Rute Saijo Station ke Masjid Hiroshima (How to go to Hiroshima Masjid)

masjid hiroshima

How to go to Hiroshima masjid (Hiroshima Islamic Cultural Center) ? You can click  here direction from google map (using bus from Saijo Station (西条駅, Saijō-eki to 東子, azuma ko ) It cost around 290.

Alhamdulillah Hiroshima telah memiliki masjid sejak tahun 2012 bernama Masjid Al Salam, namun letaknya bukan di Hiroshima, melainkan di Higashi Hiroshima dekat kampus Hiroshima University.

Bagaimana cara ke masjid? Naik apa? Bisa dilihat di google map peta dari Saijo Station (西条駅, Saijō-eki) ke Masjid Al Salam Hiroshima (turun di halte 東子, azuma ko, jalan kaki 2 menit) Klik di sini untuk link google map. Rute itu adalah rute naik bus jurusan Kure Station ( (呉駅, Kure-eki) , biaya sekitar 290 yen.

Untuk jadwal pastinya bisa dicek disini dari Saijo ke Masjid (check yang dilingkari)saijo masjid

Sedangkan dari Masjid ke Saijo disini (updated 30 April 2016)

masjid saijo (2)

Kalau mau naik taksi, ini alamatnya :

イスラーム文化センタ Address: 〒739-0036 Hiroshima-ken, Higashihiroshima-shi, Saijōchō Taguchi, 2786−1 4th-5th floor (atau 広島県東広島市西条町田口2786-1) biaya sekitar 1700 yen.

If you’d like to go by taxi from Saijo Station, you can inform the address above to the taxi driver and it will cost around 1700 yen.

What about masjid near Hiroshima city? We have a musholla in Hiroshima city, the location is

Takei Bld. Room Number 301

2-7-23 Kasumi, Minami-ku, Hiroshima-shi, Hiroshima-ken
Japan 734-0037

〒734-0037 広島県広島市南区霞2-7-23 武井ビル301号室

you can check the location here (google map)

 

 

 

 

Gambar masjid diambil dari https://goo.gl/KZb9sW

 

However, if you’d like to pray near Hiroshima city, you can reach Hiroshima Musholla in here and we also perform Friday Prayer.

 

 

 

Advertisements

Mozaik (yang tak terlupakan ) dari Tanah Suci

1. Motivasi Tingkat Tinggi

Hari keberangkatan ke Tanah suci, kami bertemu dengan para calon haji di Bandara Narita. Ada beberapa catatan unik ketika berkenalan dengan saudara2 para calon haji

a. Ada yang berasal dari Okinawa, seorang mualaf usia sekitar 60an, pekerjaan nelayan. Pas ditanya kenapa masuk Islam, beliau mengatakan naluri saja, setiap hari ke laut melihat alam yang begitu indah, pastilah ada penciptanya. Subhanallah… Dan ketika ditanya berapa orang yang Islam dikeluarganya, cuma sendiri katanya (dengan muka mau menangis) hiksss. Mualaf aja bisa semangat naik haji, masa kita ngg. Padahal beliau terbatas komunikasinya dan tidak bisa bahasa Inggris.

Salah satu momen yang mengharukan ketika sedang bertolak dari Bir Ali (miqot) dan kita berniat haji dengan lafaz dikeraskan. Kemudian mualaf Jepang ini memastikan ke saya, bener ngg niatnya. Dia menulis di kertas dengan kata kana

ラバイク  アッラフッマ ハッジン

RABAIK ARRAHUMMA HAJJAN

dan melafazkannya dengan semangat dan girang . Yang ada saya terharu berat karena malu dengan semangat beliau. Mualaf, sudah berumur, sendirian, tidak bisa bahasa Inggris (dan ngg bisa huruf L) tapi semangat.

 

 

2. Doa yang Cerdas

Salah satu yang diusahakan dicapai di MEkkah  adalah mencium Hajar Aswad. Sebagian besar dari kami sudah pesimis tidak bisa mencium Hajar Aswad dan khawatir menyakiti orang lain ketika mau mendekatinya. Namun ada seorang teman yang hari pertama sudah bisa menciumnya. Ternyta dia punya doa yang demikian cerdas.

“Ya Allah, aku ingin sekali mencium Hajar Aswad demi mencontoh Rasul-Mu yang mulia. Berikanlah hamba kemampuan untuk menciumnya tanpa menyakiti saudara-saudara hamba seiman. “

Cerdas dan demi masuk kesana, karena “mengantri” bersama orang2 yang besar2, dia berhasil menyelinap di bawah orang2 besar itu

3. Menahan Diri Untuk Tidak Komplain Berlebihan

Dalam berhaji, kesabaran adalah ujian yang berat. Sedari awal seorang teman mengatakan begini

Pak Haji, kita kan mau ibadah ya… Kalau pengalaman tahun lalu, ada orang yang sering komplain tentang fasilitas dll ke penyelenggara, mungkin dia orang travel ya, jadi tahu banget kalau ada kekurangan. Namun akibatnya ibadah kurang khusyuk. Bagaimana kalau tahun ini kita menahan diri, komplain boleh2 saja tapi itu kalau sudah bener2 parah dan caranya pun harus tenang, tidak emosi

Alhamdulillah, lumayan menenangkan juga, sehingga bisa lebih fokus dari pada komplain tentang makanan yang begitulah rasanya, (ada) kamar mandi yang bocor sampai ke kamar tidur, ada tempat makan yang kurang bersih dan panas,dll. Karena itu sebenarnya bagian dari ujian juga…. Dan terkadang jadi lupa dengan nikmat yang lain (bisa berhaji dengan istri, hotel yang relatif dekat dengan masjid, makanan yang lancar dan banyak kebaikan lainnya)

4. Gandengan Kemana-mana

Punya anak, walaupun cuma 4 ternyata lumayan membuat waktu berdua sangat terbatas.Mungkin karena masih kecil2 ya. Pernah baca status Dr Piprim kalau beliau gandengan terus selama haji, wah boleh juga ditiru. Lumayan kan, kalau di Indonesia ntar disangka penganten baru lagi, kalau di Tanah Suci kan ngg ada yang boleh protes, hehehe

12045639_10207492239094878_4590998153177279217_o

5. Menangis di Raudhoh

Di masjid nabi, ada sebuah tempat yang makbul doanya. Lumayan antri sampai berapa ya, hampir dua jam untuk masuk ke sana. Membaca doa2 untuk pribadi dan juga titipan teman2. Tapi suasananya memang sedih karena teringat dengan Nabi Allah Muhammad SAW dengan dakwah nya dan kami belum termasuk pengikut beliau yang baik ( hiksssss). Apalagi selama di Madinah, kami berziarah ke tempat2 penting sisa2 perjuangan termasuk melihat bukit Uhud dimana perang yang paling banyak menurunkan ayat Al Qur’an sebagai hikmah, sehingga terasa hawa perjuangan beliau dan para sahabat begitu kuat. Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menjalankan seluruh sunnah beliau.

 

Masih banyak mozaik yang tercecer, semoga ada waktu untuk menuliskannya di lain waktu

 

 

Tips Naik Haji dari Jepang

12095047_10207556926312018_3096289063137502225_o

Kalau lihat teman yang posting foto dari Tanah Suci, maka pepatah yang tepat bagi saya adalah bagai “pungguk merindukan bulan.” Dana dari mana untuk kesana? Even Umroh pun belum punya dana apalagi haji yang waktu tunggunya 17 tahun.

Akhir 2012 keadaan makin tidak mungkin, keberangkatan sekolah bersama keluarga ternyata besar juga pengeluarannya; tiket, perlengkapan musim dingin, koper dll. Makin jauh aja Mekah ini,hiks..

Tapi pandangan itu berubah ketika bertemu dengan seorang teman. Dia mengatakan begini

Teman : Fi, ente udah niat belum naik Haji?

Saya     : Ya udahlah

Teman : Yakin udah? Tabungan haji mu berapa sekrang?

Saya     : Eh, ya belum punya lah, boro2 nabung haji.

Teman : Ente tahu haji itu wajib?

Saya     : Makruh kali bro? Pertanyaan ente ada2 aja

Teman : Nah menurut ane ya, untuk ibadah wajib itu niatnya harus konkrit. Untuk haji ya harus nabung bro. Paling ngg kalau ente berpulang sebelum menunaikan ibadah haji, ente bisa argumen kalau ente sudah punya niat dengan menunjukkan buku tabungan ente. Niat dalem hati mah belum kuat untuk ibadah haji yang berat bro

Saya    : Bener juga ya, ngg percuma ane ganteng punya temen pinter kaya ente

Well, akhirnya saya buka tabungan ZMuamalat di kampus. Sebelum buka tabungan saya tanya dulu ke CS nya, berapa minimum tabungan haji dan akhirnya saya buka tabungan 300 rb. Yah, emang uangnya cuma segitu mau diapain.

Singkat cerita, entah bagaimana uang pun ngumpul juga 3 tahun kemudian, padahal haji dari Jepang itu sama biaya nya dengan haji plus dari Indonesia.

Dan saya juga baru tahu kalau niat ibadah yang di zahr kan itu cuma ada di ibadah haji”Labbaikallaahumma hajjan”  Artinya: “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.” yang diucapkan di miqot. Itulah mungkin kenapa teman saya minta saya punya niat yang lebih kokoh. 

 

Note:

Maafkan kalau judul sama isi ngg pas banget, cuma membahas bagian niat, jadi untuk tips berhaji dari jepang bisa dilihat di sini tulisan Daisenpai Pak Endrianto

(foto diambil dari sensei SRIT Pak Jamal Tokyo)

 

 

 

 

 

MENCARI CARA TERBAIK MENGHAPAL AL QUR’AN

Sebagai muslim yang berupaya meningkatkan kebaikan dalam diri,  saya selalu cemas dengan kemampuan menghapal Al Qur’an saya yang sangat lambat. Kadang sebel sendiri kalau ada acara menghapal bersama teman liqo dan diberi waktu sekitar 30menit, pastilah saya paling sedikit setorannya. Well, mungkin memang kemampuan orang beda-beda ya, tapi saya masih berpikir mungkin saya belum menemukan metode yang paling tepat saja.

Browsing sana sini,secara garis besar adalah : selain tentunya usaha mendekatkan diri dengan Allah SWT,  ada usaha2 lain seperti, jangan mengganti-ganti mushaf, mengulang beberapa kali  bacaan, menghapal sambil menghadap tembok putih sehingga bisa membayangkan halamannya dan beberapa tips lain. Sudah diikuti kok masih belum ada kemajuan berarti.

Setelah diskusi dengan teman, dia membagi 1 tips utama yang didapatkan dari asistennya AA Gym. Sang asisten ini backgroundnya bukan sekolah agama, tapi mampu menghapal 30 juz selama kuliah S1 di sebuah PTN

  1. MULAI DARI YANG MUDAH

Menghapal sebaiknya dimulai dari yang juz paling mudah, yaitu juz 1 dan selanjutnya tidak perlu berurutan. Di salah satu bagian juz 1 misalnya, ada kisah bagaimana penciptaan nabi Adam AS, sampai beliau digoda dan akhirnya diturunkan ke dunia. Selanjutnya ada juga argumentasi kenabian kepada Bani Isroil. Sembari menghapal kita akan mengurutkan hapalan kita dalam “rangkaian kisah” yang akan memudahkan kita mengingat. Selain itu kata-kata dalam juz 1 relatif lebih mudah dari juz lainnya. Tips ini agak beda ya, biasanya menghapal dimulai dari juz 30 – 29- 28 -27  baru ke Juz 1.

 

  1. MENGHAPAL DENGAN MENDENGAR

Metode ini saya coba gabungkan dengan penjelasan ayah nak Fajar , seorang penderita lumpuh otak yang mampu menhapal Al Qur’an sebelum 5 tahun, subhanalllah. Menurut ayahnya, di rumah disetel Al Qur’an 24 jam sehingga seorang anak kecil penderita lumpuh otak pun mampu menghapal Al Qur’an. Nah, ternyata dengan mendengar pun kita bisa menghapal Al Qur’an.

Setelah dicoba selama sekitar 6 bulan, alhamdulillah, ternyata ada sedikit titik cerah ketika saya melihat kecepatan hapalan saya meningkat . Dengan kemampuan verbal dan ruang yang terbatas, metode menghapal posisi ayat (visual) menjadi kurang pas bagi saya. Wong ke jalan kampus di UI aja sering nyasar karena sulit membaca peta, maka kelebihan saya bukan di visual, mungkin di pendengaran (auditory). Mengikuti tips yang kedua,  saya memilih salah satu Syekh yang menurut saya paling indah bacaannya, dan sering-sering mendengar bacaan beliau di juz 1. Jadi ketika ada kesalahan, yang saya coba  ingat2 bukan posisi ayat di baris keberapa seperti kebanyakan orang, tapi nada mengaji Syekh tadi bagaimana. Dan beberapa waktu lalu seorang teman ternyata menggunakan cara yang sama dalam menghapal, jadi pas dia murojaah, loh kok gayanya sama ya; yah ngg ORI Syekh Mishari Rasyid sih, kalau dia KW10 dan saya KW 11 kali. 🙂

Well, belum selesai 1 juz sih, tapi saya pribadi sangat bersyukur dan bila proses mencari cara terbaik menghapal ini saya tuliskan dalam blog mungkin akan ada yang mencoba juga.

Dicoba ya, kalau lancar kan saya dapat pahala, hehehe

 

Janji Bunga Matahari

Ya Allah,

sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,

telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma’rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Aamiin…

Doa robithoh itu salah satu doa yang paling sedih menurutku. Tapi pernahkah kalian melihat laki-laki menangis tersedu-sedu saat membacanya?


Setelah liqo seperti biasanya kita akhiri dengan doa Rabithah. Kami cuma bertiga hari itu, sebuah sore di sebuah apato  sempit. Sejak dimulai memang wajahnya agak2 sedih gimana gitu. Dan bertambah muram ketika sesi Qhodhoya dan Rowa’i. Dia pun membaca rabithah sambil tersedu-sedu. Mendengarnya pun jadi sedih, tapi ngg ah, masa sore-sore nangis, kataku.  🙂


Beberapa bulan sebelumnya…

Suatu saat kami baru saja selesai acara PPI di Kagamiyama Koen, tiba-tiba seseorang mengejar langkahku.

Mas Luthfi, aku mau ikut Liqo dong, katanya sambil senyam seyum.

Eh, mau ikut apa kataku?

Well, baru aja aku dikagetkan dengan kasusnya petinggi partai anu, jadi pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling mustahil muncul saat – saat ini

Liqo, katanya lagi sambil senyum-senyum….

Hmmm, pengajian? Minggu depan Insya Allah ada pengajian keluarga, kataku.

Bukan itu, aku mau ikut liqo, katanya…

Eh, hontou? Kenapa?

Menurutku inilah waktunya aku kembali.

Well, ini alasan yang membingungkan.

Lalu ia pun berteori,

“ Menurutku kasus ini jebakan, dan sepertinya aku terpanggil. Banyak loh yang merasa ini pasti kecurangan.

Hmmm, ya mungkin saja. Tapi ngg gitu juga sih, jebakan kan ngg  mungkin kena kalau kita tidak melewati daerah berlubang. Salah orangnya kali. Atau bisa jadi itu beneran. Kalau itu bener gimana? Kataku menyelidik

Tapi aku yakin, kalaupun orang itu salah, yang salah bukan sistemnya, tapi orangnya, katanya yakin.


Super produktif, begitu kata orang-orang. Mulai dari kegiatan Persatuan Pelajar, Keluarga Muslim Indonesia, Kegiatan di Masjid  maupun acara anak-anak diikutinya. Kalau kutanya, dia bilang

Saya tidak pernah melamar untuk berada disini, tapi sebuah kebetulan. Jadi, saya pasti disini atas sebuah alasan, oleh karenanya saya harus punya arti.


Well, akhir-akhir ini dia sering bilang

Pak Peri, sabar ya, jangan galau.

Kutahu itu berarti sebenarnya dia sedang galau…


Hmmm, pasti banyak yang akan merindukannya, tapi apakah dia akan kembali?

—catatan suaminya Bu Peri—-


Himawari no Yakusoku

Soba ni itai yo
Kimi no tame ni dekiru koto ga
Boku ni aru kana
Itsumo kimi ni zutto kimi ni
Waratteite hoshikute

Himawari no youna
Massugu na sono yasashisa wo
Nukumori wo zenbu

Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk berada disampingmu?
Kau dan aku selalu tertawa,itulah yang selalu ingin kulihat
Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan semua kehangatannya
Sekarang aku juga ingin memberitahumu
Karena aku sudah merasa bahagia disini
terjemah lagu diambil dari http://goo.gl/FeIERp

PakOmMas BuMbaNeng

Hari ini seorang teman dikritik karena hanya memanggil nama ke teman yang lain yang usianya beberapa tahun lebih tua, tidak pake Mba, Neng atau Teh. Saya tidak ingat alasannya hanya memanggil nama, tapi masalah panggil memanggil ini jadi ribet juga. Dan keluhan ini juga tidak sekali/dua kali saya dengar, beberapa hari lalu ada keluhan juga kalau ada freshmen yang memanggil nama saja pada seniornya, padahal usia hampir beda 10 tahun. Semestinya gimana ya?

Dulu di kampus/sekolah, untuk memanggil kakak kelas, saya memanggil Ka/Bang/Mba. Tapi lama-kelamaan kalo tidak terlalu jauh memanggilnya nama juga. Atau pake gelar akhi/ukhti (saudara) untuk kegiatan remaja masjid. Di kantor, teman satu angkatan saya yang laki2 pasti memanggil nama, kalo yang perempuan biasanya memanggil nama bila seumuran atau memanggil mas kalo lebih muda. Yang ribet, kalo ketemu orang yang lebih tua tapi masuk belakangan, dipanggil mba aneh, dipanggil nama kok kayak ngg sopan.Di satu sisi, kalo memanggil nama kadang membuat kita lebih akrab, kalau pake 'gelar', maka menunjukkan ada batasan.

Disisi lain cenderung terdengar tidak sopan ya. Saya ingat, fenomena ini sudah pernah saya baca di buku teks Psikologi Industri, saya lupa pengarangnya. Ada studi kasus tentang budaya kantor-kantor di Indonesia yang menurut orang Barat terlalu aneh, yaitu panggilan menggunakan kata Pak/Bu yang menurut mereka malah membuat jarak. Hmmm, masa manggil bos nama aja, weh, bisa dipecat kita 🙂

Menurut saya adat istiadat tentu berbeda-beda, namun sebagai seorang muslim, saya coba mencari tahu seperti apa seharusnya kita. Ketemulah hadis ini

Rosulullah SAW bersabda : "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi kepada orang yang lebih kecil (muda) dan tidak mengetahui kewajibannya terhadap orang yang lebih besar (tua). Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menipu kami. Seorang mu'min tidak/belum di katakan beriman sehingga ia mencintai orang mu'min yang lain, seperti mencintai terhadap dirinya sendiri". (HR. Thabrani dan Dhamrah ).

Pada hadis yang lain dikatakan:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَناَ"

Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi orang muda diantara kami dan tidak menghormati orang yang tua" (HR. At-Tirmidzy, dishahihkan Syeikh Al-Albany).

Bisa kali ya disimpulkan, kalau memanggil dengan gelar adalah bagian dari menghormati orang yang lebih tua, maka sebaiknya kita lakukan, namun imbang juga, kita harus menyayangi orang-orang yang lebih muda dari kita. Dan tua terkadang bukan hanya usia biologis, juga usia bekerja/beraktifitas di suatu tempat. Walllahu alam bishshowab, bagaimana menurutmu teman?

———————————————————————
Bay de way basway, ada fakta menarik di kantor saya.Setelah ngg ngantor selama 2,5 tahun, saya bertemu dengan junior-junior baru yang masuk setelah saya pergi. Agak kaget juga ketika mereka memanggil Pak Luthfi, instead of Mas Luthfi, :-). Saya sudah tua ya? Hmmm, pasti pengaruh NIP nih, jadi sebelum bertemu saya, mereka bertemu NIP saya terlebih dahulu yang menerangkan kalo beda usia kita hampir sepuluh tahun. Atau dapat info kalau anak saya sudah 3, jadi pasti saya sudah tua, hehehe. Atau mereka memanggil mas pada senior yang belum menikah dan pak pada yang sudah. Hmmm, soalnya ada juga yang usianya jauh, tapi tetep manggil mas juga. hihihi, fakta yang ngg penting amat…

sumber tulisan:
http://books.google.co.jp/books?id=Ni67E-mt-g4C&pg=PA78&lpg=PA78&dq=mencintai+muda+menghormati+tua&source=bl&ots=-PcP7HtTwg&sig=YJwrULkwbTY4-Bm9ducBi_Yjh1E&hl=id&sa=X&ei=xZhcUdHVNcm1iAfi9oCgBg&redir_esc=y#v=onepage&q=mencintai%20muda%20menghormati%20tua&f=false
http://www.stdiis.ac.id/index.php/akhlak/213-oranglebihtua

Pro Kontra Wanita Karir, Bagaimana Menurutmu?

Baru-baru ini , teman istri waktu bekerja di sebuah Bank Syariah mengirim BBM ke istri . Ibu fulanah, sebut saja begitu, ternyata baru saja resign dari bank itu setelah bekerja sekitar dua dasawarsa. Dia mengatakan `ternyata selama ini saya rugi ya, selama 20 tahun membantu suami mencari nafkah, sebenarnya hal itu tidak perlu. Selama kita bersyukur terhadap rejeki yang ada, Insya Allah cukup saja. Ternyata tidak sesuai pengorbanan meninggalkan anak-anak dengan hasil yang didapat. Agak kaget juga saya mendengarnya.

Saat ini menurut pengamatan saya, wanita bekerja di Indonesia semakin banyak sepertinya. Saya ingat ketika sumpah PNS baru di kantor, ternyata lebih banyak perempuan daripada laki-lakinya. Kantor saya yang berhubungan dengan minyak dan gas sebenarnya tidak umum diisi oleh wanita, karena isinya anak2 perminyakan, geologi, teknik kimia dan teknik lainnya. Ternyata dari jurusan-jurusan itu itu, yang masuk banyakan wanitanya. Entahnya, mungkin mereka berpikir kalau PNS cocok kulturnya dengan wanita, walaupun sekarang sering juga harus pulang malam.

Untuk masalah yang lumayan rumit ini, saya sampai 3 kali berubah pikiran. Pertama, sewaktu sekolah sampai selesai kuliah S1, saya pikir aneh sekali wanita yang mau jadi ibu RT. Bukan apa-apa, sayang ilmunya kalau tidak diterapkan, sementara pendidikan dari SD sampai bangku kuliah perlu pengorbanan waktu, pikiran, usaha, dan juga dana yang tidak sedikit. Apalagi kalau lulusnya lama kaya saya, hehehe. Saya ingat, di kantor saya yang lama (waktu saya belum menikah) pernah ada pengajian yang membahas hal ini dan terjadi diskusi yang cukup seru dari para Bapak yang punya istri hanya di rumah saja dengan para wanita karir di kantor itu. Dan saat itu saya termasuk yang pro wanita bekerja. Kasihan sekali kalau punya suami yang ingin istrinya cuma ngurus kasur, sumur dan dapur saja, begitu pikiran saya waktu itu.

Kedua, ketika saya menikah dan punya anak. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama, istri hamil. Saya sendiri masih punya pendapat istri harus bekerja, apalagi Bunda Zaki adalah lulusan UI, jadi pasti ada pengharapan keluarga di pundaknya. Saya ingat saat hamil 7 bulan, kita berdua ikutan tes CPNS dalam rangka ikhtiar mencari pekerjaan. Dan proses melamar pekerjaan itu berlanjut sampai anak pertama lahir.Saat itu saya baru kepikiran, lah yang jaga anak siapa? Orangtua? Kan sudah cape mendidik anak, masa harus mendidik cucu? Asisten RT? Sudah nyarinya susah, yang bagus pastilah terbatas dikarenakan tingkat pendidikan dan gaji yang tidak sesuai dengan beban kerjanya. (lihat saja status teman2 saat lebaran, pasti sibuk cari asisten baru.

Akhirnya saya berpikir, memang seharusnya isteri itu di rumah, yang berkerja biarkan suami-suami, namanya rejekikan ada yang menjamin. Selain itu, dengan single bread winner, si suami akan fight sekuat-kuatnya sehingga akan optimal dalam karir. Lagian kalau saya perhatikan, ada sebagian pegawai wanita yang kurang termotivasi untuk maju dalam berkarir, terutama terlihat kurang berkompetisi. Kalau masalah rajin sih iya, tapi kurang dorongan untuk berkarir, kalau begini kan mendingan full time mendidik anak-anak ya. Saya menduga hal ini memang sudah bawaannya wanita, makanya mereka yang melahirkan, bukan pria. Sense sabar mendidik adalah karakter dasar wanita, sedang kelebihan pria adalah kemampuan berkompetisi yang kuat, sehingga cocok untuk jadi bread winner. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Namun pendapat ini sedikit mengalami modifikasi setelah melihat ternyata ada juga wanita-wanita yang berpotensi jadi pendidik tapi juga leader. Bisa dilihat misalnya wanita sekualitas Sri Mulyani atau Evita Legowo (mantan Dirjen Migas), luar biasa gabungan dari kecerdasan,ketekunan ketegasan, passion namun juga keibuan yang melindungi anak-anak (buahnya) . Kalau kita termasuk berjodoh dengan wanita seperti ini, mungkin yang terbaik adalah mencarikan solusi untuk penjagaan anak, sebab potensi istri kita yang paling utama adalah karir. Kita dorong sekuat-kuatnya untuk berkarir, sebab bisa jadi itulah amal utama dari istri (dan tentunya keluarga ) yang akan bisa memudahkan kita masuk surga.

So, menurut saya wanita itu defaultnya jadi ibu pendidik anak-anak di rumah kecuali kalau terlihat jelas potensi yang luar biasa untuk berkarir dalam dirinya. Tentu ada baiknya berkarir dahulu sebelum punya anak, biar merasakan sulitnya mencari nafkah 🙂 Itu menurutku, wallahu’alam. Bagaimana menurutmu?

note:
wanita karir yang saya maksud disini yang full day ada di kantor ya, jadi tidak termasuk part time

Repotnya Jadi Orangtua

Sampai saat ini perjalanan paling merepotkan bagi saya adalah ketika harus bepergian ke luar negeri dengan membawa 3 orang anak (6,4 dan 2 tahun) dan seorang Ibu hamil disertai 3 buah koper super berat 30 inchi, dua tas gemblok yang full isinya, satu koper sedang dan perlengkapan lainnya. Memang 3 koper super size itu masuk bagasi, tapi tidak 2 tas dan koper sedangnya 🙂 Bukan cuma transit yang merepotkan, tapi juga pemeriksaan imigrasi, beberapa kali pindah shinkansen dan kereta local yang memusingkan. Perjalanan sekitar 16 jam Jakarta – KL – Osaka – Hiroshima City –Saijo harus melewati 3 pemeriksaan imigrasi, 2 kali ganti pesawat, 2 kereta bandara, 2 shinkansen, 2 kereta local dan akhirnya taksi. Bisa diterka kalau rombongan itu kena final call beberapa kali bahkan ketinggalan reserve shinkansen karena kesulitan memasukkan 5 karcis ke pemeriksaan otomatis. Belum lagi pada saat mendarat, harus menghadapi suhu di bawah 5 derajat yang berarti perlu baju tebal dan berlapis-lapis yang tidak bisa dipakai langsung dari Jakarta.

Rempong dah pokoknya, makanya tidak heran (walaupun saya kaget juga mendengarnya) ketika seorang teman dari negara berbeda mengatakan kalo dia tidak ingin punya anak karena tidak mau repot. Dia lebih suka punya tanaman dan selusin kura-kura yang dipeliharanya di apatonya. Mungkin ia melihat hidup ini dalam pandangan ilmu ekonomi, punya anak berarti mengurangi kualitas hidup yang seharusnya bisa dinikmati.

Dalam kerepotan di atas, saya jadi membayangkan riwehnya punya anak 8 seperti orangtua saya. Bukan cuma repot, mungkin juga malu. Saya ingat Ibu saya pernah bercerita, suatu hari karena tidak bisa menitipkan anak2nya, Ibu harus mengajak 3 orang anaknya ke sebuah arisan. Dalam perjalanan, beliau jadi ragu-ragu karena takut disangka ikut arisan bawa anak segerombolan berarti mau numpang makan, hehehe. Saya yang waktu itu paling besar mengatakan kepada beliau `Ibu malu ya ngajak kita? Nanti kalo kita sudah pada berhasil, kan Ibu bangga juga … Ibu saya langsung terkejut dan tersenyum gembira, karena saya waktu itu masih TK, kok bisa anak kecil bicara begitu. Saya sendiri tidak ingat cerita ini sampai beliau ceritakan, yang jelas sejak saat itu beliau tidak pernah merasa keberatan punya banyak keturunan.

Yang jelas menjadi orangtua itu sangatlah repot sehari-hari dan besar tanggungjawabnya, dan tantangan terbesar kita sebagai orangtua adalah jika kita bisa mendidik keturunan kita sehingga tercapai sesuai surat At Thur Ayat 21:
`Dan orang-orang yang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Ya, prestasi terbesar kita adalah jika kita mampu memastikan keturunan kita agar masuk surga sehingga bisa reunian di surga. Pekerjaan yang subhanallah, luar biasa berat. Gimana caranya? Seorang ustad mengatakan, salah satunya adalah mengamalkan hadis Nabi Muhammad SAW : “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ’Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. …. HR Tarmidzi

Jagalah Allah disini salah satunya menjaga kehalalan harta kita. Hmm, ekstra hati-hati untuk kondisi Indonesia ya sebagai negara terkuat se Asia Pasifik untuk korupsi (PERC: 2011). Dan juga bergabung dengan organisasi Islam yang berdakwah menyeru pada kebaikan, sehingga bisa sinergi dengan banyak orang untuk menegakkan kalimatullah di muka bumi. Insya Allah, kita akan senantiasa dijaga Allah seperti keturunan anak soleh pada kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir pada surat al Kahfi : 77 dan 82.
77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu

82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu;
Jadi, walaupun sudah wafat, Allah senatiasa menjaga keturunan orang soleh itu, karena waktu hidupnya orang soleh tersebut menjaga Allah. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk berkumpul bersama keturunan kita dalam jannah-Nya . Aamiin YRA.
—————————————————————–
Buat Nenek Muna yang sedang kurang sehat, semoga Allah menyembuh Nenek dan menghitung sakit sebagai pengurang dosa-dosa nenek …,
Buat Om Uji dan Tante Fika, semoga pernikahannya lancar ya, barakallahulaka wabaroka `alaika wajama`a bainakuma fii khoir

Salam sayang dari Utara,

Ayah, Bunda, Zaki, Hilwa dan Umar…

note:tulisan ini terinspirasi dari diskusi dengan Dr Agus Setiawan MA saat pengajian keluarga di Hiroshima

Hati – hati dengan Profesi

Suatu hari saya sempat heran saat menghadiri acara remaja masjid di suatu tempat. Sebelum acara tablig akbar di mulai dan ketika peserta sudah mulai banyak, panitia menjemput Ketua Masjid ke rumahnya. Yang menjemputpun lengkap, mulai dari ketua panitia, ketua remaja masjid dan sekretaris umum masjid. Selidik punya selidik, ternyata sang ketua adalah (mantan) birokrat sebuah kementerian. Pantes, pake harus dijemput segala, harus lengkap pula, emangnya masjid itu kantor apa? :-). Saya dengar juga, untuk mendapatkan tandatangannya harus melalui beberapa skrining, setelah dibuat ketua panita, dikoreksi oleh ketua remaja masjid, naik ke sekretaris dan setelah itu baru dikoreksi lagi oleh beliau. Waduh, gimana ngg lama tuh bikin satu surat aja.

Di kesempatan berbeda, saya pernah pula bekerja sama dengan seseorang. Saat itu kami ditunjuk menjadi KPPS, beliau ketuanya, saya yang paling muda menjadi penjaga tinta pemilu. Saat itu baru dimulai sistem pemilu dengan mencoblos partai dan caleg, sehingga kami semua belum berpengalaman bagaimana menjadi panitia yang efektif dan efisien.

Bayangkan, ada 48 partai dengan ratusan caleg, hasil pencoblosan itu harus didokumentasikan dengan baik dan tidak boleh salah. Menurut pikiran saya waktu itu, agar lebih cepat, rekap pemilu yang berbentuk seperti kalender tebal harus di bagi antara partai kuat dan lemah, partai yang kuat dipisahkan dan ditempel ke dinding, yang lemah dan kemungkinan dapat suara sedikit, dibiarkan saja dalam bentuk aslinya ditumpuk bersama yang lain. Ini akan menghemat waktu pencatatan, sebab mencatatkan 600 suara dalam bentuk kalender akan lama sekali, karena harus membolakbalikkan kertas untuk mencari partai dan nama caleg. Usulan ini saya sampaikan dengan jelas dan hati-hati, namun herannya tak ada tanggapan sama sekali. Bahkan tampangnya tidak berubah seolah tidak mendengar pendapat yang saya sampaikan.

Ternyata benar saja, diskusi dengan ayah saya yang jadi ketua di TPS sebelah ternyata juga menggunakan cara yang saya usulan. Bahkan mereka sudah mengerjakan terlebih dahulu administrasi pencatatan di berita acara yang makan waktu mengerjakannya. Alhasil , petugas KPPS TPS sebelah sudah di rumah jam 8 malam, saya baru selesai ngantri di kelurahan jam 4 pagi. 🙂

Pulangnya saya berdiskusi dengan ayah, kenapa kok sang Ketua sulit sekali ya menerima usulan? Dan bukan usulan saya saja, usulan beberapa panitia lain terkait pengaturan TPS pun tidak digubris. Ayah saya senyum-senyum saja sambil berkata, kamu tahu ngg sebelum pensiun, bapak A itu pekerjaannya apa? Beliau guru SD. Coba kamu bayangkan, kalau kamu guru SD, tiap tahun kamu akan bertemu dengan anak2 kecil, yang butuh bimbingan dan tidak tahu apa-apa. Pas mereka sudah agak besar, mereka pun lulus, jadi keseharian beliau jarang sekali bertemu dengan orang yang lebih pintar dan berpengalaman. Apalagi pekerjaan fungsional itu tidak pernah punya atasan, pekerjaan yang mandiri sehingga jarang sekali terpaksa memenuhi perintah/usulan orang lain karena ngg punya bos. Hal itu tentu tidak akan berpengaruh kalau sejak muda kita sering berorganisasi, tapi kalau tidak, tentu akan ada pengaruhnya, sedikit atau banyak.

Hmmm, betul juga, pantas saja…. Btw,siapapun kita, mudah2an tidak mendapatkan karakter negatif dari profesi kita. Mari dari sekarang kita upayakan untuk berorganisasi sesibuk apapun kita.

Wallahu’alam bishshowab

Santri Made in Japan

Terharu saya mendengar curhatnya seorang trainee yang akan ditinggalkan seniornya pulang ke Indonesia.

Dulu waktu di Indonesia, saya paling sholat seminggu sekali, itupun kalo lagi ingat. Maklum, latar belakang keluarga saya cuma Islam KTP, tau baik dan buruk tapi ngg mengerjakan ibadah secara taat. Pas ada kesempatan ke Jepang yang pertama kali saya impikan adalah mencoba rokok dan sake. Bandel dikit boleh dong, mumpung di luar negeri, kapan lagi nyoba yang asyik asyik, mumping punya duit. 🙂

Saat pembekalan di Indonesia dan sudah tahu akan diterima di perusahaan ini(sebuah perusahaan perkapalan), ada teman2 yang iri, katanya perusahaannya enak banget, gampamg sholat, dan gitu seniornya alim2, pada minta tukeran. Yang paling anehnya lagi, pas mau berangkat dan ketemu senior yg pulang, eh mereka malah nitip minta jagain musholla di kantor, emangnya kita marbot apa?Lagian, aneh banget nih, ada gitu perusahaan di Jepang punya musholla?

Pertama kali dateng dan masuk ke apato milik perusahaan, yang pertama kali ditanya senior, sudah sholat belum? Karena ngg enak hati, kamipun ikut sholat berjamaah. Besok paginya, subuh2 dibangunin subuh berjamaah, berat banget,wong ngg biasa sholat. Untungnya para senpai ngebimbing dengan sabar, jadi lama kelamaan, terbiasa juga bangun pagi dan sholat 5 waktu. Bahkan sekarang alhamdulillah  Insya Allah 5 waktunya sudah mantap, bahkan subuh seringkali saya sudah bangun duluan dari senpai :-). Mohon doanya agar kami yang ditinggalkan para senior sekalian bisa istiqomah. Sake ngg jadi ngerasain, malah Sholat jadi nikmat. Terima kasih atas bimningan para senior dan para mahasiswa sekaliam, semoga Allah SWT membalas kebaikannya.

————————————————–

Senang sekali mendengar orang dapat hidayah, bukannya di Indonesia yang masjidnya gampang ketemu, malah disini yang susah cari masjid. Jadi ingat, dulu ketika diajak keliling ke kantong2 para trainee asal Indonesia, saya sempat bertanya, apa kelebihannya dakwah disana? Kita bahkan harus ke daerah2 yg jauh, kadang isinya cuma berapa orang, sepertinya tidak  sebanding dengan tenaga dan ongkos yang harus keluar dari kocek sendiri. Padahal waktu liburan, keluarga juga butuh perhatian kita, target paper juga membutuhkan curahan pikiran dan tenaga, kita juga butuh istirahat. Pergi total kadang 400-500 km dalam semalam pasti perlu tenaga,dana, dan pikiran. Belum persiapan materi yg akan disampaikan.

Jelas, kata beliau, ‘menyirami’ keimanan diri sendiri dan orang lain bukan usaha yang mudah dan murah. Dan hasilnya sungguh sangat indah, Insya Allah, akan meluluskan diri sendiri dan orang lain dari pesantrennya Jepang. Ya, santri made in Japan, Insya Allah