Karir Birokrat, Birokrat Karir : Cerita Tentang Assessment

Career

Awal Januari 2018 ada WA masuk dari teman Biro Kepegawaian, ngasih tahu kalau besok pagi diminta ikut assessment. Hmm, agak males juga sebenarnya, saat itu lagi PW di perpustakaan UI, ngerjain “PR” yang satu itu. PR yang bikin cuti tahunan habis di satu bulan saja.

Apalagi waktu itu lagi nunggu hasil inpassing ke Analis Kebijakan Muda, suatu fungsional anyar yang menarik juga, mengingat pekerjaan dan jurusan kuliah udah sesuai banget. Mayan, salah satu cara biar grade 7 berubah jadi grade 9 , grade yang ngg akan berubah kalau kita masih staf alias fungsional umum. Ditambah lagi pas wawancara yakin banget bakal lulus (hahaha PD amat ya), abisan pewawancara yang harusnya tanya CV malah “konsultasi” bagaimana pengalaman menggunakan data sekunder Indonesia, soalnya dia lagi mau neliti tentang sesuatu dan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan di Indonesia. Well, mungkin itu juga bentuk wawancara juga sih, cuma stylenya unik juga.

Setelah mikir-mikir, ya sudahlah, jalani saja, itung-itung menjawab penasaran juga, binatang apa itu assessment. Tanya kiri kanan, teman-teman yang sudah ikutan duluan, biar kebayang prosesnya.

Yang jelas ASN jaman now, trendnya adalah karir ditentukan sama tes yang namanya assessment, bukan lagi kedekatan, kesamaan gerbong dan grup-grup lainnya. Saya sebut trend karena ngg semua juga sih, tergantung tempatnya juga. Tapi kalau dibandingin dengan tempat lain, ESDM mungkin termasuk yang terdepan, karena eselon 4 pun, which is jabatan terendah, menggunakan assessment ini tanpa ada intervensi hasilnya. Gampangannya, kalau dari konsultannya bilang dari 5 kandidat hasilnya adalah si A nilai tertinggi, maka yang diambil ya si A, tanpa melihat lagi hal lainnya. Wallahu’alam apakah semurni itu, tapi menurut saya sih idealnya memang begitu.

Lanjut ceritanya….

Jadi hari itupun berangkat pagi ke UI Salemba, ke sebuah lembaga manajemen. Setelah isi ini itu tentang data pribadi, tes pun dimulai. Ada 2 modul utama, sebut saja gitu: Modul  semacam TPA, dan modul wawancara.

MODUL TPA

Modul TPA standarlah, ada series, terus logika, dan diakhiri hitung cepat. Nah disini ternyata sempet2nya bikin kesalahan konyol, salah baca perintah pada salah satu submodul. Standarlah TPA itu waktunya terbatas dan tidak boleh mengerjakan satu sub modul yang lain , apabila sudah selesai di sebuah submodul. Ya tunggu aja sampai disuruh ngerjain submodul selanjutnya.

Nah pas ngerjain sub modul 2, ada 30 soal yang harus dikerjakan, nah saya entah kenapa bacanya cuma ada 20 soalnya.  Jadi ya ngerjain aja itu 20 soal, pas soal ke 20 selesai sebelum waktunya,  seperti biasa balik ke nomor 1, kali aja ada yang salah ngitung.

Pas psikolognya bilang lanjut pada submodul 3, baru kelihatan kalau ada 10 soal yang belum dikerjain, bahkan belum dibaca sama sekali. Perasaan jadi nano-nano antara kesel, merasa bodoh, kok bisa dll. Kepikiran juga mau ngerjain balik sub modul 2, tapi ah itu kan ngg boleh, ya anggap saja assessment kali ini  percobaan pertama. Cuma tetap aja pas ngerjain sub modul berikutnya jadi ngg konsen, karena kesel sendiri. Bukan apa-apa, sepanjang ikutan ujian dari jaman SD, mulai dari perkenalan ujian pakai pensil B2 yang waktu itu teknologi baru, belum pernah ada kasus salah baca perintah. Usia ngg bisa boong kali ya, hehehe. Kebayang deh, TPA yang harusnya diharapkan bagus jadi pupus.

MODUL WAWANCARA

Setelah TPA, masuk ke modul wawancara Di bagian ini ada isian yang kita kerjain, 2 wawancara dengan psikolog dan narasumber dan 2 FDG. Isian itu terkait pekerjaan yang selama ini kita kerjakan dan kepribadian kita sendiri (biasalah gambar orang, pohon dll), sedang wawancara cukup lama juga, yang dengan psikolog sekitar 1 jam, nara sumber 1/2 jam. Isian itu ngerjainnya pas lagi ngg ikutan FGD dan wawancara.

Isian yang kita bikin akan  dikonformasi dalam wawancara. Ada pertanyaan integritas, keberhasilan yang paling top yang kita capai dll. Karena isian ada bentuknya angka, mungkin akan lebih baik kalau pencapaian kita dapat kita kuantifikasikan. Ada beberapa pertanyaan lain sih, tapi lupa isinya apa 😀

FGD

Di bagian ini ada diskusi bagaimana mengimprove kegiatan di tempat kita dan juga simulasi membuat bangunan bersama teman2. Mungkin dilihat kemampuan komunikasi dan kemampuan memimpin diskusi.

WAWANCARA DENGAN PSIKOLOG

Ada beberapa bahasan wawancara, ngg inget semua kecuali integritas dan pencapaian pribadi. Untuk integritas, saya menceritakan pengalaman pribadi ketika bekerja di suatu tempat (jyah rahasia amat ya). Intinya, saya dan teman-teman bikin surat ke atasan, tentang perlunya menyetop sebuah kegiatan yang kurang efektif,nilainya gede banget,  tapi sudah ada bertahun-tahun berjalan , dengan hasil yang kurang jelas. Uniknya, kami bikin surat ke atasan dengan tembusan ke atasannya lagi, which is agak2 nekat dan kurang ajar juga sih, hahaha. Alasannya, jaman now,  ngegerundel di belakang itu ngg gentlemen, bikin surat itu keren dan formal. At least , kalau ada apa2 di kemudian hari, kami yang cuma remahan rengginang di kaleng Khong Guan berkarat bisa bilang we have done our best. Dan karena entah kenapa kegiatan itu akhirnya distop untuk tahun berikutnya, jadinya saya bisa claim penghematan sekian M adalah hasil dari usaha saya dan teman2 tersebut.

Untuk pencapaian pribadi, saya ngeclaim bahwa konversi minyak tanah itu ada kontribusi pribadinya, padahal mah kecil banget wong cuma remahan rengginang di pojokan kaleng Khong Guan berkarat. Cuma berhubung program itu bisa menghemat lebih dari Rp. 200 T, yah bisalah diakui.

Pertanyaan2 lain agak lupa karena lumayan banyak juga….

WAWANCARA DENGAN NARASUMBER
Dibagian ini ditanya-tanya tentang job desc dan improvement yang dapat dilakukan di bagian yang sekarang. Juga ditanya tentang kesiapan apabila ditempatkan di satu posisi. Agak kaget juga ketika tahu mau ditempatkan disitu. Jujur saya bilang, ada posisi lain ngg? Soalnya waktu mutasi staf aja saya ngg mau ditempatkan di situ, soalnya terlalu teknik, kurang inline dengan latar belakang pendidikan. Kali aja bisa milih, terus pewawancara ngasih list posisi  yang lowong. Dengan PDnya saya bilang, bisa ngg yang ini aja, sambil nunjuk salah satu posisi di list yang ada, yang kira-kira agak sesuailah dengan pendidikan.

Pas hasilnya diumumkan sih saya surprise, soalnya udah salah ngerjain tapi kok bisa lolos. Mungkin itu yang namanya takdir….Yang jelas mekanisme jenjang karir dengan assessment ini bagus banget, transparan. Selain itu, dengan adanya fungsional semacam Analis Kebijakan bisa membuat alternatif career path bagi PNS yang kurang merasa cocok di struktural. Namun, ngobrol-ngobrol sama teman2 di grup PNS (asal) UI,ternyata belum umum assessment yang saya alami; masih banyak yang formalitas saja. Tapi pastinya trend akan ke arah sana, demi birokrasi yang punya kompetensi, berintegritas dan melayani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s