Memahami Argumentasi Kwik Kian Gie Mengenai Subsidi BBM. Tepatkah untuk kasus Indonesia?

KKG

Seperti biasa kalau lagi ramai-ramai membahas kenaikan harga BBM, salah satu referensi paling favorit adalah argumentasi Pak Kwik Kian Gie. Pak Kwik merupakan sumber referensi terpercaya, ekonom ternama, kolumnis koran terkemuka dan juga mantan Menko Perekonomian 1999 -2001 dan Kepala Bappenas 2001 – 2004.

Untuk membahas pendapat Pak Kwik, saya merefer ke tautan berikut

http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm/

Ada 2 poin saja yang ingin saya bahas, hitungan subsidi dan pandangan tentang kekayaan alam dan subsidi.

1. Kalkulasi Subsidi

Hitungan Subsidi Menurut Kwik Kian Gie

Seperti tabel di atas, Pak Kwik menghitung, bahwa ada BBM Subsidi sebanyak  63 Milyar Liter itu terdiri dari produk yang berasal dari minyak mentah yang diolah Pertamina dan Import dengan total (termasuk biaya pengolahan dan keuntungan) senilai Rp. Rp.410,13 T. Maka selisihnya dengan penjualan Pertamina sebesar Rp. 283.5 T adalah sebesar Rp. 126,63 T yang beliau sebut subsidi versi Pemerintah. Hitungan ini hitungan intuitif yang bisa menggambarkan apa yang terjadi dilihat dari mata Pak Kwik, walau hitungan subsidi tentu harus terlebih dahulu dikurangi pajak (10 % PPN, 5 % Pajak Jalan). Jadi hasil penjualan Pertamina bukanlah 63 milyar liter dikali Rp. 4500, tapi 63 milyar liter dikali Rp. 3903 menjadi sebesar Rp. 246 T.  Namun tentu ini tidaklah berbeda jauh sebab hitungan ini mencoba menyederhanakan apa yang terjadi sebenarnya dengan maksud mengurangi kerumitan.

Yang agak berbeda jauh  adalah perhitungan bahwa seluruh minyak mentah adalah milik pemerintah, sementara yang terjadi sebenarnya adalah, ada bagi hasil antara kontraktor dan Pemerintah. Secara mudahnya, setelah hasil itu dikurangi biaya-biaya (cost recovery) maka dibagi dua antara kontraktor dan Pemerintah. Namun hitungan ini pun akan bisa tertutupi bila kita memasukkan pendapatan gas, komoditi energi yang makin melambung dan produksinya pun lebih banyak dari migas. Untuk 2015, misalnya, asumsi produksi minyak  adalah 845 ribu barel perhari sedangkan lifting gas bumi  lebih besar yaitu 1,248 juta barrel setara minyak bumi.

 Yang menjadi menarik adalah ketika beliau memasukkan nilai pendapatan migas itu ke dalam perhitungan, dan disinilah letak perbedaannya. Apakah Pak Kwik salah? Menurut saya tidak, ini tergantung kita mendefinisikan apa itu subsidi. 

Sementara dari pendapat yang lain yang lebih sering dipakai adalah membedakan pos pendapatan dan pengeluaran. Misal, target pendapatan migas tahun 2015 adalah sebesar Rp. 326 T sedangkan perkiraan subsidi BBM adalah Rp 276 T, bukan berarti kita untung karena masih ada selisih Rp.50 T, karena terdiri dari dua pos yang berbeda. Penyatuan pos versi Pak Kwik disini mungkin sebagai akibat karena beliau menganggap subsidi BBM itu adalah bentuk dari natural resource distribution, yang akan dibahas di point 2.

2. Pandangan Mengenai Kekayaan Alam dan Subsidi

Ada dua tujuan subsidi energi pada umumnya, yang pertama ialah natural resource distribution alias bagi- bagi  kekayaan alam ke rakyat; biasanya dilakukan negara-negara penghasil energi. Inilah prinsip yang dipakai Pak Kwik dalam hitungan di atas, sehingga penjualan minyak mentah dalam negeri dihitung menjadi pendapatan yang kemudian akan dijumlahkan dengan subsidinya.

A.Natural Resource Distribution

Pandangan natural resource distribution ini terlihat dari kutipan harga BBM yang ada di tulisan beliau, ketika ada yang bertanya, apakah ada negara yang harga BBMnya lebih murah dari Indonesia, yaitu negara2 kaya minyak seperti tabel di bawah ini, yang sudah saya lengkapi dengan tambahan keterangan.

jumlah penduduk

Tabel ini saya tambahkan bukan cuma harga BBM, tapi juga reserve minyak di masing-masing negara per capita. Nah, kalau dilihat, Indonesia cuma punya cadangan 17 barrel per orang, sedangkan Kuwait misalnya memiliki cadangan 26 000 barrel per orang. Dengan kata lain, Kuwait 1500 kali lebih kaya dari Indonesia.  Dibandingkan dengan Bahrain saja yang paling ‘miskin’ minyaknya, 96 : 17, alias 5 kali lebih kaya dari Indonesia.. Jelaslah alasan mengapa negara-negara itu bisa memberikan harga BBM murah, karena prinsipnya adalah mereka negara kaya minyak yang bagi-bagi kekayaan alamnya ke masyarakat. Lah Indonesia, apa yang mau dibagi? BBM aja sudah impor 40%.

B.Income redistribution

Alasan pemberian subsidi yang kedua adalah income redistribution,pembagian kekayaan dari orang kaya ke orang miskin. Nah, ini yang tidak disinggung Pak Kwik, padahal efektifitasan subsidi itu harus diukur dan biasanya dihitung seberapa besar subsidi yang diterima oleh orang miskin (Rao,2012) . Ternyata banyak survey membuktikan kalau subsidi BBM ini yang paling sering nyasar, maunya lebih banyak ke orang miskin,  eh malah nyasar ke golongan orang mampu.

Misalnya disini, gambaran distribusi dari subsidi BBM tahun 2007 berdasarkan Susenas.

distribusi pendapatan
(Agustina et al,2008)

Terlihat jelas, kalau orang Indonesia dibagi 10 golongan dari yang paling kaya ke yang paling miskin, ternyata lebih dari 45% subsidi BBM itu dinikmati oleh golongan terkaya. Kok bisa? Alasannya jelas, yang punya kendaraan itu orang kaya, bukan orang miskin. Anggaplah subsidi itu 200 Triliun, maka akan terdistribusi ke 24 juta orang terkaya sebesar 45% x 200 T = Rp. 90 T, sehingga masing-masign mendapat  3.75 juta per tahun per orang. Bandingkan dengan bagian yang paling miskin, misal cuma mendapat 1%, maka income redistributionnya cuma mendapat Rp 83 ribu per orang pertahun.

Wow, 24 juta orang paling kaya dapat Rp.3.75 juta, 24 juta orang paling miskin cuma dapat Rp83 ribu, adilkah subsidi seperti ini?

KESIMPULAN

1. Pandangan Pak Kwik itu cocok bila diterapkan ke negara kaya sumber daya alam sesuai prinsip natural resource distribution. Dan Indonesia bukan negara kaya minyak, sudah net impor sejak 2003, keluar dari OPEC sejak 2008 dan sekarang 40% nya impor dari luar, jadi apa yang mau dibagi? Hitung-hitungannya pas untuk Arab Saudi, Iran, Kuwait dan negara kaya minyak lainnya.

2.Selain itu, pendistribusiannya pun ternyata lebih dinikmati orang kaya. Tentu sangat disayangkan, apalagi nilainya sangat besar.

Jadi,apakah tulisan Pak Kwik tepat untuk menjadi referensi untuk menolak kenaikan harga BBM di Indonesia? Tentu terserah pembaca sekalian …

referensi :

Agustina, C, et. el. (2008), Black Hole or Black Gold?  The Impact of Oil and Gas Prices on Indonesia’s Public Finances, Policy Research Working Paper 4718, The World Bank

Rao, Narasimha D. “Kerosene subsidies in India: When energy policy fails as social policy.” Energy for Sustainable Development 16.1 (2012): 35-43.

Wikipedia (Oil reserve, population)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s