Dua Anak Lebih, BAIK

Taruhan yang paling rasional menurut saya adalah taruhan antara dua ahli demografi berbeda aliran bernama Julian Simon dan Paul Ehrlich pada tahun 1980. Mereka bertaruh mengenai harga 5 logam (timah, nikel, tungsten, kromium dan perunggu), apakah dalam 10 tahun harganya akan naik atau turun. Menurut alirannya Simon, dikarenakan efisiensi dan teknologi, maka manusia mampu membuat harga komoditas menjadi jauh lebih murah, sedang Ehrlich berseberangan. Tenyata sepuluh tahun kemudian harga kelima logam itu turun sesuai ramalan Simon.

Kejadian di atas melemahkan teori Maltus bahwa manusia bertambah melalui deret ukur, sedang makanannya (penunjang hidup manusia) tumbuh secara deret hitung menjadi makanan (dan penunjang hidup manusia lainnya) tumbuh secara deret ukur dengan kecepatan jauh lebih tinggi diakibatkan oleh kemampuan manusia dengan bantuan efisiensi dan teknologi.

Melihat fenomena di atas dan mengamati tag line BKKBN di banyak media dan kebijakan Pemerintah dalam hal itu, maka saya tertarik untuk mengkritisinya. Anjuran untuk maksimal memiliki 2 anak dengan disinsentif bila lebih, menurut saya perlu dikritisi:

1. Secara ilmu pengetahuan, tidak ada kesepakatan, apakah pertumbuhan penduduk berimplikasi negatif ataukah sebaliknya. Taruhan di atas menunjukkan bahwa manusia bisa membuat harga barang konsumsi mejadi lebih murah, sehingga kebutuhan untuk membatasi jumlah anak menjadi tidak diperlukan. Selain itu bisa dilihat bahwa negara-negara yang besar populasinya (yang dahulu diperkirakan akan bermasalah dalam mencukupi kebutuhan) malah memiliki pertumbuhan yang sangat tinggi ( China, India, Brazil, Indonesia, Rusia). Argumen salah satunya adalah dengan jumlah penduduk yang besar, maka sharing of knowledge akan semakin cepat daripada penduduk sedikit. Selain itu, tekanan jumlah penduduk juga akan menyebabkan persaingan yang membuat SDM di negara dengan populasi besar dan tumbuh harus lebih bersaing agar survive; akibatnya kualitas akan lebih tinggi. (Kremer,1993)

2. Saat ini pun, sudah banyak negara maju yang sudah negatif pertumbuhan penduduknya. Bahkan negara-negara maju yang masih positif sangat dimungkinkan akibatkan proses migrasi talenta dari negara berkembang (brain drain) , bukan murni pertumbuhan penduduk asli. Negara yang lebih tertutup dalam hal migrasi misalnya Jepang, pertumbuhan penduduknya sudah negatif. Di Jepang malah memberikan insentif cukup besar kepada penduduk Jepang maupun WNA yang tinggal disana dengan memberikan 13.000 yen per anak perbulan (sekitar Rp. 1,4 juta) agar tidak makin berkurang jumlah penduduknya. Di sana, piramida penduduk lebih besar di usia sudah tidak produktif, sehingga orang-orang produktif (yang jumlahnya semakin kecil dan membayar pajak) ‘menanggung hidup’ orang-orang yang sudah tidak produktif dengan perbandingan yang tidak imbang. Jadi pembatasan jumalh penduduk adalah tidak perlu, secara natural manusia akan mengurangi jumlah tanggungannya.

Untuk mempertahankan keberlangsungan suatu masyarakat, minimun angka TFR atau Total Fertility Rate adalah 2,1. Itu berarti, target Pemerintah dengan maksimum 2 anak bisa menghasilkan ‘kematian’ negara kita di masa depan. Mungkin orang bertanya, apakah bisa secepat itu? One Cild Policy di China dan pembatasan penduduk di India cuma butuh 20 tahun untuk menghasilkan ketidakseimbangan jumlah penduduk pria dan wanita karena orang cenderung ingin punya anak laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Perbedaannya cukup mencolok yaitu jumlah kelahiran pria/wanita 100: 83 di China dan 100: 95 di India. (majalah economist,2011). Laki-laki akan lebih dihargai lagi dengan adanya disinsentif. Dengan pembatasan, maka akan dihasilkan jumlah penduduk yang menurun dan tidak imbang secara jenis kelamin di masa depan.
Jadi, pembatasan melalui disinsentif bila lebih dari 2 anak menurut saya perlu ditinjau ulang. Penduduk yang tidak terkontrol adalah masalah, namun kekurangan penduduk juga bukan anugrah.

Mungkin seharusnya dilakukan BKKBN adalah:
Menghilangkan program disinsentif terhadap anak lebih dari dua. Sumber daya manusia adalah andalan kita di masa depan di masa kita tidak dapat lagi mendapat keuntungan dari sumber daya alam yang terbatas. Mari kita kelola dengan baik, melalui kebijakan yang tepat. Salah berinvestasi pada human capital, berarti berjudi pada masa depan bangsa. Sistem penganggaran yang tepat sasaran (dengan prioritas pada pendidikan dan kesehatan), subsidi BBM yang 75 %nya dinikmati oleh 25 % terkaya perlu dihilangkan sehingga tepat sasaran. Beri semua penduduk akses ke pendidikan dan kesehatan yang terjangkau

Kalo saya jadi Kepala BKKBN, taglinenya akan saya ganti dari Dua anak lebih baik menjadi Banyak Anak Banyak Rejeki…

So, Ayo Ibu – Ibu, lanjutkan….:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s