HNW for DKI1

Beberapa hari yang lalu Taufik Kiemas telah terpilih sebagai ketua MPR periode 2009 – 2014. Sebagai salah seorang simpatisan HNW, bagi saya hal ini cukup mengecewakan, setelah tidak diterima sebagai Wapresnya SBY, HNW pun tidak dapat mempertahankan kursinya sebagai ketua MPR RI.

Namun, sebenarnya kenyataan ini justru membuka ada peluang yang lebih besar dari pada kursi RI-2 dan Ketua MPR. Peluang yang bisa meroket suara PKS pada pemilu 2014 dan bukan tidak mungkin menjadikannya RI-1 pada 2014. Kuncinya adalah mencalonkan HNW menjadi DKI-1.

Bila melihat kembali Hasil pemilu 2009 , suara partai Demokrat yang mencapai lebih dari 20% adalah semata-mata “penghargaan” rakyat terhadap kinerja Pemerintahan yang sebenarnya masih mengecewakan tapi much more better than previous leaders. Bisa dilihat dalam survey LSI, turun-naiknya suara partai Demokrat dari tahun 2004 – 2009 seirama dengan turun naiknya popularitas SBY sepanjang masa itu.Kalau saja dihitung menggunakan regresi statistik, saya yakin suara demokrat cuma dipengaruhi satu faktor saja, yaitu SBY🙂.(kalau mo coba hitung, lihat saja di LSI.or.id). Itu berarti, untuk negara seperti Indonesia, tokoh partai sangatlah berpengaruh dari pada kinerja total dari seluruh kader partai.

Melihat fakta tersebut, penting bagi parpol untuk memiliki tokoh yang kinerjanya cemerlang untuk mengkantrol perolehan suaranya. Yang perlu diperhatikan, rakyat harus melihat performance tokoh tersebut dalam bentuk yang mereka bisa lihat dan pahami. Sebagai contoh, posisi Menteri bukanlah posisi yang cukup ideal untuk showing performance, karena kinerja mereka akan dianggap sebagai bagian dari keberhasilan RI-1, bahkan RI-2 pun “sulit” mengklaim keberhasilan pemerintahan. Sebut saja, keberhasilan Menteri Pertanian untuk mencapai swasembada beras setelah 24 tahun, sudah pasti bukanlah kinerja seorang kader PKS, tapi lebih dapat dipahami sebagai keberhasilan RI-1 sebagai atasan Menteri Pertanian.

Kenapa HNW perlu maju menjadi DKI 1?

Banyak faktor yang membuat HNW patut untuk ‘turun pangkat’ menjadi DKI 1.

1. Selain sebagai ibukota negara dengan anggaran sangat besar, di DKI Jakarta, pemimpin daerah tingkat 2nya tidak dipilih melalui pilkada, melainkan ditunjuk oleh Gubernur. Tentu jauh lebih mudah mengatur DKI dibandingkan darah lain. Gubernur di daerah lain sulit mengatur daerahnya karena masih ada ‘raja-raja’ lain di bawahnya. Seringkali bahkan, walikota/bupati tidak sejalan dengan gubernur karena perbedaan asal partai.
2. Sejarah menunjukkan, pemimpin-pemimpin dari partai Islam dilahirkan dari ibukota. Sebut saja Erdogan dari Turki dan Mahmud Ahmadinejad dari Iran. Sebelum sukses sebagai orang nomor satu di negaranya, mereka adalah walikota yang berhasil memajukan ibukota negara, yaitu Istanbul dan Teheran.
3. Pilkada DKI tahun 2007 lalu sangat jelas menunjukkan perilaku pemilih DKI yang kontras berbeda dengan daerah lainnya. Dengan tingkat pendidikan maupun pendapatan dan juga kemajemukan , rakyat ibukota jauh lebih rasional dalam memilih pemimpinnya. Apalagi ibukota dikenal sebagai kota seribu Masjid yang sejak pemilu 1955 sangat bersahabat dengan partai-partai Islam, mulai dari Masyumi, PPP dan belakangan PKS.Pada 2007 lalu,hampir saja Adang Darajatun, tokoh yang baru dimunculkan pada 1 tahun sebelumnya, mengalahkan incumbent “bang Kumis” yang didukung partai 19 partai politik dengan dukungan politik dan dana tak terbatas.
4. Ditambah lagi, profil HNW sangat pas sebagai pemimpin ibukota. Pada pemilu 2004, suara HNW melewati Bilangan Pembagi Pemilih sebesar lebih dari 200 ribu suara. Ditambah lagi, dia juga terkenalsebagai orang yang sangat sederhana dan memiliki kemampuan komunikasi publik yang sangat baik. Tidak pernah HNW terlihat emosional di muka publik dalam pergulatan politik yang cukup panas. Sebut saja pada pertarungan merebut RI-2, walau HNW adalah tokoh PKS yang paling berpengaruh, tidak seperti beberapa petinggi PKS yang terlihat emosional, HNW terlihat terlihat bijaksana dan tawadhu.
5. Di sisi lain, walaupun banyak kalangan menilai kinerja HNW cukup menonjol pada saat menjabat MPR-1, namun tidak bisa dipungkiri, ujian kepemimpinan sebagai pimpinan legislatif belumlah cukup. Perlu ada pembelajaran bagi HNW untuk membuktikan kemampuannya sebagai orang nomor satu di badan eksekutif.

Obviously, kalau saja HNW maju sebagai DKI 1 dan berhasil membawa DKI Jakarta jauh lebih maju, magnitudenya akan sangat besar sehingga bisa menggerek suara PKS di 2014 dan bukan tidak mungkin HNW untuk RI-1. Wallahu’alam bishshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s