Anak-anakku dan cerita dibalik namanya

Dahulu saya senang sekali kalau ayah saya menceritakan hal2 istimewa tentang delapan anaknya. Oleh karenanya, saya coba berbagi kisah dibalik nama anak dan doa saya didalamnya…

  1. Zaki Abdurrohman

Saya masih ingat 3 bulan sebelum Zaki lahir, Departemen ESDM buka lowongan. Ketika itu jurusan TI hanya menerima satu orang saja sementara peminat lebih dari seratus orang, paling ketat persaingan di penerimaan PNS ESDM masuk tahun 2006. Karena istri dah hamil tua, saya jadi malah yakin saya akan diterima walau saingan banyak karena rejeki anak. Ternyata benar saja, Alhamdulillah, setelah tes tertulis dan wawancara, saya termasuk 33 orang peg baru Ditjen Migas ESDM masuk Mei 2006.

Selain membuka pekerjaan baru, ternyata ada ‘pesan’ tersendiri dari anak pertama saya. Saya menamakan anak saya Zaki Abdurrohman. Pada saat itu saya berpikir untuk menjadi seorang pemimpin orang-orang beriman, pandai adalah syarat mutlak. Setelah konsultasi dengan seorang teman yang bisa berbahasa arab, dia menyarankan nama Zaki. Yang mengherankan, kenapa pada saat itu saya tidak diskusi dengan teman lain atau paling tidak dengan Bapak saya yang mengerti bahwa yang berarti pandai bukan Zaki melainkan Dzaki. Bisa – bisanya ngasih nama salah, untung masih berarti baik ya…. Zaki berarti putih, bersih, suci.

Ternyata ada ‘nasehat’ dari Zaki kepada saya, yang saya baru sadari beberapa lama kemudian. Saya tadinya mengira PNS itu banyak yang korupsi, setelah masuk ternyata semua PNS korupsi, kecuali sebagian kecil saja. Shock juga, pindah dari bank syariah yang selisih satu rupiah hak nasabah kita usahakan untuk dikembalikan, lah ini, **********(tau sama tau lah ya…)

Zaki ‘menasehati’ saya untuk menjaga kesucian harta kami, bahwa kebersihan harta lebih penting dari pada banyak harta tapi subhat bahkan haram. Saya menyadari memang saya tidak mungkin tidak terlibat dan ‘kecipratan’ uang tidak  berkah itu mengingat korupsi sudah menjadi system yang kokoh, tapi saya berupaya sekuat tenaga untuk tidak mendapatkan, kalau pun terpaksa, menyalurkan ke tempat lain.

 

2. Hilwa Tsabita Millati

Anak saya kedua bernama Hilwa Tsabita Millati, berarti manisnya (Hilwa) berpegang tegung (Tsabita) pada agama (Millati).  Dilahirkan ketika saya ikut training hampir sebulan ke beberapa kota di Jepang. Ini merupakan pengalaman ke luar negeri pertama kali bagi saya dan saya merasa kesempatan ke luar negeri ini merupakan rejekinya Hilwa.

Ketika menamakan Tsabita, saya terinspirasi oleh beberapa teman yang walaupun tidak terlalu cerdas, tapi luar biasa usahanya. Saya ingin memiliki anak yang tangguh, ulet, pekerja keras, karena pintar itu tidak cukup kalau kita ingin masuk surga, usaha itu adalah mutlak.

Nasehat dari Hilwa kepada kami, orang tuanya dimulai ketika dia dilahirkan dengan Hb 5,5 saja, padahal bayi normal lahir dengan Hb 15- 19. Bisa dibayangkan betapa paniknya istri saya dan sedangkan saya sedang yang berada 5000 mil dari RS. Langsung diperiksa keadaannya, alhamdulillah secara organ terlihat baik2 saja dan setelah ditransfusi diperbolehkan pulang. Dokter anak yang memerikasa memberikan kepada istri saya beberapa journal kedokteran yang menjelaskan kemungkinan bayi lahir dengan Hb sangat rendah. Tentu bisa dibayangkan dengan haemogoblin rendah, kemungkinan penyakitnya hampir seluruhnya menyeramkan, mulai dari Thalasemia, leukemia, dan beberapa lainnya yang merinding bila membaca deskripsi penyakit tersebut.

Karena pemeriksaan belum menemukan hasil, dokter sementara menyimpulkan terjadi infeksi yang menyebabkan Hb menjadi rendah. Sampai pada saat Hilwa umur 7 bulan, ternyata HB nya drop lagi, dan dokter merujuk ke dokter ahli darah di RSCM, mentornya ketika mengambil spesialis. Dari dokter ahli ini, kami diminta memeriksa ke Eijkman, lembaga penelitian yang banyak meneliti tentang kelainan darah. Saya masih ingat sedihnya ketika harus mengantar Hilwa yang Hbnya Cuma 6,6, untuk diambil darah cukup banyak, padahal sulit sekali mengambil darahnya. Untunglah suster di Eijkmen cukup ahli sehingga mampu mengambil darah untuk beberapa tes. Saya cemas, lelah dan kasian melihat Hilwa. Sakit apa anak saya?

Alhamdulillah, hasil tes Thalasemia negative, sehingga dokter mendiagnosis anak saya anemia defisiensi zat besi, anemia kekurangan zat besi, obatnya banyak mengkosumsi makanan/vitamin mengandung zat besi. Sejak saat itu, beberapa kali saya tes Hb Hilwa, walaupun masih sedikit dibawah normal, tapi saya berharap Hilwa baik-baik saja. Yang jelas, sesuai namanya, Hilwa menjadi ujian kesabaran dan ketegaran untuk selalu berada di jalan-Nya…

 

 

3. Umar Abdul Aziz

Umar dilahirkan ketika saya akan bernagkat S2 di Hiroshima University. Alhamdulillah, setelah beberapa tahun berusaha mencari beasiswa, Allah memberikan jalan-Nya. Bayangkan, apa ada lowongan beasiswa luar negeri dengan IP cuma 2,75? Ini pasti rejekinya Umar.

Syukur yang kedua, Alhamdulillah, masuk diijinkan untuk mengadzankan anak saya yang ke3, walau sorenya saya langsung take off ke Kansai Airport. Nama ini saya ambil dari khalifah ke 5, Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang hidup sekitar 100 setelah hijrah. Beliau cuma menjadi khalifah selama 2 setengah tahun, tapi subhanallah, bisa mewujudkan masyarakat yang ideal, kaya, dan juga distribusi pendapatan(income distribution)  sangat baik, ini bisa dilihat dari zakat yang terkumpul di baitul mal sebagian menjadi busuk karena semua orang miskin telah tercukupi kebutuhannya. Coba bayangkan, negara mana yang seperti itu? Dan cuma butuh 2, 5 tahun?

 

Saya bercita-cita agar Umar menjadi pemimpin yang bisa membawa negara ini maju, apalagi beberapa tahun ini saya sangat geram melihat keadaan negara yang semakin kacau. Korupsi dimana-mana, kejahatan, kemiskinan, akibatnya, bencana terjadi diseluruh negeri. Yang paling mengecewakan, banyak hal yang semestinya bisa diselesaiakan oleh orang sekaliber ***, presiden yang saya centang tiga kali namanya (2004 2X, 2009 1 X), tapi ternyata tidakl dilakukan. Ada yang bilang, kita tidak boleh mengeluh, tapi berbuat yang kita bisa buat.  Yang bisa saya kontribusikan kepada masalah bangsa ini cuma memperbesar kapasitas saya sampai maksimal dengan sekolah setinggi-tingginya sehingga jika ada peluang, saya bisa menggunakannya untuk kebaikan. Dan, kalo ternyata, peluang itu belum ada, saya sudah mempersiapkan 3 orang anak yang Insya Allah saya didik sehingga mungkin di masa mendatang akan bisa memimpin Indonesia, bahkan dunia…Amien

 

 

Jum’at, 8 Oktober 2010

Labnya Kaneko Sensi

Saijo, Higashi Hiroshima

 

Buat 4 orang soulmateku, aku titipkan kalian semua kepada Allah yang Maha Memelihara. Aku berdoa, seperti dicontohkan Nabi Allah Ibrahim AS.

 

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan keturunanku, sebagai orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat. wahai Rabbku, kabulkanlah doaku.”

 

2 thoughts on “Anak-anakku dan cerita dibalik namanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s