Manjadda Wajada tapi juga Tahu Batasan

Suatu hari di SMA 28 Jakarta, Pak Guru sedang menjelaskan deret Matematika. Saya yang sejak SMP bermasalah dengan Matematika, sedang asyik menyimak penjelasan Pak Guru, hmmm, lumayan juga ya, deret ukur dan deret hitung. Yang agak bingung ketika masuk ke soal UMPTN dengan tampilan angka yang ajaib, ada pembilang-penyebut, ada pangkat pula. Pusing euy….

Sementara itu di depan saya, bukannya mendengarkan penjelasan Pak Guru, sang jenius malah membuka buku lusuh dibawah meja. Mirip orang sedang mencontek kalau ujian, dengan hati-hati dibukanya halaman demi halaman buku yang sudah kusam itu. Penasaran juga, baca buku apa nih anak? Saya intip, ternyata…., isinya formulasi deret yang jauh lebih rumit, dan judul bukunya adalah ‘Matematika untuk Universitas’. Nasib-nasib, lagi susah – susah dengerin penjelasan dasar tentang deret, eh ada juga yang tega-teganya buka buku begituan padahal belum cukup umur. J

Manjadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, begitu kata ustad di Pondok Madani. Bukan pisau yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguhlah yang kan mencapai sukses. Terus apa hubungannya ya dengan cerita di atas? Kalau kita baca buku motivasi, seringkali sang penulis memberikan iming-iming, dengan Berpikir dan Berjiwa Besar dipastikan pembacanya akan sukses menjadi CEO paling berpengaruh di dunia, jadi pengusaha paling berhasil, atau jadi ilmuwan peraih nobel. Apa benar? Pernahkah ada survei misalnya, berapa orang pembaca ‘The 7th habit yang karena melaksanakan pemikiran penulisnya menjadi Nobel winner? Atau CEO terkemuka di dunia? Atau pengusaha paling bonafid pemilik perusahaan dalam Fortune 500? Pasti ada, tapi prosentasenya sedikit. Mengapa? Karena kapasitas pembacanya berbeda. Kapasitas saya dan teman saya yang jenius dalam matematika itu misalnya, jelas berbeda. Dan paling tidak dapat disimpulkan, teman saya itu punya peluang lebih besar dari saya untuk berkarir yang berhubungan dengan matematika.

Ada dua sisi ekstrim yang ingin saya kemukakan disini:
a) Jangan batasi usaha anda dengan pandangan pesimis
Dalam buku Kubik Leadership, contoh yang juga sering muncul di buku manajemen lain adalah tentang kutu yang dimasukkan ke dalam kotak korek. Kutu yang tadinya bisa lompat lebih tinggi dari tempat korek, hanya akan melompat tidak lebih dari kotak korek setelah dipaksa tinggal didalamnya. Pandangan pesimis kita terhadap kemampuan kita sebenarnyalah yang membatasi kita untuk maju.
b) Tetapi juga jangan over confident
Bagi kita yang berharap setelah menonton film motivasi ataupun buku manajemen diri dan tiba-tiba berharap jadi orang paling hebat setelah melakukan semua triknya tentu tidak tepat juga. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda. Saya pernah bertemu orang yang sangat cerdas, tapi tidak mampu menjelaskan idenya pada orang lain. Ada juga yang jago ngomong, tapi maaf, kurang berisi. Ada lagi yang pandai sekali bergaul, dari cleaning service sampai direktur nyambung aja, tapi ada kekurangan disisi lain. Orang yang di dirinya mengumpul beberapa kecerdasan (verbal, logika, matematika, music, interpersonal dll) maka akan lebih berpotensi dari pada yang lain. Setiap orang punya bobot yang berbeda. Untuk menjadi CEO kelas dunia misalnya, tentu diperlukan kecerdasan yang cukup dalam beberapa hal. Steve Job misalnya, tidak cuma jenius masalah konsepnya yang sangat futuristik, presentasinya pada saat launching produkpun luar biasa.

So, mari melihat segala diri kita secara objektif (susah ya?), usaha harus optimal, namun tahu diri sehingga berimbang dalam melihat potensi diri….
_________________________________________________________________________________________________
Jadi ingat, dulu waktu saya sekolah, Ibu saya pandai sekali memotivasi namun tidak tampak kecewa ketika anaknya tidak berhasil. Ibu beberapa kali dipanggil ke sekolah atau kampus. Sayangnya bukan karena anaknya berprestasi, tapi karena nilainya kritis, hehehe. Pertama, ketika kelas 1 SMA, nilai matematika saya 5, Ibu dipanggil untuk memotivasi anaknya. Kata-kata Ibu Wali Kelas kepada Ibu seperti ini “ Bu, anak ibu kan laki-laki, kalau bisa masuk jurusan Fisika, biar logika berpikirnya terlatih dan bisa fleksibel pada pemilihan jurusan saat kuliah. Jadi, semester 2, kalau bisa nilai Matematikanya 7, biar bisa masuk ya Bu.Sang ibu yang baik hati itupun mengatakan ke saya, ‘Ibu tidak masalah kalau kamu masuk jurusan lain, yang penting kamu suka, sesuai dengan pilihanmu’. Saya yang kesulitan menghapal dan paling ngg mudeng dengan pelajaran Sosiologi memilih berusaha belajar menyukai matematika. Akhirnya nilai matematika saya cuma 6, tapi mungkin karena peminat jurusan Fisika terbatas, terpaksalah mereka memasukkan saya ke jurusan itu.

Saat kedua adalah ketika kuliah, nilai semester satu saya jeblok, kembali Sang Ibu harus ‘mempertanggungjawabkan’ nilai anaknya. Saya sejak awal tidak mengira kuliah di jurusan Teknik Industri ternyata harus belajar Matematika Kalkulus, Aljabar Linier, beberapa Fisika dan Kimia. Mabok kepayang judulnya. Sang Ibu yang baik hati pun sepulangnya dari ‘pengarahan’ malah santai-santai saja, sambil memotivasi saya untuk berusaha lebih baik.Kok bisa ya?
Saya ingin sekali mencontoh cara memotivasinya, tapi ternyata sulit juga ya,karena di kepala saya terbersit keinginan dan harapan bahwa anak-anak harus lebih baik dari orangtuanya….

Terinspirasi dari buku Kubik Leadership…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s