pengajian saat itu spesial mengundang suami2 mereka dan pengisinya adalah seorang dai asal Jepang yang berdakwah menggunakan bahasa Jepang dengan harapan agar mudah dipahami.

Well, semua butuh tahapan, hanya dakwah yang ikhlas semata-mata karena Allah disertai kesabaran yang bisa menjadi jalan hidayah. Yang jelas, setiap dakwah yang kita lakukan, ganjarannya gede banget, lebih baik dari unta-unta merah, atau kalau jaman sekarang, ferari terbaru. Semoga teman saya itu tetap istikomah…

 

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً، خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” [Muttafaqun Alaihi]

 

gambar diambil dari http://www.rebellogblog.com/text/portrait/port918.htm

 

 

 

 

 

Jawa atau Manado?

Kadang saya suka sebel kalau ada temen ngobrol pakai bahasa daerah saat ngumpul bareng2. Well, memang nyaman sih bagi mereka, karena bahasa itu punya rasa yang berbeda. Seringkali bahasa lain tidak bisa mewakili yang ingin disampaikan. Tapi kesannya ngg hormat aja ke orang dari suku berbeda. Lagian katanya cinta Indonesia, kok lebih sering pakai bahasa daerah, dipertanyakan deh cintanya itu. Jangan-jangan cinta suku nya sendiri, bukan cinta Indonesia. Ah, bagi saya Indonesia itu given, jadi kurang ada bangga-bangganya gitu. Kalau agama kita ada proses memilih, lah kalau suku/negara mah dari sononya ngg bisa diubah.

Aniway busway, jadi orang campuran kadang ada untungnya juga,sedikit oportunis sih. Misal, ada teman yang lagi ngomongin cantiknya orang Manada, yes waktunya ngaku jadi orang sana. Paling tanggapannya,

  1. pantes putih
  2. kok ngg bisa bahasa Manado

Nah kalau menjadi orang Jawa sedang menguntungkan, waktunya ngaku orang Jawa. Tanggapan biasanya adalah :

  1. Saya pikir orang Padang, soalnya namanya mirip orang sana (Nama saya nama Islam kale, ada ada aja)
  2. kok ngg bisa bahasa Jawa

Ah kenapa sih bahasa mulu yang dipermasalahkan. Di rumah ngg pernah pakai bahasa itu soalnya. Ayah saya saja sungkan pakai bahasa Jawa, terlalu strata katanya, bukan bahasa yang nyaman untuk digunakan secara bebas.

Nah kalau Lia Amalia yang tanya, jawabannya ya pasti saya orang Jawa

“Iya Jawa, Jawa-ban doa-doa mu selama ini”

asyik…

catatan seriusnya: Jangan terlalu bangga sesuatu yang given, biasa2 aja. Seringkali bangga berlebihan itu bisa membuat kita fanatik berlebihan. Aneh ngg sih fanatik untuk sesuatu yang given? Bincang2 dengan teman2 dari negara2 lain, yang begitulah yang biasa terjadi. Mereka kadang bangga berlebihan, mungkin juga kita. Negara itu batas yang dibuat setelah penjajahan, kok dibanggain ya?

Prinsip saya, disana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, simple aja. Ngg perlu merasa lebih untuk sesuatu yang ngg pernah kita pilih dan perjuangkan.