Sharing Session Short Course/Visiting Scholar Fulbright

Kampus-kampus terbaik di dunia saat ini ada di USA. Tentunya bikin kita pengen apply beasiswa ke sana ya… Selain studi s2/s3 ada juga loh peluang short course ataupun visiting scholar di sana…

Berikut sharing dari Kang Fathurrohman, alumni FISIP UI 2001 yang mendapatkan kesempatan 3 bulan visiting scholar di California State Univ dengan beasiswa Fulbright Aminef. Yuks disimak tips-tipsnya… di ASNation Channel https://www.youtube.com/watch?v=wpJ_zim17OM

Presentation1.jpg

 

Sharing Session PNS Teladan Nasional

Jadi PNS mah santuy, ngg usah kerja lebih giat dari yang lain, toh semua tergantung senioritas. Apalagi jaman sekarang, mau buat improvement di kantor kita? Mana ada penghargaannya? Bikin ribet aja, nambah kerjaan

Kalau kita bekerja ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT, berharap di hari akhir kelak Allah memamerkan amal sholeh kita, maka tentu ngg akan ada pikiran seperti di atas. Apalagi sekarang jamannya 4.0, semakin banyak ruang dan media ekspresi yang kemungkinan dapat jadi amal sholeh yang terus menerus memberikan kebaikan kepada kita di saat semua jalan kebaikan sudah tertutup.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” Al-Kahfi ayat 110

Pekan lalu saya beruntung dapat bertemu dengan mba Indri Mulyani, alumni Farmasi UI ’99, seorang penerima penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan Nasional I tahun 2017 dan Alumni UI Inspiratif 2019 dari Iluni UI.

Terus terang malu sendiri kalau mengikuti cerita mba Indri, dalam waktu singkat dapat melakukan banyak inovasi-inovasi kebaikan dalam ruang lingkup kerjanya.

Yuks disimak di channel ASNation berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=mWIsJvXTQME

luthfi indri.jpg

 

 

Cara Memesan Makanan Halal di Pesawat

Saat kita travel ke LN, kadang kita mengalami kesulitan saat pemesanan makanan. Untuk penerbangan nasional, saya pernah menanyakan ke Garuda, mereka menegaskan makanan semua dijamin halal . (makanan ya, bukan minuman kaya wine dll).

Untuk penerbangan asing, teman2 bisa membuka websitenya dan mencari menu pemesanan makanan. Sebagai contoh untuk maskapai Chatay Pacific, silahkan masuk ke menu Mengatur Pemesanan.

Capture pemesanan halal

Nanti kita diminta login ke kode booking kita, dan akan ada pilihan pemilihan kursi, penambahan bagasi dan makanan.

 

Capture pilihan makanan

tinggal kita pilih makanan halal.

Pengalaman saya misalnya dengan penerbangan Aeroflot beberapa tahun lalu, maka makanan kita akan diberikan khusus. Saat terbang ke London via Moskow, saya mendapat 4 kali makanan halal, dan tentunya ada konsekuensinya, bisa jadi kita mendapatkan 4 makanan yang sama. Tapi gpp lah, demi usaha mendapatkan makanan yang terjamin kehalalannya. 

Bukannya Allah SWT telah berfirman:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS: Al-Baqarah: 168).

Pada suatu hari, Sa`ad bin Abi Waqqash meminta kepada Nabi Muhammad agar berdoa untuknya supaya dijadikan orang yang doanya segera dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Nabi berkata, “Perbaikilah makanan yang engkau makan, yakni makanlah makanan yang halal, niscaya engkau akan menjadi orang yang doanya mudah terkabul.

 

 

 

 

Contoh Teladan dari Ibu

Hari ini satu pekan lebih ditinggal almarhumah Ibu. Waktunya menulis kenangan agar kita belajar dari kebaikan orang-orang terdekat yang mendahului kita kembali ke Rahmatullah.

Paling tidak ada 3 amal istimewa Ibu yang menurut saya menjadi catatan tersendiri

1. Hidupkanlah Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah

Ibu adalah aktifis penggerak dakwah Aisyiyyah, khususnya di wilayah Pasar Minggu. Bersama Bapak dan teman2nya ikut membangun TK. Ibu menjadi kepala sekolah setelah anak bungsunya yang kembar  lahir.

Kita mungkin cuma bisa kagum dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang begitu massif dimana-mana, tapi tidak menganalisa kenapa bisa sedemikian banyak dan berkualitas. Kalau sekolah milik pribadi, wajar menjadi maju, kalau milik bersama (umat/yayasan), agak menjadi tanda tanya, kok bisa? Karena sekolah pada dasarnya bisnis juga, tempat mencari nafkah. Namun sesuai motonya tadi, maka banyak aktifis Muhammadiyah yang tidak cari hidup disana, namun mencari cara menghidupkan sekolah agar dapat terus bertahan.

Pernah kami anaknya iseng-iseng tanya, bu, emang jadi kepala sekolah gajinya berapa?

Ternyata cuma Rp.50.000, walaupun itu jaman dulu, tapi tetap kecil banget, cuma syarat aja biar kerja ada upahnya. Semoga menjadi amal jariyah beliau…

Selain itu Ibu juga sering mengumpulkan orang-orang yang kurang mampu dan memberikan semacam santunan. Saat anak-anaknya sudah bekerja, biasanya kalau ada hal-hal yang patut disyukuri, ibu meminta sejumlah uang untuk kemudian dibagi-bagi ke tetangga-tetangga yang kurang mampu.

2. Punya anak banyak

Ibu melahirkan 8 orang anak dalam waktu 11 tahun, berarti rata-rata melahirkan  setiap satu setengah tahun.  Berjuang “melawan” maut dan rasa sakit yang demikian berat.  Yang terakhir kembar pula, kebayang susahnya punya anak kembar di usia 38 tahun. Saya ingat waktu SD, sempat sekali2 tidur bersama si kembar yang masih bayi. Karena belum jamannya pampers, tiap jam Ibu harus bangun, ganti popok. Karena kembar, maka gantian aja mereka pipis, jadi tiap malam dapat dipastikan tidak bisa tidur nyenyak.

Beratnya punya anak banyak, selain melahirkan adalah ketika kami (anak-anak) sakit. Anak sakit itu kombinasi antara lelah fisik dan mental, apalagi kalau jumlahnya banyak, bisa dibayangkan.

Pernah saya tanyakan, kenapa mau punya anak banyak? Kan memang nabi pesannya begitu, agar umatnya banyak. Biar banyak yang doain Ibu juga, anak itu investasi akhirat. Iya sih, teorinya kita pasti tahu, tapi prakteknya pasti pikir panjang.

Namun, ada juga salah satu pesan beliau, “Luthfi, kamu tahu ngg ustadzah yang itu, masa anak-anaknya narkoba. Kamu jangan begitu ya, kan malu kalau Bapakmu ceramah dimana-mana, ternyata anaknya sendiri ngg keurus. Orang jadi ngg percaya sama ulama kalau begitu.” Tidak cuma punya anak banyak, mendidiknya itu juga PR yang tidak ringan.

 

3.  Pendidikan

Ibu selalu concern dengan pendidikan anak-anaknya. Memang secara konten, tidak bisa mengajari karena kesibukan, namun apabila kami berprestasi, kelihatan beliau bangga. Misal saat mendengar saya bisa masuk SMA 28 dan UI, beliau senang , bangga dan menceritakan ke teman-temannya dengan mata berbinar-binar. Selain itu kunjungan ke kost kami (apabila bersekolah jauh dari rumah) menjadi hal rutin. Mulai dari Bandung, Purwokerto, Solo, Melbourne sampai Hiroshima beliau jalani.

Disisi lain, kalau ada anaknya yang nilainya kurang bagus atau masalah lain, beliau santai saja, tidak reaktif, suatu hal yang sulit bagi saya.





Allohummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa. Allohumma laa tahrimnaa ajrohaa wa laa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa

Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia. Bebaskanlah dan maafkanlah dia. Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya yang akan sampai kepada kami, dan jangan Engkau memberi fitah kepada kami sepeninggalnya serta ampunilah kami dan di

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Ya Allah jadikanlah kami semua termasuk anak anak yang sholeh/ah….

 

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. QS Al Ahqof : 15

Mari Jaga Harta Kita

 

Kisah#1

Ada yang kenal dengan Tsabit bin Ibrahim? Mungkin tak banyak. Namun sepenggal kisah hidupnya pantas menjadi pelajaran kita bersama. Suatu hari Tsabit berjalan dalam keadaan lapar. Dalam perjalanan itu, saat menyusuri sungai, dia melihat sebuah apel yang mengambang di sungai. Tanpa berpikir panjang, diapun segera menggigit buah itu untuk mengurangi rasa laparnya.

Setelah satu gigitan, dia tersadar bahwa buah ini bisa jadi milik seseorang. Dia menyesal telah memakan buah yang bukan miliknya dan bertekad meminta kepada pemiliknya agar mengikhlaskan buahnya. Diapun segera menyusuri sungai sampai ke tempat dimana buah itu berada.

Diapun mengetok pintu rumah dan menanyakan apakah ada pemilik kebun buah di rumah itu. Pemiliknya pun keluar dan bertanya maksud dan tujuan Tsabit datang ke rumahnya. Tsabit pun menjelaskan kalau dia meminta izin memakan buah tersebut sambil membawa buah yang sudah tergigit sebagian.

Pemilik kebun keheranan sejenak, kok ada orang yang seperti Tsabit ini ya. Kemudian mengatakan bahwa ia mengikhlaskan buah tersebut dengan syarat:

Tsabit harus menikahi anak perempuan si pemilik kebun yang buta, tuli dan bisu

Mimpi apa ya aku semalam, begitu kira-kira pikiran si Tsabit. Cuma gara-gara segigit buah, eh sialnya bisa seumur hidup. Namun karena Tsabit yakin bahwa ini adalah taqdir Allah, maka diapun mengikuti permintaan sang pemilik kebun.

Singkat cerita, ternyata istri yang dinikahi Tsabit adalah istri yang sholehah. Kecacatannya itu adalah tuli; tidak mendengar hal -hal yang buruk; bisu, tidak membicarakan hal-hal yang batil; dan tidak pernah melangkah ke tempat- tempat maksiat.

Dan anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut adalah Abu Hanifah, nah kalau ini pastinya kita tahu. Kok bisa? Ya bisalah, wong harta aja dijaga, apalagi keluarganya, itulah sebabnya dari pernikahan yang demikian dilahirkan seorang ulama besar.

Kisah seperti ini bukan satu satunya kisah teladan yang ada, misalnya kisah Umar bin Abdul Aziz yang merupakan cucu/cicit Umar bin Khatab hasil pernikahan anak Umar bibn Khatab dengan penjual susu yang jujur (pasti dah pernah dengar kan ceritanya.

Kisah#2

Agak sungkan juga mau cerita hal ini, tapi untuk menjadi pelajaran, bolehkah kita ketengahkan.

Ada seseorang yang bekerja di suatu tempat. (agak ditutup-tutupi agar menyamarkan identitas). Beliau ini bagian keuangan yang merupakan gerbongnya koruptor di sebuah kantor. Sebagai bagian gerbong, tugasnya adalah mengumpulan uang dari perjalanan dinas. Setiap perjalanan dinas ataupun proyek dipotong sekian persen dengan alasan untuk biaya pertanggungjawaban bila ada pemeriksaan. Bertahun-tahun begitu, sampai akhirnya beliau dimutasi ke suatu tempat karena atasannya yang baru,  tahu yang diperbuat beliau.

Di tempat baru, ternyata memiliki proyek besar, dan beliau pun bermain disana. Tidak heran ketika pensiunpun beliau ini punya beberapa mobil mewah, motor besar, rumah besar dan beberapa usaha.

Sekitar 2 tahun setelah pensiun, mantan anak buah beliau mendapat telpon dari beliau. Beliau mengatakan bahwa beliau sedang di rumah sakit dan ngg bisa keluar RS karena belum bayar tagihan. Waduh, anak buahnya bingung, kok bisa ya? Kan dulu jaya di darat laut dan udara, kok bisa menjadi susah dalam waktu singkat. Dan usaha-usahanya pun katanya bangkrut, anak-anaknya pun bermasalah terkait pernikahan yang kurang harmonis.


Pilih mana 1 atau 2 (bukan pilpres lo ya 😀 )

Ya pasti pilih kisah #1 lah.

Yang jelas, saya dan rekan-rekan para suami adalah pencari nafkah, sehari-hari menemui masalah seperti ini. Apalagi PNS/ASN. Pengalaman beberapa tahun menjadi pegawai swasta, menemui kesempatan mendapatkan harta haram/subhat sangat besar ketika berkarir di birokrasi, dan sangat jarang menemukannya di swasta. Bagaimana sih menghadapinya?

  1. Menyakini bahwa Allah telah menjamin rezeki kita

Allah SWT berfirman dalam surat Huud: 6

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Kalau sudah dijamin, buat apa kita mencari yang subhat apalagi haram?

2. Menghindari harta syubhat

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Nah, diskusi pada pengajian SMA 28 ’96 hari \ini lumayan hangat masalah ini. Karena definisi syubhat, yang samar-samar dapat membuat kita berbeda pendapat. Kalau saya pribadi sih, yang dinilai pakai hati ajalah, untuk membedakannya dengan harta halal/haram.

 

3. Hindari jebakan-jebakan keharaman yang sudah lazim

Riba misalnya, jelas sekali dosanya begitu besar. Namun zaman sekarang, demikian banyak tawaran ribawi. Sebagai contoh, apabila kita ingin membeli kendaraan, maka bayar tunai itu malah jadi susah dibandingkan dengan pinjaman bank konvesional. Padahal kalau logika, tunai harusnya lebih memudahkan dealer, karena tidak ada resiko, namun tentu jasa pinjaman yang ikut di dealer tidak akan dapat untung.


Susah ya menjaga harta? Yah…namanya juga ujian, sesuai firmannya di QS 64:15

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Semoga Allah SWT menguatkan jiwa kita untuk dapat mengatasi ujian harta sehingga keluarga kita dapat melahirkan generasi-generasi terbaik.

 

#pengajian28’96, 27 Oktober 2018

 

Pengajian selanjutnya Insy Allah akan dibahas akad-akad muamalah yang merupakan hasil diskusi setelah materi hari ini, oleh Akh Luqman sebagai praktisi perbankan syariah.

 

 

Dodo dan Syamil

Salah satu film kartun anak-anak yang bagus banget itu Dodo dan Syamil (lupa judul aslinya apa, ingetnya tokohnya aja).  Misal, dalam salah satu episode, Syamil dan Dodo kejar-kejaran ke kuburan, kemudian ngg sengaja ketemu rombongan yang sedang menguburkan anak kecil. (Agak lupa dialognya, intinya sbb)

Dalam film itu Dodo bertanya ke seorang Kakek tua yang ada di rombongan itu

Dodo : Innalillahi wainna ilaihi roojiun, Kek, siapakah yang meninggal?

Kakek : Itu cucu Kakek nak

Dodo : Astaghfirullah, kok cucu Kakek meninggal duluan Kek?

Disinilah masuk pesan film kartun ini

Kakek : Nak, ajal itu tidak mengenal usia, kadang masih kecil sudah kembali, kadang masih muda, kadang sudah usia seperti Kakek. Tidak selalu yang tua yang meninggal terlebih dahulu.

Dodo : Oh gitu ya Kek.


Ingat waktu itu nonton ini bareng Zaki dan Hilwa, mereka ngangguk-ngangguk.

Zaki   : Berarti Zaki bisa meninggal lebih dahulu dari Ayah ya?

Saya   : Iya,semua sudah ditentukan…


 

Usia kita semua sudah ditentukan 50 rb tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.  Umur kita tidak bisa memanjang, seperti nyanyian saat ada perayaan ulaang tahun. Yang bisa adalah memperbanyak amal sholeh yang dampaknya melampaui usia kita. Misal, di kantor ada sistem yang buruk, kemudian kita mengubahnya, maka amal sholeh kita tetap ada selama perubahan itu tetap bertahan, dan mungkin saja melampaui usia biologis kita.

Banyak tokoh-tokoh besar seperti misalnya Imam Nawawi yang usianya hanya mencapai 40 tahun, namun usia kebaiakannya jauh melampaui usia biologisnya dengan karya-karyanya yang luar biasa melintasi milenia.

Itulah sebabnya saya suka menulis di blog, dalam usaha agar  usia kebaikan bisa melampaui usia saya, walau secara bakat, menulis bukanlah keahlian saya (keliatan kan kualitas tulisan saya, hehehe) , namun yang terpenting keep writing, keep sharing…


Ditulis dalam sedih pada perjalanan Gambir – Pekalongan, bertakziah ke keponakan saya Hafhshah yang kembali kepangkuan-Nya kemarin siang. Innalillahi wainna ilaihi roojiun, semoga Umi dan Abi Hafshah chan diberi kesabaran dalam menerima ketentuan ini dan kelak bertemu di Jannah-Nya. Aamiin YRA.

 

 

 

Inpassing ke Fungsional Yuks, Sharing Pengalaman Inpassing Ke Analis Kebijakan

Capture inpassing

(STOP PRESS: sudah saya buatkan video penjelasan inpassing analis kebijakan https://youtu.be/di34TlzKGPg , semoga jadi lebih jelas,  ditonton ya…


 

Inpassing atau penyesuaian sesuai PermenPAN No 2 tahun 2016 adalah proses pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional guna memenuhi kebutuhan organisasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dalam jangka waktu tertentu. Gampangnya begini, misalnya kita bekerja sebagai Analis Harga dan Subsidi Bahan Bakar selama 12 tahun, which is jabatan struktural dengan grade terendah yaitu 7. Kita dimungkinkan menyesuaikan pengalaman kita sebagai analis setara dengan jabatan fungsional Analis Kebijakan Muda 3D, dan akan mendapatkan tunjangan fungsional dan grade 9. Enak kan? Pekerjaan sehari-hari sih sama saja, tinggal mendokumentasikan apa yang kita lakukan sehari-hari dan ada tambahan pekerjaan yang dapat kita lakukan. Ngg harus ke Analis Kebijakan sih, apabila kita bekerja di bagian pelaporan misalnya, maka kita bisa inpassing ke fungsional perencana.

Bagaimana caranya?

Inpassing sesuai definisinya penyesuaian yang  terbatas sampai jangka waktu tertentu. Untuk fungsional Analis Kebijakan (AK) dibatasi hanya sampai Desember 2018. (Info terbaru diperpanjang sampai Desember 2021) Kita dapat mengajukan ke Bagian Kepegawaian dan akan diteruskan ke instansi pembinanya (untuk AK adalah LAN).

Untuk AK, ada uji kompetensi yang harus kita lewati:

  1. Uji Tertulis (2,5 jam)
  2.  Uji Wawancara

Pada tanggal 2 dan 3 November 2017, saya mengikuti uji kompetensi tersebut di LAN jalan Veteran Jakarta bersama beberapa teman KESDM dan beberapa kementerian lain.

Pada uji tertulis, kita diminta membuat Policy Brief dengan tema tertentu. Dalam uji tertulis ini kita diberikan bahan dengan tema kebijakan Pemerintah sekitar 30 halaman dan diminta meresumenya dalam format Policy Brief. Penjelasan tentang Policy Brief  diberikan pada saat briefing hari pertama. (Tersedia juga jaringan internet untuk googling)

15002376_1826798790935133_1271612163538382403_o.jpg

Susah ngg ya? Lumayan menantang sih, karena kadang kita pernah denger sebuah kebijakan, misalnya kebijakan pembiayaan perumahan dengan fasilitas khusus; cuma tentu untuk membuat itu dalam format Policy Brief dalam waktu 2,5 jam cukup sulit, terutama apabila kita belum terlalu mengerti pro and kons nya untuk membuat usulan dalam bagian Policy Brief  itu menjadi cukup berbobot.

Sangat beruntung, tema saat uji tertulis waktu itu tentang Blok Masela, which is pro kontranya adalah offshore vs onshore yang sudah lumayan tahu karena terkait pekerjaan.  Pengalaman teman lain yang ujian pada waktu yang lain dan mendapatkan tema di luar pekerjaannya cukup pusing juga saat menuliskan Policy Briefnya.

Setelah Policy Brief selesai, dilanjutkan dengan wawancara sesuai CV yang telah kita berikan dan satu tulisan kita tentang pengalaman terlibat dalam sebuah kebijakan. Apabila teman2 telah memiliki tulisan dalam jurnal ilmiah atau media lain, sangat disarankan untuk menuliskannya di CV, karena penguji melihat bagian publikasi sebagai bagian yang sangat penting. Kalau belum ada publikasi yang “resmi”, skripsi dan tesis sepertinya bisa dimasukan sebagai publikasi, termasuk juga pengalaman sebagai speaker di konferensi nasional atau internasional.

Penilaian

Penilaian terdiri dari kemampuan analisis dan kemampuan politis. Kemampuan analitis adalah kemampuan untuk mengidentifikasi isu/masalah, mengumpulkan dan mengorganisir data/informasi, mengidentifikasi opsi/alternatif, mengevaluasi keuntungan, biaya dan resiko, dan menyajikan informasi kebijakan/membuat saran kebijakan terbaik, serta mengidentifikasi dampak dalam pelaksanaanya. Kelihatannya kemampuan analisis ini dilihat dari hasil Policy Brief yang kita buat.

Sedangkan kemampuan politis adalah kemampuan untuk menginformasikan hasil
analisis kebijakan, bekerja dalam konteks politik dan membangun jejaring kerja. Dengan kata lain kemampuan mengadvokasi informasi kebijakan. Tebakan saya, penilaiannya didapat dari hasil wawancara CV dan tulisan singkat tentang keterlibatan kita dalam sebuah policy Pemerintah.

Adapun batasan nilai kelulusan sesuai perkalan adalah sebagai berikut:

Capture nilai analis kebijakan.JPG

Berdasarkan informasi yang saya dapat, nilai saya untuk analisis adalah 88,80 dan kemampuan politis adalah 90,75 sehingga nilai rata-ratanya adalah 89,78 yang sudah memenuhi nilai terendah untuk menjadi Analis Kebijakan Ahli Muda, yaitu >= 80. Karena ini adalah inpassing, bukan perpindahan jabatan, maka walaupun nilai saya hampir mendekati nilai minimum Analis Kebijakan Utama, namun tetap disesuaikan menjadi Analis Kebijakan Ahli Muda.

Selain itu, angka kredit yang saya dapatkan pun standar, dengan Golongan 3C selama 3 tahun maka saya mendapatkan kredit awal sebesar 264.

angka kredit.JPG

Goodluck buat teman2 yang berminat mengikuti inpassing, semoga sukses

 

Sumber informasi lebih lanjut tentang AK bisa dilihat di

http://pusaka.lan.go.id

https://www.facebook.com/komunitas.analiskebijakan

 

 

 

Karir Birokrat, Birokrat Karir : Cerita Tentang Assessment

Career

Awal Januari 2018 ada WA masuk dari teman Biro Kepegawaian, ngasih tahu kalau besok pagi diminta ikut assessment. Hmm, agak males juga sebenarnya, saat itu lagi PW di perpustakaan UI, ngerjain “PR” yang satu itu. PR yang bikin cuti tahunan habis di satu bulan saja.

Apalagi waktu itu lagi nunggu hasil inpassing ke Analis Kebijakan Muda, suatu fungsional anyar yang menarik juga, mengingat pekerjaan dan jurusan kuliah udah sesuai banget. Mayan, salah satu cara biar grade 7 berubah jadi grade 9 , grade yang ngg akan berubah kalau kita masih staf alias fungsional umum. Ditambah lagi pas wawancara yakin banget bakal lulus (hahaha PD amat ya), abisan pewawancara yang harusnya tanya CV malah “konsultasi” bagaimana pengalaman menggunakan data sekunder Indonesia, soalnya dia lagi mau neliti tentang sesuatu dan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan di Indonesia. Well, mungkin itu juga bentuk wawancara juga sih, cuma stylenya unik juga.

Setelah mikir-mikir, ya sudahlah, jalani saja, itung-itung menjawab penasaran juga, binatang apa itu assessment. Tanya kiri kanan, teman-teman yang sudah ikutan duluan, biar kebayang prosesnya.

Yang jelas ASN jaman now, trendnya adalah karir ditentukan sama tes yang namanya assessment, bukan lagi kedekatan, kesamaan gerbong dan grup-grup lainnya. Saya sebut trend karena ngg semua juga sih, tergantung tempatnya juga. Tapi kalau dibandingin dengan tempat lain, ESDM mungkin termasuk yang terdepan, karena eselon 4 pun, which is jabatan terendah, menggunakan assessment ini tanpa ada intervensi hasilnya. Gampangannya, kalau dari konsultannya bilang dari 5 kandidat hasilnya adalah si A nilai tertinggi, maka yang diambil ya si A, tanpa melihat lagi hal lainnya. Wallahu’alam apakah semurni itu, tapi menurut saya sih idealnya memang begitu.

Lanjut ceritanya….

Jadi hari itupun berangkat pagi ke UI Salemba, ke sebuah lembaga manajemen. Setelah isi ini itu tentang data pribadi, tes pun dimulai. Ada 2 modul utama, sebut saja gitu: Modul  semacam TPA, dan modul wawancara.

MODUL TPA

Modul TPA standarlah, ada series, terus logika, dan diakhiri hitung cepat. Nah disini ternyata sempet2nya bikin kesalahan konyol, salah baca perintah pada salah satu submodul. Standarlah TPA itu waktunya terbatas dan tidak boleh mengerjakan satu sub modul yang lain , apabila sudah selesai di sebuah submodul. Ya tunggu aja sampai disuruh ngerjain submodul selanjutnya.

Nah pas ngerjain sub modul 2, ada 30 soal yang harus dikerjakan, nah saya entah kenapa bacanya cuma ada 20 soalnya.  Jadi ya ngerjain aja itu 20 soal, pas soal ke 20 selesai sebelum waktunya,  seperti biasa balik ke nomor 1, kali aja ada yang salah ngitung.

Pas psikolognya bilang lanjut pada submodul 3, baru kelihatan kalau ada 10 soal yang belum dikerjain, bahkan belum dibaca sama sekali. Perasaan jadi nano-nano antara kesel, merasa bodoh, kok bisa dll. Kepikiran juga mau ngerjain balik sub modul 2, tapi ah itu kan ngg boleh, ya anggap saja assessment kali ini  percobaan pertama. Cuma tetap aja pas ngerjain sub modul berikutnya jadi ngg konsen, karena kesel sendiri. Bukan apa-apa, sepanjang ikutan ujian dari jaman SD, mulai dari perkenalan ujian pakai pensil B2 yang waktu itu teknologi baru, belum pernah ada kasus salah baca perintah. Usia ngg bisa boong kali ya, hehehe. Kebayang deh, TPA yang harusnya diharapkan bagus jadi pupus.

MODUL WAWANCARA

Setelah TPA, masuk ke modul wawancara Di bagian ini ada isian yang kita kerjain, 2 wawancara dengan psikolog dan narasumber dan 2 FDG. Isian itu terkait pekerjaan yang selama ini kita kerjakan dan kepribadian kita sendiri (biasalah gambar orang, pohon dll), sedang wawancara cukup lama juga, yang dengan psikolog sekitar 1 jam, nara sumber 1/2 jam. Isian itu ngerjainnya pas lagi ngg ikutan FGD dan wawancara.

Isian yang kita bikin akan  dikonformasi dalam wawancara. Ada pertanyaan integritas, keberhasilan yang paling top yang kita capai dll. Karena isian ada bentuknya angka, mungkin akan lebih baik kalau pencapaian kita dapat kita kuantifikasikan. Ada beberapa pertanyaan lain sih, tapi lupa isinya apa 😀

FGD

Di bagian ini ada diskusi bagaimana mengimprove kegiatan di tempat kita dan juga simulasi membuat bangunan bersama teman2. Mungkin dilihat kemampuan komunikasi dan kemampuan memimpin diskusi.

WAWANCARA DENGAN PSIKOLOG

Ada beberapa bahasan wawancara, ngg inget semua kecuali integritas dan pencapaian pribadi. Untuk integritas, saya menceritakan pengalaman pribadi ketika bekerja di suatu tempat (jyah rahasia amat ya). Intinya, saya dan teman-teman bikin surat ke atasan, tentang perlunya menyetop sebuah kegiatan yang kurang efektif,nilainya gede banget,  tapi sudah ada bertahun-tahun berjalan , dengan hasil yang kurang jelas. Uniknya, kami bikin surat ke atasan dengan tembusan ke atasannya lagi, which is agak2 nekat dan kurang ajar juga sih, hahaha. Alasannya, jaman now,  ngegerundel di belakang itu ngg gentlemen, bikin surat itu keren dan formal. At least , kalau ada apa2 di kemudian hari, kami yang cuma remahan rengginang di kaleng Khong Guan berkarat bisa bilang we have done our best. Dan karena entah kenapa kegiatan itu akhirnya distop untuk tahun berikutnya, jadinya saya bisa claim penghematan sekian M adalah hasil dari usaha saya dan teman2 tersebut.

Untuk pencapaian pribadi, saya ngeclaim bahwa konversi minyak tanah itu ada kontribusi pribadinya, padahal mah kecil banget wong cuma remahan rengginang di pojokan kaleng Khong Guan berkarat. Cuma berhubung program itu bisa menghemat lebih dari Rp. 200 T, yah bisalah diakui.

Pertanyaan2 lain agak lupa karena lumayan banyak juga….

WAWANCARA DENGAN NARASUMBER
Dibagian ini ditanya-tanya tentang job desc dan improvement yang dapat dilakukan di bagian yang sekarang. Juga ditanya tentang kesiapan apabila ditempatkan di satu posisi. Agak kaget juga ketika tahu mau ditempatkan disitu. Jujur saya bilang, ada posisi lain ngg? Soalnya waktu mutasi staf aja saya ngg mau ditempatkan di situ, soalnya terlalu teknik, kurang inline dengan latar belakang pendidikan. Kali aja bisa milih, terus pewawancara ngasih list posisi  yang lowong. Dengan PDnya saya bilang, bisa ngg yang ini aja, sambil nunjuk salah satu posisi di list yang ada, yang kira-kira agak sesuailah dengan pendidikan.

Pas hasilnya diumumkan sih saya surprise, soalnya udah salah ngerjain tapi kok bisa lolos. Mungkin itu yang namanya takdir….Yang jelas mekanisme jenjang karir dengan assessment ini bagus banget, transparan. Selain itu, dengan adanya fungsional semacam Analis Kebijakan bisa membuat alternatif career path bagi PNS yang kurang merasa cocok di struktural. Namun, ngobrol-ngobrol sama teman2 di grup PNS (asal) UI,ternyata belum umum assessment yang saya alami; masih banyak yang formalitas saja. Tapi pastinya trend akan ke arah sana, demi birokrasi yang punya kompetensi, berintegritas dan melayani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ke Bandara Soekarno – Hatta Naik Kereta Bandara

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga itu kereta bandara. Softlaunch mulai 26 Desember 2017. Pas kebetulan ada dinas ke Manado tanggal 27 Desember, jadi tertarik juga menggunakannya. Sementara ini ada 3 stasiun yang sudah beroperasi, yaitu stasiun BNI City (Sudirman Baru), stasiun Batu Ceper (stasiun dekat sta Tangerang) dan tentunya Stasiun Bandara Soekarno Hatta.

Penerbangan ke Manado take off pukul 18.20, boarding jam 17.50. Sampai di sta BNI City sekitar pukul 14.00, tapi ternyata tiket jam 14an udah abis, adanya jam 15.51, well setelah timbang timbang, diambil aja deh masih ada waktu sekitar 2 jam dari waktu boarding.

Setelah masuk ke dalam stasiun, ternyata lumayan, walau ada beberapa fasilitas yang masih tahap finishing. Untuk musholla dan toilet sudah bisa digunakan.

Tiket bisa dibeli di vending machine dengan kartu Debit/Kredit, seharga Rp.30 rb (promo). Setelah resmi, tarif seharga Rp. 70 rb.

Karena luas peron yang terbatas, maka penumpang tidak diperkenankan menunggu di peron, yang terletak di lantai 1. Penumpang diminta menunggu di lantai 2. Setelah waktu sekitar 15 menit, barulah penumpang turun ke lantai 1 dan masuk ke kereta.

Nah, ternyata lumayan lama juga ya keretanya.

Berangkat : 15. 51

Sampai di Bandara: sekitar 17.00

Jalan ke sky train (kalayang) 17.00-17.10

Menunggu dan naik sky train 17.10 – 17.25

Jalan dari pemberhentian sky train ke Gate 25 17.25 – 17.50 (pas banget)

 

Jadi, kalau mau naik kereta bandara:

  1. Beli tiket secara online saja dari rumah, bisa online dengan tambahan biaya Rp. 5 rb rupiah. Atau bisa juga beli saat perjalanan ke stasiun bandara. Yang jelas beli di tempat beresiko kehabisan. Bisa dibeli di https://ticket.railink.co.id/
  2. Pilih waktu keberangkatan dari stasiun minimum 2 jam sebelum boarding.
  3. Siap siap jalan kaki lumayan.