Antara Jama’ah Tablig, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tarbiyah dan Salafy

Alkisah di suatu komunitas masyarakat Indonesia di sebuah kota di Jepang, ada dua orang mahasiswa yang punya latar belakang ‘pergerakan’ yang berbeda. Dan kebetulan pula keduanya memiliki pengetahuan agama yang mumpuni, bisa bahasa arab, sanggup baca arab gundul, sudah menulis buku agama pula. Dengan kata lain : Sakti madraguna. Namun sayangnya berasal dari dua pergerakan yang kalau diposisikan, maka keduanya berada pada dua titik ekstrim yang berseberangan.
Tentu saja perbedaan mungkin membuat kita saling bertoleransi, namun juga bisa berakibat sebaliknya. Sayangnya itulah yang terjadi, perbedaan semakin meruncing karena pemahaman agama yang sangat dalam dari keduanya (kok bisa ya? ). Sampai pada suatu titik puncak, Ustad AAA dari pergerakan XXX mengatakan kalo ustad BBB dari pergerakan YYY adalah Khawarij. Sebaliknya, Ustad AAA dicap oleh ustad BBB sebagai ahli bid’ah. Khawarij dan ahli bid’ah, tuduhan yang sangat ekstrim dan sangat mungkin dua golongan tadi berakhir di neraka.
Ibarat kata pepatah, gajah bertarung, maka pelanduk mati di tengah-tengah. Orang-orang yang tidak berpihak kepada keduanya pun dianggap berseberangan. Pernah seorang teman tidak ditegur ketika bertemu cuma karena dianggap dekat dengan pihak ‘lawan’. Pusing kan? Ironis tapi fakta….
Yang lucunya, orang-orang yang selama ini mendefinisikan diri mereka dengan Islam abangan jadi bersorak. Menurut mereka, tidak perlu terlalu patuh pada agama, karena cuma akan menjadi dua golongan, Khawarij dan ahli bid’ah. Yang santai-santai saja malah masuk surga. Asyik kan, sesuai motonya, masa kecil bermanja-manja, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga.

———————————-
Tulisan ini tidak bermaksud membandingan pergerakan-pergerakan yang ada dan menilai yang mana yang paling sesuai dengan ajaran Islam, namun ingin menggambarkan bahwa perbedaan dan pemikiran Islam tidaklah sederhana. Jadi, bagaimana untuk membawanya pada persatuan Islam? Saya sendiri kurang paham, tapi sampai saat ini, inilah yang saya pahami.
Saya pribadi mengambil kebaikan saja dari kelebihan pergerakan yang ada. Untuk masalah fikih ibadah, maka saya akan berpegangan pada teman-teman Salafy, karena mereka punya metode pengkajian yang mendalam masalah itu. Sedangkan untuk cara berdakwah, Jama’ah Tablig tampak lebih unggul dalam mengajak manusia ke jalan Islam dengan hikmah, jadi saya merujuk kesana. Selanjutnya, mengingat kondisi sekarang sangatlah jauh dari ideal, peran teman-teman Jamaah Tarbiyah yang berijtihad untuk ‘bridging’ kondisi sekarang menuju kondisi ideal melalui peranan di Pemerintahan dan Parlemen menjadi usaha yang paling logis. Sementara, konsep-konsep Islam ketika sudah ideal seperti konsep moneter Islam dan perangkat-perangkat bernegara telah banyak dibahas saudara-saudara saya dari Hizbut Tahrir.
Selain itu, tampak sekali kalo pergerakan yang ada menjadi dinamis dan saling mewarnai. Jamaah Tablig saat ini menjadi lebih berhati-hati dalam berdalil, kitab-kitab yang memuat hadis yang lemah sudah mulai ditinggalkan. Kajian-kajian keIslamannya Jama’ah Tarbiyah sekarang terlihat lebih kental dengan kajian tauhid dan sebagainya.

So, bagi saya perbedaan adalah kenyataan yang ada, menyatukannya dalam satu jamaah sepertinya akan sulit. Mencoba memahami perbedaan, mengambil kebaikan dan berbaik sangka kepada jamaah lain adalah utama sehingga kita tidak gampang menunjuk kelemahan saudara kita tanpa mengetahui apa sebenarnya yang ada di hati orang itu. Wallahu’alam bish showab

3 thoughts on “Antara Jama’ah Tablig, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tarbiyah dan Salafy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s