Menguji Keikhlasan Ustadz

Pernah mendengar berita kalo mau mengundang ustadz anu, maka harus menyediakan ‘uang transport’ minimum sekian juta rupiah? Pasti pernah kan, dan sering kali hal itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan aktivis muslim. Argumennya seperti ini, berdakwah adalah kewajiban setiap muslim, kenapa harus dibayar dengan jumlah tertentu? Berarti ngg ikhlas dong kalo ustad dikasih bayaran terus nerima, wong itu kewajibannya? Apa lagi sampe ada yang masang tarif.

Disisi lain, ada juga yang berpendapat kalau itu wajar saja, wong itu kan mirip dengan mengajar, perlu waktu dan usaha untuk mendapatkan ilmu. Apakah dosen yang mengajar kemudian dibayar dengan bayaran tertentu itu ngg ikhlas? Nah bingung kan?
Dialog yang mirip2 di atas pernah terjadi antara saya dengan sahabat di rohis jurusan Mesin + TI UI. Seperti biasa kami merencanakan akan mengadakan pengajian jurusan, kemudian muncullah diskusi di bawah ini

Saya : Ikhwan1, persiapan dah lengkap nih, tinggal ‘amplop’ untuk Ustadz, dikasih berapa ya?
Ikhwan1 : hmmm, Akh Luthfi, menurut ente dakwah itu wajib ngg?
Saya : Hmm, ya iya lah, masa ya iya dong. (eh, waktu itu belum ada deng istilah ini )
Ikhwan1 : Kalau wajib, kenapa kita harus memberikan infak kepada Ustad, dan sudah kewajibannya kali berdakwah.
Saya : Yah, abis gimana dong. Emang ngg boleh ya, berdakwah sekaligus mencari nafkah?
Ikhwan1 : Boleh-boleh aja, tapi jangan sampai kalau ngg ada amplop, ustad ngg dateng.
Saya : Betul juga. Terus maksud ente bagaimana?
Ikhwan1 : Bagaimana kalo pengajian jurusan kali ini ngg ada amplopnya? Itung-itung ujian keikhlasan bagi ustadnya.
Saya :What? Kasian kali…(kebetulan ustad yang kita undang penampilannya sederhana sekali. Kalau datang ke FTUI pasti pake vespa butut favoritnya.)
Ikhwan1 : Makanya, cuma kali ini aja, besok-besok sih ngg. Kalau kita ngg kasih sekarang, kalo diundang lagi ngg dateng, mungkin dia ngg ikhlas.
Saya : Begitu ya, ah ngg enak ane, ente kan bukan ketua rohis, ane yang tanggung nih
Ikhwan1 : Akhi, penting bagi kita untuk memiliki pendakwah-pendakwah yang tidak hanya mampu me’nyihir’ audiencenya, tapi juga semata-mata meraih keridhoannya.
Saya : Ente pinter juga ya, pantes aja masuk tim Olympiade Matematika (ups, ketaun dong siapa orangnya )

Singkat cerita, setelah mengisi pengajian jurusan, sang Ustadz pun pamit pulang, dan seperti biasa saya pun mengantar beliau sampai ke parkiran motor. Setelah bersalaman, beliaupun pulang tanpa menerima pemberian dari saya. Perasaan gimana gitu, tapi yah, namanya juga usaha, jadi saya biarkan saya perasaan ngg enak itu.

Tak berapa lama, pada pengajian jurusan berikutnya, kamipun mengundangnya lagi. Alhamdulillah, beliaupun tetap hadir, berarti ujiannya lulus kali ya? Beliau tau ngg ya ada mahasiswa yang iseng seperti teman saya itu? Atau jangan2 malah beliau pikir saya lupa ngasih ongkos lagi, hehehe. Tapi yang jelas, selama bertahun2 beliau jadi ustad favorit di jurusan kami karena pembawaannya yang humoris sehingga cocok sekali dengan kultur jurusan kami yang rada gaul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s