Hati – hati dengan Profesi

Suatu hari saya sempat heran saat menghadiri acara remaja masjid di suatu tempat. Sebelum acara tablig akbar di mulai dan ketika peserta sudah mulai banyak, panitia menjemput Ketua Masjid ke rumahnya. Yang menjemputpun lengkap, mulai dari ketua panitia, ketua remaja masjid dan sekretaris umum masjid. Selidik punya selidik, ternyata sang ketua adalah (mantan) birokrat sebuah kementerian. Pantes, pake harus dijemput segala, harus lengkap pula, emangnya masjid itu kantor apa?🙂. Saya dengar juga, untuk mendapatkan tandatangannya harus melalui beberapa skrining, setelah dibuat ketua panita, dikoreksi oleh ketua remaja masjid, naik ke sekretaris dan setelah itu baru dikoreksi lagi oleh beliau. Waduh, gimana ngg lama tuh bikin satu surat aja.

Di kesempatan berbeda, saya pernah pula bekerja sama dengan seseorang. Saat itu kami ditunjuk menjadi KPPS, beliau ketuanya, saya yang paling muda menjadi penjaga tinta pemilu. Saat itu baru dimulai sistem pemilu dengan mencoblos partai dan caleg, sehingga kami semua belum berpengalaman bagaimana menjadi panitia yang efektif dan efisien.

Bayangkan, ada 48 partai dengan ratusan caleg, hasil pencoblosan itu harus didokumentasikan dengan baik dan tidak boleh salah. Menurut pikiran saya waktu itu, agar lebih cepat, rekap pemilu yang berbentuk seperti kalender tebal harus di bagi antara partai kuat dan lemah, partai yang kuat dipisahkan dan ditempel ke dinding, yang lemah dan kemungkinan dapat suara sedikit, dibiarkan saja dalam bentuk aslinya ditumpuk bersama yang lain. Ini akan menghemat waktu pencatatan, sebab mencatatkan 600 suara dalam bentuk kalender akan lama sekali, karena harus membolakbalikkan kertas untuk mencari partai dan nama caleg. Usulan ini saya sampaikan dengan jelas dan hati-hati, namun herannya tak ada tanggapan sama sekali. Bahkan tampangnya tidak berubah seolah tidak mendengar pendapat yang saya sampaikan.

Ternyata benar saja, diskusi dengan ayah saya yang jadi ketua di TPS sebelah ternyata juga menggunakan cara yang saya usulan. Bahkan mereka sudah mengerjakan terlebih dahulu administrasi pencatatan di berita acara yang makan waktu mengerjakannya. Alhasil , petugas KPPS TPS sebelah sudah di rumah jam 8 malam, saya baru selesai ngantri di kelurahan jam 4 pagi.🙂

Pulangnya saya berdiskusi dengan ayah, kenapa kok sang Ketua sulit sekali ya menerima usulan? Dan bukan usulan saya saja, usulan beberapa panitia lain terkait pengaturan TPS pun tidak digubris. Ayah saya senyum-senyum saja sambil berkata, kamu tahu ngg sebelum pensiun, bapak A itu pekerjaannya apa? Beliau guru SD. Coba kamu bayangkan, kalau kamu guru SD, tiap tahun kamu akan bertemu dengan anak2 kecil, yang butuh bimbingan dan tidak tahu apa-apa. Pas mereka sudah agak besar, mereka pun lulus, jadi keseharian beliau jarang sekali bertemu dengan orang yang lebih pintar dan berpengalaman. Apalagi pekerjaan fungsional itu tidak pernah punya atasan, pekerjaan yang mandiri sehingga jarang sekali terpaksa memenuhi perintah/usulan orang lain karena ngg punya bos. Hal itu tentu tidak akan berpengaruh kalau sejak muda kita sering berorganisasi, tapi kalau tidak, tentu akan ada pengaruhnya, sedikit atau banyak.

Hmmm, betul juga, pantas saja…. Btw,siapapun kita, mudah2an tidak mendapatkan karakter negatif dari profesi kita. Mari dari sekarang kita upayakan untuk berorganisasi sesibuk apapun kita.

Wallahu’alam bishshowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s