Ta’aruf Sekompi

tausiyah_1

Ada masa dimana saya punya teman2 liqo yang luar biasa dekat. Mungkin karena sebagian besar anggota berasal dari alumni SMA yang sama, usia sama atau cuma 2, 3 tahun berbeda ,berkarakter mirip dan sudah bertahun-tahun dalam satu kelompok liqo. Salah satu moto kami waktu itu adalah, murobbi boleh ganti-ganti, tapi kita bersepuluh ini harus tetap bersama.  Saking akrabnya, banyak hal yang tidka lazim kita lakukan bersama, misalnya, kalau ada salah satu dari kita yang sedang “penjajakan” atau ta’aruf dengan calonnya, maka yang ikut adalah semuanya.

Ya, sedikit aneh ya, kalau teman liqo ikutan lamaran, atau ikut bantu2 saat akad atau resepsi mah sudah biasa ya, lah ini ta’aruf aja semua ikutan. Dan biasa, murobiyyah sang akhwat standarnya pasti bingung melihat kedatangan rombongan yang 10 orang itu, ini yang mau taaruf yang mana? Kok rame2 gini, nanti saat tanya jawabnya apa ngg malu ya, jadi banyak yang tahu. Untungnya murobbi kami asyik orangnya (sebenarnya kami ragu, antara asyik atau terpaksa), beliau biasanya senyum-senyum aja mendengar ‘komplain’ dari murobiyyah.

Suatu hari salah seorang dari kami bertaaruf dengan calonnya, dan sebagian besar dari kami pun ikut serta. Namun melihat rumah yang dituju cukup sempit, saya dan beberapa teman mengurungkan niat ikut masuk ke rumah dan memilih menunggu di dalam mobil. Setelah selesai, teman saya yang taaruf tadi dan teman2 yang lain kembali ke mobil dan kami pun pulang. Karena penasaran, saya yang tidak ikut pun bertanya, gimana taaruf hari ini.

Saya : “Eh, gimana tadi, pertanyaan nya susah ya, kok muka ente kayak menyimpan sesuatu?”, tanya saya ke teman yang taaruf. Wajah teman saya ini masih galau gimana gitu

Teman : “Pertanyaan standar sih, alhamdulillah lancar. Tapi…

Saya     : “Tapi apa?”

Teman  : “Tadi kan kita masuk bareng2 yaa, eh saya pas kebagian tempat yang ngg bisa ngelihat wajahnya,” katanya agak-agak sendu

Saya : “Wkkwkwkw, kok bisa?”

Teman : “Ya, kan pas datang, kita main duduk2 aja, ngg menyangka kalau salah posisi begini.”

Saya : “Terus gimana dong?” Ada yang lihat langsung?”, ujar saya sambil memandang teman2 yang lain.

Teman no 2: Ane yang tepat di depan dia, manis kok orangnya, tenang aja,” sambil senyum2 ngg jelas

Saya : “Tuh udah ada testimoni, aman lah. Jadi mungkin ngg jauh lah sama biodata yang ente dapet,” kata saya menenangkan

Teman : Masalahlah, biodata yang kemarin itu fotonya kecil amat, 3 x 4, ngg jelas wajahnya

Saya : Waduh….

Andaikata 15 tahun lalu itu sudah ada facebook, paling ngg friendster lah, masalah ngg jadi rumit begini.

————————

 gambar diambil dari http://saungkertas.com/wp/tentang-penolakan-taaruf/

Tulisan lain tentang ta’aruf

https://luthfiti96.wordpress.com/2014/08/09/taaruf-salah-kostum/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s