Pengemis dan Songkok Hitam

Assalamu’alaikum brother. Are you Indonesian ? Please help me,  I am student from Palestine and I need some help. I need some money to continue my study here.

Saya orang yang paling males ketemu yang namanya pengemis, even di Indonesia. Kalau berangkat ke kantor naik Busway turun di Kuningan Madya, maka jika nyebrang ke arah gedung Bakrie akan menemui seorang pengemis wanita dengan anak bayinya. Tampangnya meyakinkanalias melas dan tulus banget.Ngg heran banyak sekali para pekerja yang kasihan dan memberi sekedarnya. Untuk hal yang begitu aja saya ngg tergerak, soalnya si pengemis hampir tiap pagi nongkrong di sana dan itu anak bayinya diam aja, ngg rewel. Well, anak saya empat dan termasuk ngg rewel, tapi pastilah ada gerak2nya  juga, masa diam aja. Jangan2 dikasih obat? Ah sudahlah…

Tapi si brother dari Palestine ini meminta di dalam Masjid Rasulullah yang mulia, Masjid Nabawi, masa dia bohong sih?Hmmm…

Mau bilang ngg bawa uang, dompet ada di kantong. Mau bohong, kok ya gimana gitu, ini baru hari pertama tiba di tanah suci dah gitu di masjid Nabi pula.

I am sorry brother, I need to discuss with my wife first. Ngg bohong, tapi menunda jawaban.

Do you have money in your pocket? I accept rupiah also, jawabnya agak kurang sabar.

Hmmm, jawaban saya membuatnya agak marah. Eh, bentar, kenapa dia tahu saya dari Indonesia ya? Oh, peci dari mertua saya berwarna hitam jadi penanda. Pantesan aja,hmm, alhamdulillah kalau gitu, orang Indonesia terkenal pemurah. Pecinya sekarang sudah jarang dipake sih  karena kesempitan. Saya itu berbadan kurus tapi besar kepala, eh berkepala besar, jadi yang dititipin beli peci salah perkiraan.

Kembali lagi, dalam hati berpikir, kalau dia bener mahasiswa yang lagi kesulitan gimana ya? Well, kasih jawaban gantung aja biar menguji dia juga. Kalau dia bener2 mahasiswa yang kesulitan, tentu punya akhlak yang baik.

So brother, can you donate your money? ujarnya makin sabar dengan muka marah. Saya diam saja dan kembali mengatakan ” I am sorry brother, I need to discuss with my wife. Saya menunggu jawaban dari dirinya ” OK brother, I will wait.

Tapi ternyata tidak, muka ramahnya ketika pertama kali memberikan salam menjadi muka marah dan pergi tanpa mengucapkan salam.

Ah, semoga dia benar penipu, dan kalau pun bukan, at least saya tidak berbohong.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s