Evaluasi PKS Pasca Pemilu 2014

pks

Menarik sekali membaca tulisan Sapto Waluyo mengenai PKS dan Jebakan Partai Menengah yang dimuat di media online Detik.com edisi 22 April 2014. Menarik, mungkin selain ini adalah evaluasi pertama dari internal PKS setelah kenyataan pemilu 2014 gagal mencapai 3 besar, tulisan ini juga menggunakan istilah ekonomi yang sedang hangat untuk menjelaskan fenomena politik, yaitu Middle Income Trap. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berpendapatan menengah (Afrika Selatan dan Brazil misalnya) yang  terperangkap, tidak bisa meningkatkan kesejahteraan lebih baik lagi untuk bergabung dengan negara berpendapatan perkapita tinggi.

Namun bagi saya, ada argumen yang terasa mengganjal sebab PKS bukan cuma partai politik, namun juga partai dakwah. Sepertinya evaluasi dari Sapto Waluyo tepat berlaku untuk mengevaluasi partai politik lain, tapi tidak untuk PKS. Bagi partai dakwah, kesuksesannya  diukur dengan kemampuannya menjadi bagian dari solusi bagi permasalahan bangsa, sedang partai biasa, kesuksesannya mungkin bisa diukur dari pencapaian jumlah kursi semata. Maka lebih tepat, dasar penilaiannya adalah apakah PKS sudah menjadi bagian dari solusi atau malahan bagian dari permasalahan? Dan itu tidak selalu berhubungan dengan jumlah kursi. Mengapa? Karena tidak berarti di luar PKS tidak punya arah perjuangan yang sama.Sebagai contoh partai-partai  Islam yang tahun ini sukses mendapatkan total lebih dari 30% suara. Bisa dilihat dari polarisasi saat pembahasan UU berbau Islam seperti UU Perbankan Syariah, UU Sisdiknas, UU Pornografi, UU Zakat, UU Jaminan Produk Halal, maka partai-partai Islam biasanya punya satu suara. Jadi, menurut saya, PKS tidak wajib menjadi partai besar, selama nilai-nilai Islam bisa berjalan dan konsep-konsepnya bisa diadaptasikan ke negara. Contoh lain adalah fenomenalnya PKS tahun 1999-2004, walau cuma mengirimkan 7 anggota DPR dan tidak lolos ET, namun kisah perjuangannya sangat menginspirasi seperti yang termuat dalam buku Helvy Tiana Rosa, `Bukan di Negeri Dongeng`.

Untuk menilai apakah PKS sudah menjadi solusi bangsa, perlu didefinisikan terlebih dahulu, apa masalah utama bangsa dan mencapainya.

KORUPSI MASALAH UTAMA BANGSA

Baru-baru ini Presiden SBY mengumumkan bahwa Indonesia baru saja masuk 10 besar ekonomi dunia berdasarkan perhitungan GDP berbasisPurchasing Power Parity. Tidak tanggung-tanggung, sukses menyalib enam negara mapan seperti Canada, Spanyol dan Korea Selatan. Dengan kata lain ekonomi bukanlah masalah utama negara kita.

Namun ketika kita melihat indeks persepsi korupsi, maka kita akan bersedih. Belum ada peningkatan yang berarti, tahun 2012, Indonesia masuk peringkat 118, sementara tahun 2013 tidak banyak berubah menjadi peringkat 114. Dan kita bisa perhatikan kasus-kasus yang terjadi, semakin banyak saja para petinggi negara ini yang `ketahuan` terlibat korupsi. Mulai dari Dirjen, Menteri, Ketua Partai, Ketua MK, Ketua BPK, Kepala SKK Migas dan banyak Bupati/Walikota/Gubernur yang meringkuk di penjara karena terlibat kasus korupsi. Itu yang ketahuan, bagaimana yang belum ketahuan?

indonesia_2

Dan kenyataan saat ini sebenarnya jauh lebih buruk dari Jaman Soeharto dulu. Dalam buku best sellernya, The Elusive Quest for Growth, William Easterly secara khusus memberikan contoh kasus perbedaan korupsi sentralistik dan desentralistik dengan contoh Indonesia era Soeharto. Korupsi sentralistik adalah korupsi dengan komando dari pemimpin tertingginya. Si bos besar `mematok` rate korupsi dan `mengalokasikannya`  ke bawahan-bawahannya. Salah satu patokan mematok rate tadi adalah semacam menentukan nilai korupsi tertentu sehingga korupsi bisa lancar, sementara pembangunan tetap jalan.. Sedangkan korupsi desentralistik, setiap orang korupsi tanpa komando sehingga cenderung memaksimalkan rate masing-masing. Akhirnya, dampaknya lebih brutal dari pada sentralistik korupsi.  Indonesia Era Reformasi saat ini sepertinya contoh yang cukup mewakili. Jadi istilah Isih Penak Jamanku ada benarnya juga dalam hal korupsi di negara kita tercinta.

Ada juga yang beranggapan, bahwa masalah utama bangsa adalah kesenjangan ekonomi dan kemungkinan disintegrasi bangsa. Namun menurut hemat saya, untuk membahas peran yang harus diambil PKS, maka perlu ditetapkan cukup satu prioritas (terpenting dari yang penting) dan satu Indikator Kinerja Utama, sehingga bisa fokus dan tepat sasaran.

Dan isu korupsi ini sangatlah hangat di masyarakat. Bisa dilihat bagaimana seorang kader PKS yang juga Gubernur Jawa Barat memiliki prestasi luar biasa, peraih ratusan penghargaan di berbagai bidang. Tapi apakah itu menjual? Ternyata tidak. Jadi, bukan penghargaan yang dianggap masyarakat hal yang terpenting, karena sudah banyak kepala daerah berprestasi, tapi bagaimana mengatasi korupsi lah yang paling mendesak untuk dicari jalan keluarnya.  Sehingga menurut saya, evaluasi bagi PKS adalah apakah PKS sudah punya peranan terhadap pemberantasan korupsi atau belum.

PKS DAN PEMBERANTASAN KORUPSI SAAT INI

Salah satu yang membuat nama PKS tercoreng adalah kasus korupsi sapi impor yang melibatkan Ketua Umumnya. Banyak yang berpendapat kasus ini banyak hal ganjil, mulai dari hukuman yang tinggi sekali, belum ada perubahan kebijakan yang berhasil dipengaruhi maupun banyaknya publikasi di luar kasus utama. Namun di sisi lain, tentu sekali sebagai partai dakwah, PKS paham betul, korupsi adalah salah satu dosa besar. Kalaupun pembelaannya bahwa ini adalah jebakan, namun pertanyaannya,  apakah logis ada kader PKS  yang bersahabat dengan makelar APBN dan perijinan? Selain itu juga wajib dievaluasi, sejauh mana sistem pengawasan internal dari tubuh partai sendiri sehingga tidak bisa mendeteksi apa yang dilakukan Ketua Umumnya.

Namun, untungnya PKS terselamatkan oleh kenyataan, walaupun punya kasus korupsi, namun terbilang sangat kecil untuk ukuran sebuah partai menengah. Tapi sekali lagi karena PKS partai dakwah, maka para konstituen tentu berharap zero corruption untuk PKS.

Selain kasus tadi,  ada juga celotehan dari petinggi PKS Fahri Hamzah bahwa KPK perlu dibubarkan. Bagi saya celotehan ini tidak saja menjelekkan PKS, namun diluar logika. Mari kita lihat.

kpk vs pks

Fakta 1: PKS partai paling kecil korupsinya

Fakta 2: KPK lembaga penegak hukum yang paling kredibel

Fakta 3 : PKS berniat membubarkan KPK.

Apa motivasinya partai terkecil korupsinya ingin membubarkan lembaga paling kredibel? Orang boleh saja mengatakan KPK tebang pilih,  tapi jika dibandingkan penegak hukum yang lain, KPK jauh lebih terpercaya. Jadi kenapa ngg lembaga hukum lain yang dibubarkan?

Dua hal tadi tentu menjadi batu sandungan bila PKS mengharapkan bahwa dirinya menjadi solusi bagi bangsa, bukan bagian dari masalah bangsa. Perlu evaluasi mendalam di internal PKS, bagaimana pengawasan terhadap perilaku korupsi di PKS dan bagaimana mengkomunikasikan gagasan ke masyarakat secara tepat.

PKS PASCA PEMILU 2014

Bagi saya ada 3 hal yang bisa dilakukan PKS menjawab tantangan bangsa

1. Jadikan Indonesia bebas korupsi menjadi visi partai

Sejak awal saya merasa heran, mengapa jargon bersih, peduli, profesional berubah menjadi cinta kerja dan harmoni. Jargon lama sebenarnya lebih nyata dan menjawab permasalahan bangsa, sementara jargon kedua abstrak luar biasa. Coba dicek, sebenarnya kampanye kader PKS di media banyak mengangkat keunggulan PKS yaitu terkecil dalam keterlibatan korupsi, karena memang itu competitive advantagenya PKS dibanding partai lain.

2. Buat Target Skala Nasional

PKS harus bisa memimpin Indonesia untuk mencapai indeks korupsi yang makin kecil dan itu menjadi indikator kinerja utama di pemerintahan pusat dan daerah dimana PKS ada di dalamnya. Dari pada bikin target PKS Menuju 3 besar, maka akan lebih bermakna misalnya kalau PKS punya target “Indonesia akan masuk 50 besar dunia untuk indeks persepsi korupsi dalam waktu 5 tahun”. Dengan target itu maka seluruh kader ,  simpatisan dan seluruh rakyat Indonesia akan digerakkan untuk bersama-sama mencapai tujuan mulia itu.

3. Gerakan Massif Secara Makro dan Mikro

Secara Makro, PKS bisa membuat organisasi underbow khusus mengurus antikorupsi yang kredibel dan punya power yang besar. Organisasi ini haruslah antithesis dari yang ada di Pemerintahan sekarang, yaitu sistem whistleblower yang sangat pasif. Organisasi ini harus mampu membuat pembesar negara melaporkan secara aktif korupsi yang terjadi/akan terjadi. Misal, pernah Dahlan Iskan mengatakan bahwa dia pernah diminta uang oleh DPR saat menjadi Dirut PLN. Nah, organisasi ini harus bisa meyakinkan orang seperti Dahlan Iskan untuk melakukan penjebakan, sehingga membuat para korupsi banyak berpikir sebelum melakukan aksinya.(top down)

Secara mikro, PKS bisa menggerakkan struktur dari tingkat terkecil untuk mendidik, menfasilitasi dan menekan korupsi dari masyarakat. Misal, struktur terkecil bisa menjadi pusat pelaporan korupsi dari masyarakt di daerah itu sehingga bisa menekan korupsi dari bawah. (bottom up). Dengan dukungan kader dan simpatisan yang cukup besar, solid dan berpendidikan, maka dijamin gerakan dari bawah ini akan sukses memberi tekanan terhadap korupsi di Indonesia. Bandingkan dengan apa yang dilakukan PKS sekarang, misal dengan memberi pelayanan kesehatan. Beberapa teman dokter mempertanyakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh PKS, buat apa memberikan pelayanan kesehatan dasar yang bisa juga dilakukan oleh puskesmas? PKS harus punya program prioritas yang lebih menjawab tantangan, bukan cuma sekedar mencari simpati dan mengejar suara. Akan lebih efektif misalnya dengan aksi merekam perilaku korupsi di masyarakat dan menyebarkannya di media sosial atau media massa. Selain membuat jera, juga dengan tidak langsung mengajak masyarakat menjadi jujur.

Jadi, dengan fokus pada pencegahan korupsi di tingkat terkecil ,maka kontribusi PKS akan makin terasa di masyarakat.

Penutup

Saya membayangkan, jika PKS berani mengubah haluan untuk menjadikan pemberantasan korupsi sebagai visinya dan menjadikan indeks persepsi korupsi sebagai indikator kinerja utama, maka Insya Allah PKS menjadi bagian dari solusi masalah bangsa. Namun jika PKS tidak berani berubah, maka melakukan perbaikan melalui demokrasi akan menjadi mimpi di siang bolong.

Wallahu`alam bishshowab

sumber gambar: http://goo.gl/Y295Ng,  http://goo.gl/l0C3kV

One thought on “Evaluasi PKS Pasca Pemilu 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s