Isih Penak Jamanku To? Ekonomi-Politik Kebijakan Subsidi BBM di Dua Rezim

Dahulu Indonesia dikategorikan sebagai salah satu negara yang selamat dari resource curse  yaitu kecenderungan negara kaya sumber daya alam namun kehidupan ekonomi dan sosial di bawah negara miskin sumber daya alam.(Rosser, 2007). Selain itu, Indonesia juga dijadikan contoh sebagai negara eksportir migas yang ekonominya tidak terpengaruh goncangan harga migas dikarenakan telah berhasil mendifersifikasikan energi dan pengelolaan fiskal yang prudent . (Mehrara,2008). Bahkan tidak hanya itu, Indonesia juga dianggap berhasil menggunakan momentum dropnya harga minyak (blessing in disguise) dengan menerapkan perdagangan yang lebih terbuka sehingga bisa keluar dari ketergantungan terhadap sumber daya alamnya.(Basri,2005)

Tiga penelitian di atas menjelaskan salah satu prestasi Orde Baru dalam pengelolaan energi di masa lalu.  Pertanyaannya, masihkah Indonesia menjadi salah satu role model pengelolaan sumber daya alam yang efektif? Harusnya demikian, sebab Indonesia tidak lagi sebagai salah satu negara net-oil-exporter sejak tahun 2003 (BP,2013) dan resmi keluar dari keanggotaan OPEC sejak tahun 2008. Ditambah lagi, menurut prediksi BPPT, Indonesia tidak hanya menjadi net-oil-importer, namun juga net-energy-importer pada tahun 2028 (BPPT, 2012) Artinya, dengan predikat baru, mau tidak mau Indonesia harus mengelola energi dengan lebih bijaksana.

Kerugian Subsidi BBM

Mari kita analisis kebijakan subsidi BBM sebagai salah satu kebijakan energi yang terpenting. Dampak pemberian subsidi BBM yang tidak prudent paling tidak ada 3 hal. Yang pertama adalah  disinsentif terhadap berkembangnya energi lain. Indonesia punya potensi besar untuk pengembangan biofuel dan panas bumi namun energi tersebut kalah bersaing dengan BBM yang lebih murah dan disubsidi dengan nilai yang cukup fantastis. Untuk tahun 2013 lalu, subsidinya mencapai sekitar Rp. 250 T.

Jumlah yang luar biasa besarnya itu ternyata juga juga berpengaruh terhadap pengelolaan anggaran negara. Pemerintah menjadi ‘sulit’ membuat prioritas yang paling tepat. Salah satu contoh yang cukup ekstrim yaitu tahun 2008, dimana nilai subsidi BBM jauh lebih tinggi dari investasi modal dan program sosial yang berdampak jangka panjang dan langsung ke masyarakat yang membutuhkan. Ironis bukan?

Selain nilainya yang sangat besar, ternyata ketepatan dari subsidi BBM itu juga bermasalah. Berdasarkan Survey Ekonomi dan Sosial 2007, ternyata sekitar 75% subsidi BBM dinikmati oleh sekitar 30% penduduk terkaya di Indonesia. (Agustina et al, 2008). Fakta ini penting untuk disoroti mengingat subsidi pada dasarnya adalah income distribution  dari negara ke masyarakat. Sehingga, ketepatan sasaran merupakan salah satu indikator penting dari efektifitas sebuah program subsidi.

Kebijakan Subsidi BBM di Era Orba  dan Era Reformasi

grafik kebijakan subsidi

Dalam tabel di atas terlihat jelas beberapa poin perbedaan kebijakan subsidi BBM dalam 2 era. Saat Orde baru berkuasa, pengambilan keputusan lebih independen dari pertimbangan politik, terlihat dari cepatnya pengumuman perubahan harga BBM maupun penyikapan partai politik  terhadap harga baru tersebut. Selain itu besaran subsidi BBM meningkat fantastis 700%, dari hanya 1,75% menjadi sekitar 12,76%.

 

oil depedency

Kenyataan ini berbeda dengan pola umum yang ada di dunia. Sebuah penelitian dengan sampel 137 negara di dunia menunjukkan, negara penghasil minyak akan memberi subsidi lebih besar dari pada negara miskin minyak.(Cheon et al, 2013). Tentu menjadi tidak wajar jika negara yang sudah menjadi importir minyak seperti Indonesia malah memberi subsidi lebih besar dari pada saat menjadi exportir.  Terlihat dengan jelas, politik menjadi pertimbangan yang sangat kuat dalam era reformasi, apalagi kalau kita perhatikan grafik di bawah ini.

lsi surveyDalam grafik di atas terlihat bahwa jika saja pemilihan presiden diadakan sesaat setelah kenaikan harga, yaitu tidak lama setelah Mei 2008, maka Megawati Soekarno Putri akan mengalahkan SBY. Dan dengan 3 kali penurunan harga sebesar Rp.500 per liter pada bulan-bulan selanjutnya, popularitas SBY pun melonjak dan semakin jauh meninggalkan Megawati. Dengan kata lain dapat kita simpulkan, kebijakan subsidi BBM ini begitu besar dampaknya dalam dunia politik di Indonesia sehingga akan menyulitkan semua pihak yang ingin memperbaiki kebijakan ini.

Kebijakan Subsidi BBM setelah Pemilu 2014
Untuk memperkirakan konstalasi politik dalam kebijakan subsidi BBM salah satunya bisa dilihat dari dominasi partai politik dalam pemilu. Selama orde baru, partai Golkar selalu memenangkan pemilu lebih dari 60% suara, sedangkan dominasi parpol pemenang pemilu makin menurun dalam pemilu ke pemilu di rezim reformasi. Saat pemilu pertama tahun 1999, pemenang pemilu mendaptkan suara 33,74%, kemudian turun menjadi 21,58% (2004), 20,81% (2009) dan akhirnya hanya 18,9% (Quick Count 2014). Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa partai pemerintah akan semakin lemah setelah 2014 dan subsidi BBM akan tetap menjadi isu yang bisa menjual dalam kampanye.

Untuk mengembalikan kebijakan subsidi BBM lebih prudent seperti yang telah dilakukan Orde Baru, harus dimulai dari logika politik Pemerintah saat menjalankan kebijakan subsidi BBM dan interest pihak-pihak yang terkena dampak kebijakan ini. Paling tidak ada 3 pihak yang berkepentingan dalam kebijakan ini, yaitu partai politik, rakyat dan industri pengguna BBM. Kepentingan partai politik adalah mereka ingin agar mendapatkan simpati dari kebijakan ini sehingga akan mendapatkan suara dalam pemilu selanjutnya. Sedangkan kepentingan rakyat adalah mereka ingin mendapatkan share dari kekayaan alam Indonesia. Untuk industri pengguna BBM, kepentingan mereka adalah mereka ingin agar mereka tetap bisa menggunakan bahan bakar yang terjangkau. Ketika melakukan pembenahan kebijakan, harus dicari strategi yang dapat mengkompensasi semua pihak sehingga perubahan kebijakan bisa dilakukan. (Victor,2009)

Salah satu solusinya adalah dengan mengganti subsidi BBM yang ada dengan bentuk lain yang lebih adil dan tepat sasaran. Dengan mengalihkan subsidi BBM ke peningkatan anggaran kesehatan atau pembangunan infrastruktur transportasi umum mungkin bisa menjadi pilihan. Pilihan ini mengkompensasi subsidi BBM yang selama ini diterima rakyat dan di sisi lain jika pengalihan ini bisa “dicitrakan’ sebagai bagian dari kebijakan pemerintah yang lebih berpihak terhadap rakyat kecil sehingga interest pemerintah juga berhasil dikompensasi. Sedangkan untuk industri pengguna BBM tidak  terkompensasi dengan opsi ini, namun karena mereka memang pihak yang paling lemah dalam relasi politik di atas, dampak yang mengkhawatirkan tidak akan terjadi.

Agustina, C. D. R., Arze del Granado, J., Bulman, T., Fengler, W., & Ikhsan, M. (2008). Black hole or black gold? the impact of oil and gas prices on Indonesia’s public finances.

Basri, M. C., & Hill, H. (2004). Ideas, interests and oil prices: the political economy of trade reform during Soeharto’s Indonesia. The World Economy,27(5), 633-655.

Mehrara, M., & Oskoui, K. N. (2007). The sources of macroeconomic fluctuations in oil exporting countries: A comparative study. Economic Modelling24(3), 365-379.

Rosser, A. (2007). Escaping the resource curse: The case of Indonesia. Journal of Contemporary Asia37(1), 38-58.

Victor, D. (2009). Untold billions: fossil-fuel subsidies, their impacts and the path to reform. International Institute for Sustainable Development, The Global Subsidies Initiative: Geneva. http://www. globalsubsidies. org/en/research/political-economy

http://us.media.vivanews.com/documents/2009/02/27/331_Survei%20Lembaga%20Survei%20Indonesia%20Februari%202009.pdf , accessed on March 14, 2014

http://finance.detik.com/read/2013/05/01/153716/2235350/1034/era-soeharto-pengumuman-bbm-naik-setelah-maghrib-dan-berlaku-pukul-0000-sekarang, accessed on March 14, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s