SIM C BOS

Suatu saat kantor kami diminta mengutus pembicara pada sebuah seminar di Palembang. Sesuai disposisi, berangkatlah 2 orang bosku. Namun pada saat mau berangkat, ternyata salah seorang tidak boleh meninggalkan kantor, jadilah saya yang diminta menggantikan. Dikarenakan sudah terlanjur memesan tiket, maka saya harus berangkat menggunakan nama salah seorang bos yang tidak jadi berangkat. Dari awal saya sudah ingin menolak, tapi karena bos meyakinkan dan sebelumnya beberapa kali teman pergi ‘aman aman’ saja akhirnya saya mengalah dan si Bos membekali saya dengan SIM C miliknya. Dan ternyata benar, beberapa tragedi menimpa saya…

 

Tragedi pertama terjadi pada saat menunggu boarding pesawat. Karena saya membawa tiket saya dan bos, maka saya harus menunggu bos sebelum naik ke pesawat. Ternyata bos terlambat, jadilah saya menunggu sambil dag dig dug. Bukan hanya terlambat, bahkan sangat terlambat sehingga saya diminta untuk cek-in terlebih dahulu. Setelah beberapa kali final call, akhirnya tepat pukul 6.05 (note: sesuai jadwal pesawat take off pukul 6.05) dia datang juga dan kami pun secepat kilat melewati pemeriksaan dan berlari2 mengejar bis yang membawa ke pesawat tersebut. Alhamdulillah, pilot masih berbaik hati menunggu kami dan akhirnya kami terbang juga ke Palembang pagi itu.

Singkat cerita kamipun menyelesaikan tugas dan langsung kembali sore itu juga ke Jakarta. Setelah sampai di Soeta, ternyata DAMRI tujuan rumah bos datang dan bos pun cabut duluan. Tidak lama berselang, saya mendapat perasaan aneh, kenapa Soeta sepi sekali. Akhirnya antrian taxi yang saya ikuti makin mengular seiring mendaratnya bebrapa pesawat di Terminal 2 tanpa ada tanda-tanda kedatangan taxi. Sekitar 1 jam berlalu sampai ada pemberitahuan bahwa tol bandara tergenang sehingga kendaraan tidak bisa masuk bandara. (Note: ini adalah pertama kalinya tol bandara tergenang sehingga sangat jarang angkutan umum maupun mobil pribadi yang mencoba jalur Tangerang). Waduh, kebayang hari yang melelahkan ternyata belum berakhir. Pikir2, sepertinya keadaan tidak berubah, maka saya segera menelpon teman asal Tangerang, minta dipandu ke luar bandara. Dia menyarankan saya untuk naik ojek sampai Kota Tangerang dan naik taxi dari sana lewat tol BSD. Saya sebenarnya malas naik turun ojek karena bawaan lumayan banyak juga, tapi mau bagaimana lagi?

Akhirnya saya pun naik ojek (dengan tarif banjir) ke Tangerang kota. Berhubung sudah malam dan sepertinya seluruh taxi telah dipanggil ‘membantu’ bandara , saya sulit sekali menemukan taxi, sampai berputar2 Tangerang. Akhirnya di sebuah jalan sepi yang gelap saya menemukan taxi berwarna hitam sedang mangkal. Ragu juga untuk menumpang taxi ini, tapi daripada pulang pagi, lebih baik saya naik taxi ‘aneh’ ini, toh saya laki-laki, jadi sepertinya tidak mungkin terjadi perampokan. Sayapun naik taxi ini, perjalanan lancar sekali dan sampai di rumah pukul 22.30. Alhamadulillah, hari yang melelahkan berakhir saya pun beristrirahat dan tidak menduga ada tragedi lain yang menanti.

Paginya, pada saat persiapan berangkat ke kantor, saya baru sadar kalau dompet saya hilang. Saya ingat terakhir melihat dompet pada saat membayar taxi, berarti kemungkinannya dompet saya jatuh di jalan atau di taxi. Saya dan istri mencari di jalan depan rumah, tapi tidak ketemu, wah ada tragedi lagi nih pikir saya. Pasti dompet saya ada di taxi semalam atau sudah ditemukan orang lain ketika jatuh di jalan. Tapi, saya yakin kalau di jalan pasti akan dikembalikan, bukan apa-apa, itu dompet bener2 ngg ada uangnya, cuma beberapa kartu ATM dan saya tidak pernah menyimpan PIN ATM di dalam dompet. Oh iya, SIM C bos juga ada di situ, waduh susah nih ngurusnya. Kemudian saya terpaksa mengurus surat kehilangan di Polsek terdekat dan jadilah saya mengurus seluruh kartu yang hilang, mulai dari KTP, Kartu ATM (DKI Syariah, Muamalat, Mandiri, Lippo) dan SIM C bos. Bener2 musibah nih.

Sesampai di kantor saya kabarkan bos tentang kejadian itu dan bos sih bilang ngg papa dan memang sudah jadi resikonya ‘nitip’ SIM C nya pada saya. Dan saya pun berjanji akan membantu pengurusan SIM C bos. Namun celakanya dia ngga menyimpan fotokopinya. Waduh, tambah ribet deh.

Tak diduga, keesokan harinya si supir taxi berbaik hati mengembalikan dompet saya beserta isinya langsung ke rumah saya. Alhamdulillah, blokiran ATM pun saya buka dan ngg jadi deh saya ikut2an ngurus SIM orang.:-)

Pelajaran yang cukup lumayan bagi saya yang ‘cuma karena’ berangkat pake identitas orang lain. PAling tidak ada 4 pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini:

  1. Jangan ‘menipu’ apapun tujuannya, pakai ID lain saat terbang adalah salah satunya.
  2. Hindari ‘membawa’ tiket orang
  3. Dont judge the taxi driver from his car.
  4. Penting untuk memiliki copy seluruh dokumen pribadi kita.

Yang jelas, setelah kejadian ini saya bisa ‘menghindari’ ditugasi pakai nama orang dan gemar menggunakan scanner di kantor….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s