Santri Made in Japan

Terharu saya mendengar curhatnya seorang trainee yang akan ditinggalkan seniornya pulang ke Indonesia.

Dulu waktu di Indonesia, saya paling sholat seminggu sekali, itupun kalo lagi ingat. Maklum, latar belakang keluarga saya cuma Islam KTP, tau baik dan buruk tapi ngg mengerjakan ibadah secara taat. Pas ada kesempatan ke Jepang yang pertama kali saya impikan adalah mencoba rokok dan sake. Bandel dikit boleh dong, mumpung di luar negeri, kapan lagi nyoba yang asyik asyik, mumping punya duit.🙂

Saat pembekalan di Indonesia dan sudah tahu akan diterima di perusahaan ini(sebuah perusahaan perkapalan), ada teman2 yang iri, katanya perusahaannya enak banget, gampamg sholat, dan gitu seniornya alim2, pada minta tukeran. Yang paling anehnya lagi, pas mau berangkat dan ketemu senior yg pulang, eh mereka malah nitip minta jagain musholla di kantor, emangnya kita marbot apa?Lagian, aneh banget nih, ada gitu perusahaan di Jepang punya musholla?

Pertama kali dateng dan masuk ke apato milik perusahaan, yang pertama kali ditanya senior, sudah sholat belum? Karena ngg enak hati, kamipun ikut sholat berjamaah. Besok paginya, subuh2 dibangunin subuh berjamaah, berat banget,wong ngg biasa sholat. Untungnya para senpai ngebimbing dengan sabar, jadi lama kelamaan, terbiasa juga bangun pagi dan sholat 5 waktu. Bahkan sekarang alhamdulillah  Insya Allah 5 waktunya sudah mantap, bahkan subuh seringkali saya sudah bangun duluan dari senpai🙂. Mohon doanya agar kami yang ditinggalkan para senior sekalian bisa istiqomah. Sake ngg jadi ngerasain, malah Sholat jadi nikmat. Terima kasih atas bimningan para senior dan para mahasiswa sekaliam, semoga Allah SWT membalas kebaikannya.

————————————————–

Senang sekali mendengar orang dapat hidayah, bukannya di Indonesia yang masjidnya gampang ketemu, malah disini yang susah cari masjid. Jadi ingat, dulu ketika diajak keliling ke kantong2 para trainee asal Indonesia, saya sempat bertanya, apa kelebihannya dakwah disana? Kita bahkan harus ke daerah2 yg jauh, kadang isinya cuma berapa orang, sepertinya tidak  sebanding dengan tenaga dan ongkos yang harus keluar dari kocek sendiri. Padahal waktu liburan, keluarga juga butuh perhatian kita, target paper juga membutuhkan curahan pikiran dan tenaga, kita juga butuh istirahat. Pergi total kadang 400-500 km dalam semalam pasti perlu tenaga,dana, dan pikiran. Belum persiapan materi yg akan disampaikan.

Jelas, kata beliau, ‘menyirami’ keimanan diri sendiri dan orang lain bukan usaha yang mudah dan murah. Dan hasilnya sungguh sangat indah, Insya Allah, akan meluluskan diri sendiri dan orang lain dari pesantrennya Jepang. Ya, santri made in Japan, Insya Allah

7 thoughts on “Santri Made in Japan

  1. terharu membaca ceritanya. Salah satu ke khawatiranku kl pergi ke luar negeri adalah soal ibadah. Ternyata malah di negara yg tempat ibadahnya kurang, seseorang bisa dapat hidayah🙂

  2. Terharu bacanya Bang…
    jazakallah atas sharing nya ya Bang…

    memang hidayah banyak rahasianya yaaa…
    di tempat yg org lain khawatir sulit beribadah, ternyata menjadi pintu menjadi rajin sholat 5 waktu tepat waktu…

    malu aku yg di jakarta….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s