Strategi Menghindari Korupsi

Salah seorang sahabat saya yang baru saja diterima sebagai CPNS sebuah lembaga Pemerintah bertanya kepada saya tentang kiat – kiat menghindari korupsi. Saya sendiri menyadari dikarenakan korupsi adalah system, maka sulit bagi siapapun di lembaga pemerintahan untuk bebas dari jeratnya. Tulisan ini mencoba mengupas trik menghindari perangkap dari system tersebut, dan kenyataannya , hampir tidak mungkin bagi pegawai baru (CPNS) untuk bisa survive tanpa terlibat di dalamnya.(kecuali mungkin kalau teman2 diterima sebagai pegawai di KPK atau lembaga yang sudah remunerasi 100%.
Secara sederhana, ada tiga langkah dalam proses menghindari korupsi:

1. Kenali bentuk – bentuk korupsi di lingkungan tempat ada bekerja
Secara umum ada 3 bentuk yang lumrah ditemui:

a. Korupsi SPPD
SPPD adalah Surat Perintah Perjalanan Dinas. Cara orang untuk korupsi adalah dengan membuat SPPD fiktif. Fiktif berarti seolah – olah kita dinas ke suatu tempat, tapi sebenarnya tidak. Caranya adalah dengan membuat tiket, boarding pass dan bukti penginapan fiktif. Sebagai contoh, bila saya ingin mendapatkan uang dari SPPD fiktif ke Jayapura, maka saya akan membuat tiket palsu pulang pergi Jayapura atas nama saya, boarding pass palsu dan bukti menginap di salah satu hotel di Jayapura.

b. Korupsi Proyek
Untuk korupsi macam ini, biasanya dilakukan oleh unit kerja yang memiliki proyek; sebagai contoh proyek pengadaan barang atau proyek kajian terhadap sebuah kebijakan. Untuk mendapatkan uang dari proyek, si pemegang proyek melakukan deal dahulu dengan perusahaan calon pemenang tender mengenai “pembagian keuntungan”.

c. Korupsi yang berhubungan dengan kewenangan lembaga (Perijinan dan semacamnya)
Yang saya maksud disini adalah korupsi mengenai perijinan yang dimiliki sebuah instansi atau penurunan kewajiban. Misal, KTP yang seharusnya gratis jadi bayar, atau penurunan nilai kewajiban pajak seperti yang mencuat pada kasus Gayus. Sebenarnya ada juga beberapa modus lain, tapi saya pikir tiga jenis korupsi di atas sudah bisa mewakili modus yang umum ada di penyelenggara Negara.

2. Setelah kita mengenai bentuk – bentuknya, yang lebih penting adalah penyikapan lingkungan kerja kita terhadap korupsi. Untuk menyederhanaan, biasanya ada tiga macam lingkungan kerja di lembaga pemerintahan yang akan anda temui:

a. Lingkungan yang anti korupsi
Di lingkungan ini korupsi adalah tindakan memalukan dan tidak ada yang berani melakukannya secara terbuka. Selain itu, ada system yang cukup jelas untuk menghukum kalau pegawai ketahuan melakukan korupsi. Saya pikir, mungkin cuma KPK yang seperti ini.

b. Lingkungan cukup baik
Di lingkungan ini korupsi ada tapi tidak terlihat dengan jelas. Hanya terlihat kalau berusaha lebih jauh dan bergaul dengan orang – orang tertentu dalam jangka waktu cukup lama, barulah kita tau bahwa korupsi ternyata exist. Saya menduga korupsi dengan model seperti ini ada di lembaga – lembaga yang sudah remunerasi 100%.

c. Lingkungan yang buruk
Di sini korupsi sangat jelas, bahkan pada hari pertama anda masuk, anda sudah bisa menemukannya dan tidak ada satupun orang yang risih melakukannya.

3. Bagaimana strateginya?
JIka anda bekerja di lingungan yang anti korupsi atau lingkungan yang cukup baik, maka anda sangatlah beruntung karena relative mudah dalam mengamankan kehalalan harta anda. Tapi kalau anda ternyata masuk di lingkungan ke 3, maka anda bahkan lebih beruntung lagi karena disinilah ujian idealism anda. Selanjutnya, langkah anda tergantung dari sebaerapa buruk lingkungan anda

a. Lingkungan yang sangat buruk
Indikatornya adalah , bila orang yang mungkin anda kira menolak korupsi (pengurus masjid di kantor anda misalnya ) ternyata juga terbiasa korupsi, maka suka tidak suka anda harus menutupi sikap anda sebenarnya terhadap korupsi sampai anda berhak menyandang PNS. Ini sebenarnya adalah antisipasi bila ada orang-orang yang tidak suka dengan sikap anda. Pada saat anda telah PNS, maka anda sudah cukup aman untuk bersikap walaupun selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung orang lain; sebab yang kita benci adalah perilakunya, bukan orangnya.

Itu berarti, sampai sekitar 1 tahun anda “terpaksa” ikut dalam system. Dalam masa itu, anda terus berusaha menjelaskan bahwa anda kurang sreg dengan yang terjadi di tempat anda. Uang yang “terpaksa” anda terima bisa disalurkan di tempat lain (seperti yang pernah saya tulis dalam notes FB yang lain). Setelah anda PNS, anda sudah cukup umur untuk menolak segala macam bentuk penawaran yang ada.

b. Lingkungan yang buruk
Kalau ternyata ada golongan orang-orang yang jelas-jelas tidak terlibat, anda bisa merefer namanya bila anda ditawarkan untuk terlibat korupsi. Misal, bila nama anda ditawarkan untuk dimasukkan ke SPPD fiktif, tinggal bilang saja baik-baik dengan yang menawarkan kalau anda “segolongan” dengan si Fulan itu yang tidak bisa menggunakan uang SPPD kalau tidak berangkat. Lingkungan akan mengerti dan pada suatu saat tidak akan menawarkan lagi bentuk2 korupsi lainnya karena telah mendefinisikan anda sebagai golongan si FUlan. Tapi tentunya akan ada penawaran lagi di lain waktu,, sampai lingkungan benar-benar yakin kalau anda segologan dengan si Fulan sehingga segan untuk mengajak lagi.

——————————————————–
Poin dari tulisan ini adalah, penting bagi kita untuk berstrategi dalam menghindari diri dan keluarga dari jeratan korupsi yang sistematis. Sulit bagi kita untuk menghindari 100% dari menerima uang tidak halal bila lingkungan terbiasa dengan hal itu. Yang terpenting adalah niat kita yang kuat untuk menghidarinya dan strategi yang cantik sehingga mungkin kedepannya kita bisa mengubah lingkungan kita menjadi lingkungan yang resisten terhadap korupsi. Kita benci terhadap perilaku korupsi, tapi mungkin koruptor itu adalah teman-teman kita juga sedang alpaa akan idealismenya sehingga perlu diingatkan.

Buat CPNS baru, selamat bekerja. Negara ini butuh orang-orang terbaik seperti Anda. Keluar dari PNS untuk menghindari korupsi adalah salah jalan, yang lebih tepat adalah mencoba memperbaikinya dari dalam. Saya yakin, dengan banyakknya orang-orang idealis seperti teman2, maka korupsi akan cepat hengkang dari bumi pertiwi.

Wallahu’alam bishshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s