Golput? Kenapa ngg jadi Swing Voters aja?

Beberapa teman mengatakan akan golput pada pemilu 2009. Kalau saya tanya, maka pada umumnya mengatakan bahwa saat ini tidak ada lagi kandidat atau partai yang bisa dipercaya. Semua obral janji dan mengatakan kecap nomor satu, tapi setelah terpilih ternyata tidak menepati janji. Yah, memang sih memilih itu bukanlah kewajiban, namun hak, yang berarti terserah pemiliknya, boleh dipakai boleh tidak digunakan. Pertanyaannya, apakah golput itu sikap yang tepat? Saya berpendapat lebih baik menjadi swing voter dari pada golput.Why?

Pertama, walaupun fakta dari BPS menunjukkan > 90% penduduk Indonesia melek huruf, hanya 4% yang berpendidikan >= S1. 60% calon adalah <= lulusan SD , 19% lulusan SMP, 17 % lulusan SMA. Hal itu berarti, perjalanan bangsa ini banyak ditentukan oleh orang2 yang berpendidikan rendah sebab sistem pemilu yang dipakai adalah one man one vote. Orang berpendidikan rendah tentu akan cenderung menggunakan hak pilihnya lebih tidak bijaksana dibandingkan yang lebih berpendidikan. Bisa jadi mereka memilih berdasarkan ikatan persaudaraan, ikatan keagamaan, money politics, ataupun alasan lain yang kurang tepat. Dan, parahnya lagi, sebagian besar teman saya yang berencana golput itu adalah bagian dari 4% di atas. Jadi dapat diperkirakan hasil pemilu tahun ini akan semakin buruk saja bila teman-teman saya itu jadi untuk tidak memilih.

Selain itu, kita paham bahwa korupsi sudah mengakar di negara kita. Orde baru telah berhasil membudayakannya selama lebih dari 30 tahun sementara KPK belum genap 7 tahun. Sehingga, segala urusan kita mulai dari buat akte kelahiran, KTP dan apapun yang berhubungan dengan aparat, seringkali kita terlibat suap menyuap. Oleh sebab itu, bagi saya, menginginkan suatu partai bersih 100%, seorang caleg tidak punya dosa politik, itu hal yang tidak wajar dan mustahil sehingga tidak logis dijadikan alasan untuk tidak memilih. Lebih masuk akal kalau kita mencari tahu partai yang paling bersih dan caleg yang track recordnya paling bagus.

Swing voter
Orang disebut swing voter apabila ia tidak fanatik terhadap sebuah partai dan memilih berdasarkan kriteria tertentu. Misal, bila kriteria sebuah parpol/caleg yang baik adalah adalah bersih, peduli dan profesional, maka ia akan memilih partai/caleg yang paling mendekati kriteria tersebut. Bila dia mendapatkan ternyata partai/caleg yang dipilih tidak lagi sesuai dengan kriterianya, maka ia akan menghukum partai/caleg tersebut dengan swing ke partai/caleg lain (yang paling memenuhi kriteria) pada pemilu selanjutnya. Sebailknya, bila ia merasa bahwa partai yang dipilihnya konsisten dengan kriterianya, maka ia tak segan2 untuk mempromosikannya pada calon pemilih lainnya,tanpa menjadi fanatik terhadap partai tersebut. Hal ini akan membuat tujuan pemilu sebagai ajang reward dan punishment akan terealisir dan saya optimis negara kita akan menjadi lebih baik sebab partai/kandidat akan berlomba-lomba berbuat sebaik-baiknya untuk memenuhi kriteria swing voters.
———-
"Duh belum ngecek DPT nih, jangan2 gw jadi golput gara2 ngg ada di DPT, waduh..

3 thoughts on “Golput? Kenapa ngg jadi Swing Voters aja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s