Dodo dan Syamil

Salah satu film kartun anak-anak yang bagus banget itu Dodo dan Syamil (lupa judul aslinya apa, ingetnya tokohnya aja).  Misal, dalam salah satu episode, Syamil dan Dodo kejar-kejaran ke kuburan, kemudian ngg sengaja ketemu rombongan yang sedang menguburkan anak kecil. (Agak lupa dialognya, intinya sbb)

Dalam film itu Dodo bertanya ke seorang Kakek tua yang ada di rombongan itu

Dodo : Innalillahi wainna ilaihi roojiun, Kek, siapakah yang meninggal?

Kakek : Itu cucu Kakek nak

Dodo : Astaghfirullah, kok cucu Kakek meninggal duluan Kek?

Disinilah masuk pesan film kartun ini

Kakek : Nak, ajal itu tidak mengenal usia, kadang masih kecil sudah kembali, kadang masih muda, kadang sudah usia seperti Kakek. Tidak selalu yang tua yang meninggal terlebih dahulu.

Dodo : Oh gitu ya Kek.


Ingat waktu itu nonton ini bareng Zaki dan Hilwa, mereka ngangguk-ngangguk.

Zaki   : Berarti Zaki bisa meninggal lebih dahulu dari Ayah ya?

Saya   : Iya,semua sudah ditentukan…


 

Usia kita semua sudah ditentukan 50 rb tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.  Umur kita tidak bisa memanjang, seperti nyanyian saat ada perayaan ulaang tahun. Yang bisa adalah memperbanyak amal sholeh yang dampaknya melampaui usia kita. Misal, di kantor ada sistem yang buruk, kemudian kita mengubahnya, maka amal sholeh kita tetap ada selama perubahan itu tetap bertahan, dan mungkin saja melampaui usia biologis kita.

Banyak tokoh-tokoh besar seperti misalnya Imam Nawawi yang usianya hanya mencapai 40 tahun, namun usia kebaiakannya jauh melampaui usia biologisnya dengan karya-karyanya yang luar biasa melintasi milenia.

Itulah sebabnya saya suka menulis di blog, dalam usaha agar  usia kebaikan bisa melampaui usia saya, walau secara bakat, menulis bukanlah keahlian saya (keliatan kan kualitas tulisan saya, hehehe) , namun yang terpenting keep writing, keep sharing…


Ditulis dalam sedih pada perjalanan Gambir – Pekalongan, bertakziah ke keponakan saya Hafhshah yang kembali kepangkuan-Nya kemarin siang. Innalillahi wainna ilaihi roojiun, semoga Umi dan Abi Hafshah chan diberi kesabaran dalam menerima ketentuan ini dan kelak bertemu di Jannah-Nya. Aamiin YRA.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s