Antara Idealisme dan Realitas dalam Bekerja

karir

Suatu sore menjelang malam di penghujung tahun 2004. Termenung saya di pojok kubikel di sebuah bank syariah, sementara tak jauh di sana, boss saya sedang sibuk melakukan end of year (EOY) sistem IT. Bank tersebut baru saja berdiri, dan saya adalah salah satu pegawai barunya. Hampir setahun umur bank itu, dan sudah membuat saya jatuh cinta. Saya kagum dengan suasana kerja teman2 dan para senior di bank tersebut; hawa semangat juang yang tinggi,menjunjung tinggi  nilai kejujuran dan ditambah lagi lingkungan yang sangat egaliter. Dan juga, dengan doa pagi di setiap memulai hari dan pengajian mingguan di tiap Kamis sore. Ah,seperti  mimpi saja bisa bekerja di tempat itu. Udah gitu bonusnya sering lagi, hehehe…

kubikel

Tapi…., saya termenung. Bukan memikirkan teman saya yang sholehah itu, tapi memikirkan visi hidup saya. Yah, dunia kerja dan visi terkadang suka berbeda arah.

Visi hidup saya sederhana, bagaimana kerja dengan mengoptimalkan potensi diri sehingga punya amal unggulan dan akhirnya masuk surga. Sederhana saja kan ya…

Dan menurut tes IQ waktu SMA, potensi saya terbesar adalah kemampuan berpikir logis dan analitis sedang kelemahan saya adalah kemampuan verbal. Dan, sayangnya, bekerja di bank syariah yang baru saja berdiri  itu kelihatannya tidak/belum bisa memberikan tempat itu potensi saya itu.Selain itu, karir tercepat dan paling potensial di sebuah bank itu adalah marketing, dan sayangnya `jualan` itu bukan kelebihan apalagi hobi saya. Jadilah saya kena sakit perut mingguan ketika setiap meeting Jum`at sore ditanya tentang target funding dan lending saya yang ngg ada progressnya itu.

Bengong di sore itu jadi teringat cerita ayah ketika beliau bekerja di sebuah kementerian. Dengan bangganya beliau cerita inovasi yang beliau buat, bikin sistem ini dan itu dan diterapkan di seluruh Indonesia. Inovasi yang buat kolega dan bosnya  kagum. Baru sadar, keren juga jadi PNS, multiplier effectnya gede. Perasaan, saya juga bisa bikin inovasi, apa mungkin saya harus pindah jadi PNS ya? Padahal dulu ngg pernah berminat kesana, teman2 ribut ngelamar STAN, saya malah ngg kepikiran.  Potensi amal disana kelihatannya besar sekali, konstribusi kebaikan sedikit saja dampaknya bisa tak terhingga. Kalau bekerja di perusahaan, dampaknya paling besar ke untung rugi perusahaan itu, dan mungkin kontribusi perusahaan terhadap masyarakat; tapi itu kan kontribusi tidak langsung ya…

Apalagi kalau jadi PNS kan ada kemungkinan sekolah ke luar negeri. Penasaran aja, di luar negeri itu apa bedanya sama negeri sendiri.

Well, akhirnya saya harus memilih, trade off antara kenyamanan, gaji, dengan potensi yang amal yang bisa dilakukan. Bismillah, akhirnya lamaran saya tujukkan ke sebuah kementerian dan Alhamdulillah diterima.

Nopri-Jadi-PNS-keren-lucu-kocak

Pertanyaan selanjutnya, apakah jadi PNS itu sesuai dengan visi hidup? Hmmm, kasih tahu ngg ya? (bersambung)

sumber gambar

http://bit.ly/1qU7eWs

http://bit.ly/1o64y67

http://bit.ly/1p4sS7N

2 thoughts on “Antara Idealisme dan Realitas dalam Bekerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s