Mari Jaga Harta Kita

 

Kisah#1

Ada yang kenal dengan Tsabit bin Ibrahim? Mungkin tak banyak. Namun sepenggal kisah hidupnya pantas menjadi pelajaran kita bersama. Suatu hari Tsabit berjalan dalam keadaan lapar. Dalam perjalanan itu, saat menyusuri sungai, dia melihat sebuah apel yang mengambang di sungai. Tanpa berpikir panjang, diapun segera menggigit buah itu untuk mengurangi rasa laparnya.

Setelah satu gigitan, dia tersadar bahwa buah ini bisa jadi milik seseorang. Dia menyesal telah memakan buah yang bukan miliknya dan bertekad meminta kepada pemiliknya agar mengikhlaskan buahnya. Diapun segera menyusuri sungai sampai ke tempat dimana buah itu berada.

Diapun mengetok pintu rumah dan menanyakan apakah ada pemilik kebun buah di rumah itu. Pemiliknya pun keluar dan bertanya maksud dan tujuan Tsabit datang ke rumahnya. Tsabit pun menjelaskan kalau dia meminta izin memakan buah tersebut sambil membawa buah yang sudah tergigit sebagian.

Pemilik kebun keheranan sejenak, kok ada orang yang seperti Tsabit ini ya. Kemudian mengatakan bahwa ia mengikhlaskan buah tersebut dengan syarat:

Tsabit harus menikahi anak perempuan si pemilik kebun yang buta, tuli dan bisu

Mimpi apa ya aku semalam, begitu kira-kira pikiran si Tsabit. Cuma gara-gara segigit buah, eh sialnya bisa seumur hidup. Namun karena Tsabit yakin bahwa ini adalah taqdir Allah, maka diapun mengikuti permintaan sang pemilik kebun.

Singkat cerita, ternyata istri yang dinikahi Tsabit adalah istri yang sholehah. Kecacatannya itu adalah tuli; tidak mendengar hal -hal yang buruk; bisu, tidak membicarakan hal-hal yang batil; dan tidak pernah melangkah ke tempat- tempat maksiat.

Dan anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut adalah Abu Hanifah, nah kalau ini pastinya kita tahu. Kok bisa? Ya bisalah, wong harta aja dijaga, apalagi keluarganya, itulah sebabnya dari pernikahan yang demikian dilahirkan seorang ulama besar.

Kisah seperti ini bukan satu satunya kisah teladan yang ada, misalnya kisah Umar bin Abdul Aziz yang merupakan cucu/cicit Umar bin Khatab hasil pernikahan anak Umar bibn Khatab dengan penjual susu yang jujur (pasti dah pernah dengar kan ceritanya.

Kisah#2

Agak sungkan juga mau cerita hal ini, tapi untuk menjadi pelajaran, bolehkah kita ketengahkan.

Ada seseorang yang bekerja di suatu tempat. (agak ditutup-tutupi agar menyamarkan identitas). Beliau ini bagian keuangan yang merupakan gerbongnya koruptor di sebuah kantor. Sebagai bagian gerbong, tugasnya adalah mengumpulan uang dari perjalanan dinas. Setiap perjalanan dinas ataupun proyek dipotong sekian persen dengan alasan untuk biaya pertanggungjawaban bila ada pemeriksaan. Bertahun-tahun begitu, sampai akhirnya beliau dimutasi ke suatu tempat karena atasannya yang baru,  tahu yang diperbuat beliau.

Di tempat baru, ternyata memiliki proyek besar, dan beliau pun bermain disana. Tidak heran ketika pensiunpun beliau ini punya beberapa mobil mewah, motor besar, rumah besar dan beberapa usaha.

Sekitar 2 tahun setelah pensiun, mantan anak buah beliau mendapat telpon dari beliau. Beliau mengatakan bahwa beliau sedang di rumah sakit dan ngg bisa keluar RS karena belum bayar tagihan. Waduh, anak buahnya bingung, kok bisa ya? Kan dulu jaya di darat laut dan udara, kok bisa menjadi susah dalam waktu singkat. Dan usaha-usahanya pun katanya bangkrut, anak-anaknya pun bermasalah terkait pernikahan yang kurang harmonis.


Pilih mana 1 atau 2 (bukan pilpres lo ya ūüėÄ )

Ya pasti pilih kisah #1 lah.

Yang jelas, saya dan rekan-rekan para suami adalah pencari nafkah, sehari-hari menemui masalah seperti ini. Apalagi PNS/ASN. Pengalaman beberapa tahun menjadi pegawai swasta, menemui kesempatan mendapatkan harta haram/subhat sangat besar ketika berkarir di birokrasi, dan sangat jarang menemukannya di swasta. Bagaimana sih menghadapinya?

  1. Menyakini bahwa Allah telah menjamin rezeki kita

Allah SWT berfirman dalam surat Huud: 6

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Kalau sudah dijamin, buat apa kita mencari yang subhat apalagi haram?

2. Menghindari harta syubhat

‚ÄúSesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.‚ÄĚ (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Nah, diskusi pada pengajian SMA 28 ’96 hari \ini lumayan hangat masalah ini. Karena definisi syubhat, yang samar-samar dapat membuat kita berbeda pendapat. Kalau saya pribadi sih, yang dinilai pakai hati ajalah, untuk membedakannya dengan harta halal/haram.

 

3. Hindari jebakan-jebakan keharaman yang sudah lazim

Riba misalnya, jelas sekali dosanya begitu besar. Namun zaman sekarang, demikian banyak tawaran ribawi. Sebagai contoh, apabila kita ingin membeli kendaraan, maka bayar tunai itu malah jadi susah dibandingkan dengan pinjaman bank konvesional. Padahal kalau logika, tunai harusnya lebih memudahkan dealer, karena tidak ada resiko, namun tentu jasa pinjaman yang ikut di dealer tidak akan dapat untung.


Susah ya menjaga harta? Yah…namanya juga ujian, sesuai firmannya di QS 64:15

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Semoga Allah SWT menguatkan jiwa kita untuk dapat mengatasi ujian harta sehingga keluarga kita dapat melahirkan generasi-generasi terbaik.

 

#pengajian28’96, 27 Oktober 2018

 

Pengajian selanjutnya Insy Allah akan dibahas akad-akad muamalah yang merupakan hasil diskusi setelah materi hari ini, oleh Akh Luqman sebagai praktisi perbankan syariah.

 

 

Advertisements

Dodo dan Syamil

Salah satu film kartun anak-anak yang bagus banget itu Dodo dan Syamil (lupa judul aslinya apa, ingetnya tokohnya aja).  Misal, dalam salah satu episode, Syamil dan Dodo kejar-kejaran ke kuburan, kemudian ngg sengaja ketemu rombongan yang sedang menguburkan anak kecil. (Agak lupa dialognya, intinya sbb)

Dalam film itu Dodo bertanya ke seorang Kakek tua yang ada di rombongan itu

Dodo : Innalillahi wainna ilaihi roojiun, Kek, siapakah yang meninggal?

Kakek : Itu cucu Kakek nak

Dodo : Astaghfirullah, kok cucu Kakek meninggal duluan Kek?

Disinilah masuk pesan film kartun ini

Kakek : Nak, ajal itu tidak mengenal usia, kadang masih kecil sudah kembali, kadang masih muda, kadang sudah usia seperti Kakek. Tidak selalu yang tua yang meninggal terlebih dahulu.

Dodo : Oh gitu ya Kek.


Ingat waktu itu nonton ini bareng Zaki dan Hilwa, mereka ngangguk-ngangguk.

Zaki   : Berarti Zaki bisa meninggal lebih dahulu dari Ayah ya?

Saya¬† ¬†: Iya,semua sudah ditentukan…


 

Usia kita semua sudah ditentukan 50 rb tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.  Umur kita tidak bisa memanjang, seperti nyanyian saat ada perayaan ulaang tahun. Yang bisa adalah memperbanyak amal sholeh yang dampaknya melampaui usia kita. Misal, di kantor ada sistem yang buruk, kemudian kita mengubahnya, maka amal sholeh kita tetap ada selama perubahan itu tetap bertahan, dan mungkin saja melampaui usia biologis kita.

Banyak tokoh-tokoh besar seperti misalnya Imam Nawawi yang usianya hanya mencapai 40 tahun, namun usia kebaiakannya jauh melampaui usia biologisnya dengan karya-karyanya yang luar biasa melintasi milenia.

Itulah sebabnya saya suka menulis di blog, dalam usaha agar¬† usia kebaikan bisa melampaui usia saya, walau secara bakat, menulis bukanlah keahlian saya (keliatan kan kualitas tulisan saya, hehehe) , namun yang terpenting keep writing, keep sharing…


Ditulis dalam sedih pada perjalanan Gambir – Pekalongan, bertakziah ke keponakan saya Hafhshah yang kembali kepangkuan-Nya kemarin siang. Innalillahi wainna ilaihi roojiun, semoga Umi dan Abi Hafshah chan diberi kesabaran dalam menerima ketentuan ini dan kelak bertemu di Jannah-Nya. Aamiin YRA.

 

 

 

Inpassing ke Fungsional Yuks, Sharing Pengalaman Inpassing Ke Analis Kebijakan

Inpassing atau penyesuaian sesuai PermenPAN No 2 tahun 2016 adalah proses pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional guna memenuhi kebutuhan organisasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dalam jangka waktu tertentu. Gampangnya begini, misalnya kita bekerja sebagai Analis Harga dan Subsidi Bahan Bakar selama 12 tahun, which is jabatan struktural dengan grade terendah yaitu 7. Kita dimungkinkan menyesuaikan pengalaman kita sebagai analis setara dengan jabatan fungsional Analis Kebijakan Muda 3D, dan akan mendapatkan tunjangan fungsional dan grade 9. Enak kan? Pekerjaan sehari-hari sih sama saja, tinggal mendokumentasikan apa yang kita lakukan sehari-hari dan ada tambahan pekerjaan yang dapat kita lakukan. Ngg harus ke Analis Kebijakan sih, apabila kita bekerja di bagian pelaporan misalnya, maka kita bisa inpassing ke fungsional perencana.

Bagaimana caranya?

Inpassing sesuai definisinya penyesuaian yang  terbatas sampai jangka waktu tertentu. Untuk fungsional Analis Kebijakan (AK) dibatasi hanya sampai Desember 2018. (Info terbaru diperpanjang sampai Desember 2021) Kita dapat mengajukan ke Bagian Kepegawaian dan akan diteruskan ke instansi pembinanya (untuk AK adalah LAN).

Untuk AK, ada uji kompetensi yang harus kita lewati:

  1. Uji Tertulis (2,5 jam)
  2.  Uji Wawancara

Pada tanggal 2 dan 3 November 2017, saya mengikuti uji kompetensi tersebut di LAN jalan Veteran Jakarta bersama beberapa teman KESDM dan beberapa kementerian lain.

Pada uji tertulis, kita diminta membuat Policy Brief dengan tema tertentu. Dalam uji tertulis ini kita diberikan bahan dengan tema kebijakan Pemerintah sekitar 30 halaman dan diminta meresumenya dalam format Policy Brief. Penjelasan tentang Policy Brief  diberikan pada saat briefing hari pertama. (Tersedia juga jaringan internet untuk googling)

15002376_1826798790935133_1271612163538382403_o.jpg

Susah ngg ya? Lumayan menantang sih, karena kadang kita pernah denger sebuah kebijakan, misalnya kebijakan pembiayaan perumahan dengan fasilitas khusus; cuma tentu untuk membuat itu dalam format Policy Brief dalam waktu 2,5 jam cukup sulit, terutama apabila kita belum terlalu mengerti pro and kons nya untuk membuat usulan dalam bagian Policy Brief  itu menjadi cukup berbobot.

Sangat beruntung, tema saat uji tertulis waktu itu tentang Blok Masela, which is pro kontranya adalah offshore vs onshore yang sudah lumayan tahu karena terkait pekerjaan.  Pengalaman teman lain yang ujian pada waktu yang lain dan mendapatkan tema di luar pekerjaannya cukup pusing juga saat menuliskan Policy Briefnya.

Setelah Policy Brief selesai, dilanjutkan dengan wawancara sesuai CV yang telah kita berikan dan satu tulisan kita tentang pengalaman terlibat dalam sebuah kebijakan. Apabila teman2 telah memiliki tulisan dalam jurnal ilmiah atau media lain, sangat disarankan untuk menuliskannya di CV, karena penguji melihat bagian publikasi sebagai bagian yang sangat penting. Kalau belum ada publikasi yang “resmi”, skripsi dan tesis sepertinya bisa dimasukan sebagai publikasi, termasuk juga pengalaman sebagai¬†speaker di konferensi nasional atau internasional.

Penilaian

Penilaian terdiri dari kemampuan analisis dan kemampuan politis. Kemampuan analitis adalah kemampuan untuk mengidentifikasi isu/masalah, mengumpulkan dan mengorganisir data/informasi, mengidentifikasi opsi/alternatif, mengevaluasi keuntungan, biaya dan resiko, dan menyajikan informasi kebijakan/membuat saran kebijakan terbaik, serta mengidentifikasi dampak dalam pelaksanaanya. Kelihatannya kemampuan analisis ini dilihat dari hasil Policy Brief yang kita buat.

Sedangkan kemampuan politis adalah kemampuan untuk menginformasikan hasil
analisis kebijakan, bekerja dalam konteks politik dan membangun jejaring kerja. Dengan kata lain kemampuan mengadvokasi informasi kebijakan. Tebakan saya, penilaiannya didapat dari hasil wawancara CV dan tulisan singkat tentang keterlibatan kita dalam sebuah policy Pemerintah.

Adapun batasan nilai kelulusan sesuai perkalan adalah sebagai berikut:

Capture nilai analis kebijakan.JPG

Berdasarkan informasi yang saya dapat, nilai saya untuk analisis adalah 88,80 dan kemampuan politis adalah 90,75 sehingga nilai rata-ratanya adalah 89,78 yang sudah memenuhi nilai terendah untuk menjadi Analis Kebijakan Ahli Muda, yaitu >= 80. Karena ini adalah inpassing, bukan perpindahan jabatan, maka walaupun nilai saya hampir mendekati nilai minimum Analis Kebijakan Utama, namun tetap disesuaikan menjadi Analis Kebijakan Ahli Muda.

Selain itu, angka kredit yang saya dapatkan pun standar, dengan Golongan 3C selama 3 tahun maka saya mendapatkan kredit awal sebesar 264.

angka kredit.JPG

Goodluck buat teman2 yang berminat mengikuti inpassing, semoga sukses

 

Sumber informasi lebih lanjut tentang AK bisa dilihat di

http://pusaka.lan.go.id

https://www.facebook.com/komunitas.analiskebijakan

 

 

 

Karir Birokrat, Birokrat Karir : Cerita Tentang Assessment

Career

Awal Januari 2018 ada WA masuk dari teman Biro Kepegawaian, ngasih tahu kalau besok pagi diminta ikut assessment. Hmm, agak males juga sebenarnya, saat itu lagi PW di perpustakaan UI, ngerjain “PR” yang satu itu. PR yang bikin cuti tahunan habis di satu bulan saja.

Apalagi waktu itu lagi nunggu hasil¬†inpassing ke Analis Kebijakan Muda, suatu fungsional anyar yang menarik juga, mengingat pekerjaan dan jurusan kuliah udah sesuai banget. Mayan, salah satu cara biar grade 7 berubah jadi grade 9 , grade yang ngg akan berubah kalau kita masih staf alias fungsional umum. Ditambah lagi pas wawancara yakin banget bakal lulus (hahaha PD amat ya), abisan pewawancara yang harusnya tanya CV malah “konsultasi” bagaimana pengalaman menggunakan data sekunder Indonesia, soalnya dia lagi mau neliti tentang sesuatu dan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan di Indonesia. Well, mungkin itu juga bentuk wawancara juga sih, cuma stylenya unik juga.

Setelah mikir-mikir, ya sudahlah, jalani saja, itung-itung menjawab penasaran juga, binatang apa itu assessment. Tanya kiri kanan, teman-teman yang sudah ikutan duluan, biar kebayang prosesnya.

Yang jelas ASN jaman now, trendnya adalah karir ditentukan sama tes yang namanya assessment, bukan lagi kedekatan, kesamaan gerbong dan grup-grup lainnya. Saya sebut trend karena ngg semua juga sih, tergantung tempatnya juga. Tapi kalau dibandingin dengan tempat lain, ESDM mungkin termasuk yang terdepan, karena eselon 4 pun, which is jabatan terendah, menggunakan assessment ini tanpa ada intervensi hasilnya. Gampangannya, kalau dari konsultannya bilang dari 5 kandidat hasilnya adalah si A nilai tertinggi, maka yang diambil ya si A, tanpa melihat lagi hal lainnya. Wallahu’alam apakah semurni itu, tapi menurut saya sih idealnya memang begitu.

Lanjut ceritanya….

Jadi hari itupun berangkat pagi ke UI Salemba, ke sebuah lembaga manajemen. Setelah isi ini itu tentang data pribadi, tes pun dimulai. Ada 2 modul utama, sebut saja gitu: Modul  semacam TPA, dan modul wawancara.

MODUL TPA

Modul TPA standarlah, ada series, terus logika, dan diakhiri hitung cepat. Nah disini ternyata sempet2nya bikin kesalahan konyol, salah baca perintah pada salah satu submodul. Standarlah TPA itu waktunya terbatas dan tidak boleh mengerjakan satu sub modul yang lain , apabila sudah selesai di sebuah submodul. Ya tunggu aja sampai disuruh ngerjain submodul selanjutnya.

Nah pas ngerjain sub modul 2, ada 30 soal yang harus dikerjakan, nah saya entah kenapa bacanya cuma ada 20 soalnya.  Jadi ya ngerjain aja itu 20 soal, pas soal ke 20 selesai sebelum waktunya,  seperti biasa balik ke nomor 1, kali aja ada yang salah ngitung.

Pas psikolognya bilang lanjut pada submodul 3, baru kelihatan kalau ada 10 soal yang belum dikerjain, bahkan belum dibaca sama sekali. Perasaan jadi nano-nano antara kesel, merasa bodoh, kok bisa dll. Kepikiran juga mau ngerjain balik sub modul 2, tapi ah itu kan ngg boleh, ya anggap saja assessment kali ini  percobaan pertama. Cuma tetap aja pas ngerjain sub modul berikutnya jadi ngg konsen, karena kesel sendiri. Bukan apa-apa, sepanjang ikutan ujian dari jaman SD, mulai dari perkenalan ujian pakai pensil B2 yang waktu itu teknologi baru, belum pernah ada kasus salah baca perintah. Usia ngg bisa boong kali ya, hehehe. Kebayang deh, TPA yang harusnya diharapkan bagus jadi pupus.

MODUL WAWANCARA

Setelah TPA, masuk ke modul wawancara Di bagian ini ada isian yang kita kerjain, 2 wawancara dengan psikolog dan narasumber dan 2 FDG. Isian itu terkait pekerjaan yang selama ini kita kerjakan dan kepribadian kita sendiri (biasalah gambar orang, pohon dll), sedang wawancara cukup lama juga, yang dengan psikolog sekitar 1 jam, nara sumber 1/2 jam. Isian itu ngerjainnya pas lagi ngg ikutan FGD dan wawancara.

Isian yang kita bikin akan¬† dikonformasi dalam wawancara. Ada pertanyaan integritas, keberhasilan yang paling top yang kita capai dll. Karena isian ada bentuknya angka, mungkin akan lebih baik kalau pencapaian kita dapat kita kuantifikasikan. Ada beberapa pertanyaan lain sih, tapi lupa isinya apa ūüėÄ

FGD

Di bagian ini ada diskusi bagaimana mengimprove kegiatan di tempat kita dan juga simulasi membuat bangunan bersama teman2. Mungkin dilihat kemampuan komunikasi dan kemampuan memimpin diskusi.

WAWANCARA DENGAN PSIKOLOG

Ada beberapa bahasan wawancara, ngg inget semua kecuali integritas dan pencapaian pribadi. Untuk integritas, saya menceritakan pengalaman pribadi ketika bekerja di suatu tempat (jyah rahasia amat ya). Intinya, saya dan teman-teman bikin surat ke atasan, tentang perlunya menyetop sebuah kegiatan yang kurang efektif,nilainya gede banget,  tapi sudah ada bertahun-tahun berjalan , dengan hasil yang kurang jelas. Uniknya, kami bikin surat ke atasan dengan tembusan ke atasannya lagi, which is agak2 nekat dan kurang ajar juga sih, hahaha. Alasannya, jaman now,  ngegerundel di belakang itu ngg gentlemen, bikin surat itu keren dan formal. At least , kalau ada apa2 di kemudian hari, kami yang cuma remahan rengginang di kaleng Khong Guan berkarat bisa bilang we have done our best. Dan karena entah kenapa kegiatan itu akhirnya distop untuk tahun berikutnya, jadinya saya bisa claim penghematan sekian M adalah hasil dari usaha saya dan teman2 tersebut.

Untuk pencapaian pribadi, saya ngeclaim bahwa konversi minyak tanah itu ada kontribusi pribadinya, padahal mah kecil banget wong cuma remahan rengginang di pojokan kaleng Khong Guan berkarat. Cuma berhubung program itu bisa menghemat lebih dari Rp. 200 T, yah bisalah diakui.

Pertanyaan2 lain agak lupa karena lumayan banyak juga….

WAWANCARA DENGAN NARASUMBER
Dibagian ini ditanya-tanya tentang job desc dan improvement yang dapat dilakukan di bagian yang sekarang. Juga ditanya tentang kesiapan apabila ditempatkan di satu posisi. Agak kaget juga ketika tahu mau ditempatkan disitu. Jujur saya bilang, ada posisi lain ngg? Soalnya waktu mutasi staf aja saya ngg mau ditempatkan di situ, soalnya terlalu teknik, kurang inline dengan latar belakang pendidikan. Kali aja bisa milih, terus pewawancara ngasih list posisi  yang lowong. Dengan PDnya saya bilang, bisa ngg yang ini aja, sambil nunjuk salah satu posisi di list yang ada, yang kira-kira agak sesuailah dengan pendidikan.

Pas hasilnya diumumkan sih saya surprise, soalnya udah salah ngerjain tapi kok bisa lolos. Mungkin itu yang namanya takdir….Yang jelas mekanisme jenjang karir dengan assessment ini bagus banget, transparan. Selain itu, dengan adanya fungsional semacam Analis Kebijakan bisa membuat alternatif career path bagi PNS yang kurang merasa cocok di struktural. Namun, ngobrol-ngobrol sama teman2 di grup PNS (asal) UI,ternyata belum umum assessment yang saya alami; masih banyak yang formalitas saja. Tapi pastinya trend akan ke arah sana, demi birokrasi yang punya kompetensi, berintegritas dan melayani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ke Bandara Soekarno – Hatta Naik Kereta Bandara

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga itu kereta bandara. Softlaunch mulai 26 Desember 2017. Pas kebetulan ada dinas ke Manado tanggal 27 Desember, jadi tertarik juga menggunakannya. Sementara ini ada 3 stasiun yang sudah beroperasi, yaitu stasiun BNI City (Sudirman Baru), stasiun Batu Ceper (stasiun dekat sta Tangerang) dan tentunya Stasiun Bandara Soekarno Hatta.

Penerbangan ke Manado take off pukul 18.20, boarding jam 17.50. Sampai di sta BNI City sekitar pukul 14.00, tapi ternyata tiket jam 14an udah abis, adanya jam 15.51, well setelah timbang timbang, diambil aja deh masih ada waktu sekitar 2 jam dari waktu boarding.

Setelah masuk ke dalam stasiun, ternyata lumayan, walau ada beberapa fasilitas yang masih tahap finishing. Untuk musholla dan toilet sudah bisa digunakan.

Tiket bisa dibeli di vending machine dengan kartu Debit/Kredit, seharga Rp.30 rb (promo). Setelah resmi, tarif seharga Rp. 70 rb.

Karena luas peron yang terbatas, maka penumpang tidak diperkenankan menunggu di peron, yang terletak di lantai 1. Penumpang diminta menunggu di lantai 2. Setelah waktu sekitar 15 menit, barulah penumpang turun ke lantai 1 dan masuk ke kereta.

Nah, ternyata lumayan lama juga ya keretanya.

Berangkat : 15. 51

Sampai di Bandara: sekitar 17.00

Jalan ke sky train (kalayang) 17.00-17.10

Menunggu dan naik sky train 17.10 – 17.25

Jalan dari pemberhentian sky train ke Gate 25 17.25 – 17.50 (pas banget)

 

Jadi, kalau mau naik kereta bandara:

  1. Beli tiket secara online saja dari rumah, bisa online dengan tambahan biaya Rp. 5 rb rupiah. Atau bisa juga beli saat perjalanan ke stasiun bandara. Yang jelas beli di tempat beresiko kehabisan. Bisa dibeli di https://ticket.railink.co.id/
  2. Pilih waktu keberangkatan dari stasiun minimum 2 jam sebelum boarding.
  3. Siap siap jalan kaki lumayan.

 

 

 

Sharing Pengalaman : Seleksi CPNS Lewat Jalur Cumlaude tahun 2015

Capture ipFacebook page BKN hari ini menyebutkan, sudah lebih dari 200 rb orang yang mendaftar CPNS 2017, mantap… ¬†Semoga dengan proses kompetitif dan ¬†semakin transparan dihasilkan aparatur negara yang jujur; karakter yang semakin langka di negara kita.

Nah, berhubung tahun ini kembali dibuka jalur cum laude, ijinkanlah saya sharing pengalaman saya  (ya ngg mungkin lah) teman saya, lebih tepatnya adik kelas istri di Fakultas Administrasi UI yang masuk CPNS tahun 2015.

Si Nisa, sebut saja begitu (mau pake mawar, kok gmn gitu :-D) mengikuti Formasi Khusus Putra Putri Terbaik 2014 yang dibuka tanggal 23 September 2014.  Nah apa bedanya dengan jalur umum?

WhatsApp Image 2017-08-03 at 09.57.43 (2)

Perbedaannya Jalur Umum dan Jalur Cum Laude Pada Tahun 2015:

  1. Tentu syaratnya berbeda, pada penerimaan CPNS 2015 (yang prosesnya sejak akhir 2014), syaratnya adalah minimal IP 3,75 atau memiliki sertifikat cum laude dari kampusnya. Kampusnya pun khusus PTN dengan jurusan predikat  A.
  2. Kalau jalur umum, kita dapat melamar beberapa posisi dalam satu Kementerian dengan latar belakang pendidikan kita. Misal, saya S1 Teknik Industri bisa melamar di Kementerian XXX sebagai Analis Harga untuk pilihan 1, dan melamar Analis Ijin Usaha di Kementerian XXX (Kementerian yang sama) sebagai pilihan selanjutnya. Nah, kalau jalur prestasi, maka yang kita pilih adalah jabatannya yang sama (misal Analis Kebijakan)  namun bisa di beberapa kementerian/lembaga, misal jabatan Analis Kebijakan di ESDM sebagai pilihan pertama dan jabatan Analis Kebijakan di  Meneg PAN RB sebagai pilihan selanjutnya.

 

Perbedaan CPNS 2015 dan 2017

Untuk CPNS 2017, setelah membaca lamannya pendaftaran, sepertinya beberapa istilah diganti misalnya TKD menjadi SKD (Seleksi Kemampuan Dasar) dan TKB menjadi SKB (Seleksi Kemampuan Bidang). ¬†Setelah itu ada wawancara. Dan untuk Mahkamah Agung, ada tambahan proses seleksi yaitu ada tes psikotesnya juga, dan juga baca kitab untuk hakim agama (btw, ayah saya dulu yang bikin soal loh sekaligus penguji baca kitab, hehehe) . Hmmm, mungkin agak lebih “serius”, soalnya hakim kan pejabat negara ya, bukan PNS.

Selain itu, kriteria kampus untuk tahun 2017 tidak ada ketentuan harus PTN, namun dari Perguruan Tinggi terakreditasi A / Unggul dan Program Studi terakreditasi A / Unggul.

Perbedaan lainnya, formasi umum untuk CPNS 2017 cuma bisa melamar 1 formasi saja dan 1 instansi saja, berbeda pada 2015. Sedangkan untuk jalur Cum Laude, ternyata juga mengalami perubahan peraturan, hanya boleh 1 formasi dan 1 instansi saja.

Nah pada CPNS 2015, tes untuk penerimaan formasi khusus putra putri terbaik ini cuma sekali tes, yaitu TKD. Tidak ada tes wawancara dan TKB. Kok ngg ada?Ngg tahu juga….

Berdasarkan pengalaman Nisa, setelah ujian TKD selesai, setelah menunggu beberapa lama, keluarlah hasilnya dan alhamdulilah selanjutnya diumumkan kelulusan pada tanggal 17 Februari 2015. Dan denger-denger sih, ada formasi cum laude yang ngg keisi, sayang ya, mungkin karena waktu itu syarat cum laude 3,75 dan dari PTN dengan jurusan predikat A itu susah ya…

WhatsApp Image 2017-08-03 at 09.55.48

 

Semoga bermanfaat…,

oh iya, untuk yang ingin mengetahui tips- tips wawancara seleksi masuk CPNS, bisa membaca tulisan saya yang lain di sini. Tips wawancara ini hitsnya paling tinggi loh di blog saya, hehehe, soalnya itu pengalaman wawancara saya dan beberapa teman PNS, susah nih ngumpulin materi wawancaranya.

 

Heboh Tarif Listrik Naik

Setelah ramai membahas karangan bunga, maka medsos mulai ganti topik ke subsidi listrik. Salah satunya postingan di atas, yang per jam 7 pagi ini sudah dishare sebanyak lebih dari 700 kali belum sehari sejak di posting.

Salah seorang teman juga berstatus : ” Mana nih mahasiswa, listrik naik diem2, tapi ngg ada aksi?” Teman yang lain posting di WAG, sambil nyolek ” Kembalikan hak kami bang Luthfi :-D”

Sebelum membahas detail tentang kebijakan subsidi listrik, mari kita lihat dulu gambar berikut:

Digambar sebelah kiri, semua orang mendapatkan tumpuan yang sama tinggi, padahal, anak yang paling pendek, tetap ngg bisa lihat pertandingan itu. Adil dalam hal ini adalah memberikan tumpuan yang lebih kepada yang paling pendek, sementara yang paling tinggi sebenarnya tidak perlu tumpuan.

Nah, bagaimana konsep energi berkeadilan dalam kebijakan subsidi listrik?

Infografis di atas menggambarkan distribusi subsidi listrik di antara kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat ini telah diurutkan dari yang termiskin (1) sampai yang terkaya (10). Misalnya, penduduk Indonesia sebanyak  260 juta orang, maka jumlah Rumah Tangga adalah sekitar 60 juta RT. Karena pembagian kelompoknya adalah dari 1-10 yaitu sepuluh kelompok, maka setiap kelompok sekitar 6 juta rumah tangga.

Menurut hasil penelitian di atas, 6 juta Rumah Tangga termiskin ternyata mendapatkan subsidi listrik sebesar 64 ribu rupiah, sedangkan 6 juta Rumah Tangga terkaya mendapatkan rata-rata subsidi sebesar 168 rb rupiah, yang berarti 262% lebih tinggi. Jadi, penggambaran subsidi listrik bahkan lebih buruk dari ilustrasi sebelumnya tentang sama rata vs adil. Secara ilustrasi bisa digambarkan seperti ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak yang paling pendek, dengan sistem subsidi yang ada bahkan mendapatkan tumpuan yang sedikit sekali, yang paling tinggi malah mendapatkan tumpuan terbanyak. Mengapa bisa terjadi? Sistem subsidi listrik sebelumnya, diberikan kepada seluruh pengguna 450 VA dan 900 VA tanpa melihat status ekonomi pengguna. Sementara orang-orang yang lebih sejahtera, tentu memiliki alat-alat elektronik yang lebih banyak, sehingga dengan tidak langsung mendapatkan nilaiai subsidi yang lebih besar dari yang lian. Padahal  UU Energi no 30 Tahun 2007 menyatakan bahwa:

Jelas tertulis disitu bahwa dana subsidi adalah untuk kelompok masyarakat tidak mampu, sementara kenyataannya bukan cuma orang kaya menikmati juga, bahkan dapatnya lebih banyak.

Reformasi subsidi listrik:

  1. Pemerintah menaikkan tarif secara bertahap kepada 60% orang terkaya, dan tetap memberikan subsidi listrik kepada 40% dengan tingkat kesejahteraan terendah. Jadi, berita kenaikan itu benar, TAPI HANYA UNTUK ORANG MAMPU.
  2. Mungkin jadi pertanyaan, bagaimana caranya membedakan antara si kaya dan si miskin? Data yang digunakan adalah data TNP2K ( Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) yang telah mensensus seluruh 40% masyarakat miskin dan rentan miskin by name by address di seluruh Indonesia. Metode yang digunakan untuk penentuanya adalah Proxy Mean Testing (bisa digoogling untuk info lebih lanjut)
  3.   Tentu proses pendataan yang dilakukan pastilah ada kelemahan. Ada data yang seharusnya masuk, tapi tidak terdata atau sebaliknya, ada data yang seharusnya termasuk orang mampu, tapi karena kelemahan pengumpulan data malah masuk. Untuk itu dibuka posko pengaduan di Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan ESDM lantai 4.
  4. Dana penghematan yang didapatkan akan digunakan salah satunya untuk pembangunan. Bisa dilihat digambar dibawah bahwa sejak 2015, dana subsidi energi makin diturunkan sementara dana infratruktur makin besar.

 

Dengan penurunan subsidi energi sampai 66,2%, tentu kita berharap infrastruktur di seluruh Indonesia terbangun dan visi energi berkeadilan dapat terwujud.

Trans Papua

Orang Tua dan Pendidikan

Ada beberapa yang saya kagumi dari orang tua dalam memandang pendidikan.

  1. Pentingnya Buku

Bapak sangat anti berhutang. Rumah misalnya, beliau beli tunai setelah sebelumnya bertahun-tahun pindah-pindah kontrakan. Cuma satu yang beliau mau berhutang: beli buku.Ngg heran kami punya banyak buku -buku mahal, misalnya ensiklopedi 26 jilid (saya lupa judulnya) yang biasanya cuma ada di perpustakaan,kami punya. Dan banyak buku-buku lain yang dibeli dengan cara mencicil.

2. Pilih Jurusan

Tidak pernah kami dipaksa harus pilih jurusan apa, mulai dari penjurusan di SMA ataupun kuliah. Diarahkan pun tidak. Walaupun tebakan saya, beliau berharap ada di antara 8 orang anaknya menjadi dokter ataupun belajar di IAIN seperti beliau.  Beliau selalu mengatakan, kamulah yang tahu dirimu sendiri dan tantangan masa depan. Bapak beda jaman dengan kamu. Well, kata-kata yang wajar bila Bapak tidak sekolah, tapi Bapak lulusan S1 dan pernah 1/2 tahun belajar bahasa Inggris di Australia, yang berarti sebenarnya banyak tahu juga dengan perkembangan ilmu. Ibu pun D3, cukup tinggi untuk ukuran jaman itu.

Jadi ingat, saya dulu pernah ngajar privat anak SMA yang dipaksa ayahnya masuk kelas IPA.  Kasian banget, anaknya sih rajin, cuma memang kemampuannya bukan di eksakta. Pas ditanya kenapa harus masuk IPA, katanya biar gampang nanti milih jurusan kuliah. Hmmm, alasan yang aneh.

Happy Wedding ke Р44  Bapak Ibu

Kisah Unik Panitia Walimah

IMG_9248

Beberapa kali jadi panitia, ada kisah2 unik yang pernah dialami. Mulai dari “masalah pemisahan ikhwan akhwat” yang kadang memicu “kehangatan” sampe didamprat sama kakaknya mempelai juga pernah.

Cerita 1: Masalah pemisahan

Karena menjodohkan sesama teman, well lebih tepatnya ‘ngompor-ngomporin dua orang teman satu organisasi, maka sayapun diminta “bertanggung-jawab” jadi ketua panitia nikahan mereka. Mereka berdua ini pasangan yang punya asal suku yang berbeda, Betawi dan Ambon, tapi sama-sama tukang ngebanyol, makannya cocok.

Nah, di hari pernikahan sesuai permintaan mempelai, nikahan pun dipisah laki-laki perempuan. Kami pun memasang hijab pembatas antara jamaah laki-laki dan perempuan. Ternyata ada anggota keluarga yang belum terbiasa dan “agak “protes dengan pemisahan yang aneh bagi mereka. Dengan wajah agak kesal, mereka menyingkirkan hijab dan kami pun pasrah. Mau masang lagi ngg berani, hehehe, yah begitulah liku-likunya panitia.

Cerita 2. Jadi Wali Nikah

Di Jepang, jabatan “agak naik” bukan sekedar panitia, tapi kadang jadi saksi. Maklum, ngg ada orang yang lebih¬†ganteng eh lebih tua senior. Nah, suatu saat pernah diminta jadi wali, karena orang tua ybs tidak bisa datang. Wah, pengalaman pertama ini, unik juga.

Peristiwa jadi agak-agak gimana gitu ketika saya salah pengertian dengan pak Ustad yang menjadi semacam penghulu. Beliau ini orang campuran Jepang-Amerika. Saya pikir dia yang akan mewakili saya untuk pernikahan ini, ternyata saya tidak diwakili, jadi kurang siap dengan kata-katanya. Selain itu, perbedaan mahzab belum saya sadari, dan ternyata ngg terlalu formil seperti yang biasa di Indonesia, yang¬†pake salaman. (Baca-baca di rumahfiqih, ternyata memang salaman itu ngg wajib ya, cuma kebiasaan aja). Hmmm, ternyata lebih grogi jadi wali ya daripada jadi pengantin. ūüėÄ

Cerita ke 3 : Didamprat Kakaknya Mempelai

Peristiwa di pernikahan ini adalah peristiwa paling ngenes selama jadi panitia. Seperti biasa, karena ngejodohin sesama teman, jadinya saya diminta jadi ketua panitia. Malam harinya bersama teman2 ngecek tempat nikah dan tempat resepsi sambil bantu-bantu sedikit dekorasi. Saya lupa malamnya itu apa banyak kerjaannya, intinya hampir dikatakan ngg bisa tidur semalaman. Alhamdulillahnya acara akad pagi itu berjalan lancar. Nah ngg lama setelah akad, eh ngg diduga saya kena damprat Kakaknya teman saya itu.

” Kamu gimana sih, nyari dimana itu MC? Ngg bagus. ” ujarnya ketus.

Kata-katanya sih sudah lupa, intinya begitu. Ngg tidur terus dimarahi itu rasanya argggggggggg. MC dinikahan itu salah seorang senior di kampus, yang ternyata satu angkatan dengan si Kakak itu. Dan ternyata “katanya”mereka pernah punya hubungan khusus dan putus dengan tidak baik. Lah, mana gw tahu.

Terus itu salah gw? Salah temen-temen gw? wkwkwkw

(banyak undangan bersliweran dari sahabat-sahabat di timeline fb, jadi mau nulis tentang pernikahan).
gambar bukan punya saya, diambil dari http://bluegreensee.blogspot.jp/2016/01/ll-wedding-teams.html

 

 

 



 

Ta’aruf Sekompi

tausiyah_1

Ada masa dimana saya punya teman2 liqo yang luar biasa dekat. Mungkin karena sebagian besar anggota berasal dari alumni SMA yang sama, usia sama atau cuma 2, 3 tahun berbeda ,berkarakter mirip dan sudah bertahun-tahun dalam satu kelompok liqo. Salah satu moto kami waktu itu adalah, murobbi boleh ganti-ganti, tapi kita bersepuluh ini¬†harus tetap bersama. ¬†Saking akrabnya, banyak hal yang tidka lazim kita lakukan bersama, misalnya, kalau ada salah satu dari kita yang sedang “penjajakan” atau ta’aruf dengan calonnya, maka yang ikut adalah semuanya.

Ya,¬†sedikit aneh ya, kalau teman liqo ikutan lamaran, atau ikut bantu2 saat akad atau resepsi mah sudah biasa ya, lah ini ta’aruf aja semua ikutan. Dan biasa, murobiyyah sang akhwat standarnya pasti bingung melihat kedatangan rombongan yang 10 orang itu, ini yang mau taaruf yang mana? Kok rame2 gini, nanti saat tanya jawabnya apa ngg malu ya, jadi banyak yang tahu. Untungnya murobbi kami asyik orangnya (sebenarnya kami ragu, antara asyik atau terpaksa), beliau biasanya senyum-senyum aja mendengar ‘komplain’ dari murobiyyah.

Suatu hari salah seorang dari kami bertaaruf dengan calonnya, dan sebagian besar dari kami pun ikut serta. Namun melihat rumah yang dituju cukup sempit, saya dan beberapa teman mengurungkan niat ikut masuk ke rumah dan memilih menunggu di dalam mobil. Setelah selesai, teman saya yang taaruf tadi dan teman2 yang lain kembali ke mobil dan kami pun pulang. Karena penasaran, saya yang tidak ikut pun bertanya, gimana taaruf hari ini.

Saya : “Eh, gimana tadi, pertanyaan nya susah ya, kok muka ente kayak menyimpan sesuatu?”, tanya saya ke teman yang taaruf. Wajah teman saya ini masih galau gimana gitu

Teman : “Pertanyaan standar sih, alhamdulillah lancar. Tapi…

Saya ¬† ¬† : “Tapi apa?”

Teman ¬†: “Tadi kan kita masuk bareng2 yaa, eh saya pas kebagian tempat yang ngg bisa ngelihat wajahnya,” katanya agak-agak sendu

Saya : “Wkkwkwkw, kok bisa?”

Teman : “Ya, kan pas datang, kita main duduk2 aja, ngg menyangka kalau salah posisi begini.”

Saya : “Terus gimana dong?” Ada yang lihat langsung?”, ujar saya sambil memandang teman2 yang lain.

Teman no 2: Ane yang tepat di depan dia, manis kok orangnya, tenang aja,” sambil senyum2 ngg jelas

Saya : “Tuh udah ada testimoni, aman lah. Jadi mungkin ngg jauh lah sama biodata yang ente dapet,” kata saya menenangkan

Teman : Masalahlah, biodata yang kemarin itu fotonya kecil amat, 3 x 4, ngg jelas wajahnya

Saya : Waduh….

Andaikata 15 tahun lalu itu sudah ada facebook, paling ngg friendster lah, masalah ngg jadi rumit begini.

————————

 gambar diambil dari http://saungkertas.com/wp/tentang-penolakan-taaruf/

Tulisan lain tentang ta’aruf

https://luthfiti96.wordpress.com/2014/08/09/taaruf-salah-kostum/