Tips dan Pengalaman Wawancara CPNS

Salah satu proses menjadi CPNS selain ujian tertulis adalah wawancara. Dalam tulisan ini saya coba berbagi wawancara yang pernah saya alami dan tips untuk lolos dalam tahap ini. Hal ini penting sebab wawancara dalam penerimaan pegawai lembaga negara ada keunikan tersendiri yang membedakannya dengan wawancara sebagai pegawai swasta.

Sebagai tambahan informasi, untuk tahun CPNS 2006 ESDM, komposisi penilaian ujian tulis dan wawancara adalah 80 % : 20% sedangkan untuk CPNS ESDM terbaru 2013 adalah 60% tes tertulis dan 40% wawancara. Dengan kata lain, sesi wawancara makin menentukan kelulusan seorang CPNS.

A. Pengalaman Wawancara Pribadi:

Saya sudah 2 kali masuk dalam tahap wawancara, di Kementerian XXXX dan Kementerian ESDM. Sebenarnya sudah cukup lama, yaitu sekitar tahun 2004 dan 2006, namun semoga belum banyak berubah.

Di kementerian XXXX, setelah ujian tertulis yang diikuti ratusan pelamar, diambil sekitar 25 orang dari jurusan Teknik Industri untuk mendapatkan 5 orang pegawai. Jadi, 5 orang akan diwawancara dalam satu direktorat, dan akan diambil satu orang.

Jadwal wawancara pagi hari, kami pun hadir tepat waktu. Pewawancara ternyata adalah Sesditjen dan Dirjen direktorat ZZZ, sehingga pengaturan waktunya agak lebih sulit. Walaupun sudah hadir sejak pagi, namun Wawancara dengan Ses sekitar jam 1 siang  dan dengan Dirjen sekitar jam 8 malam. Dalam proses menunggu saya berkenalan dengan para kandidat lain dan akhirnya saya tahu kalau ternyata cuma saya yang tidak punya saudara/kerabat di Kementerian XXXX. Mereka (para kerabat) bolak-balik ke ruang tunggu wawancara sehingga bikin ngg nyaman saja. Hmmm, dan ada beberapa fakta lain sehingga saya patut menduga kalau proses ini tidak fair. Anyway, kita lanjut ke materi wawancara.

Dengan Sesditjen beliau bertanya hal standar seperti motivasi jadi PNS, sekarang bekerja dimana, dulu kuliah dimana dan lainnya. Ketika diskusi masalah kampus, ternyata dosen saya adalah teman baiknya, sehingga wawancara jadi lebih cair. Wawancara ini tidak bertanya terlalu teknis.

Wawancara dengan Dirjen agak berbeda dengan wawancara dengan Ses, beliau sepertinya ingin lebih teknis. Saat itu beliau sudah terlihat lelah dan setelah pertanyaan standar, beliau bertanya tentang skripsi saya yang berkenaan dengan Balanced Scorecard dan manajemen strategis. Saya menjelaskan dengan singkat, dan dia kemudian bertanya apa yang dimaksud dengan action plan. Pertanyaan yang sesuai dengan skripsi saya, namun entahlah, mungkin tidak jodoh ya, saya kebingungan dan speechless. Saya ingin ngecap, tapi urung dan memilih diam.  Dan tampaknya beliau agak kurang puas dengan wawancara itu. Jadi. mengingat proses yang agak2 berbau KKN dan wawancara yang kurang memuaskan, saya pun tidak heran ketika saya tidak lulus dalam tes itu.

Setelah agak mengecewakan di pengalaman sebelumnya, saya pun mencari institusi mana yang paling bersih penerimaannya dan saya mendengar kalo di ESDM paling transparan, saya pun mencoba melamar kesana. Setelah ujian tertulis yang diikuti lebih dari 100 orang untuk satu lowongan Teknik Industri, ada 3 orang kandidat yang dinyatakan lulus untuk memperebutkan posisi tersebut. Di sini, sistemnya adalah, nilai pada ujian tertulis 80% dan wawancara 20%, mungkin maksudnya agar mengurangi subjektifitas wawancara. Namun itu sistem yang berlaku waktu itu, saat ini bisa dibaca sendiri peraturannya seperti apa.

Ada dua orang pewawancara dan waktu wawancara hanya 15 menit. Pertanyaan pembuka adalah standar, motivasi dan kenapa mau jadi PNS yang gajinya kecil. Pertanyaan selanjutnya lebih teknis, misal teman-teman dari Teknik Kimia, ditanya perbedaan LPG, LNG dan CNG dan beberapa aspek teknis di migas. Sedang untuk saya, ditanya tentang kebijakan subsidi BBM karena posisi yang saya lamar berhubungan dengan itu.

Oh iya, beda Kementerian XXXX dan Kementerian ESDM, kalo ESDM kita sudah melamar posisi dan lokasi, sehingga kita tahu akan ditempatkan di Ditjen mana dan di kota mana. Sedang kementerian XXXX, seluruh jurusan yang sama akan diuji dan ditempatkan di posisi yang membutuhkan jurusan itu. Jadi, persaingan di ESDM tergantung seberapa prestisius posisi yang kita lamar, bisa jadi ada satu posisi diperebutkan ratusan orang, sementara yang lain (dengan kualifikasi jurusan yang sama) cuma beberapa saja saingannya.  Untuk tahun 2013 sepertinya sudah berbeda, dari awal kita diminta memilih pilihan ke 1, ke2 dan ke 3, jadi lebih save nya kita memilih bagian yang mungkin banyak peminatnya di pilihan pertama, dan yang lebih sedikit di pilihan ke2 dan ke 3.

B. Tips Wawancara

1. Siapkan jawaban pertanyaan standar

Pertanyaan motivasi jadi PNS seperti misalnya kenapa mau jadi PNS dengan gaji kecil kemungkinan besar ditanyakan, jadi siapkanlah jawaban yang paling bagus. Juga pertanyaan tentang pengetahuan kita terhadap jabatan yang ingin kita lamar. (Untuk kementerian ESDM, sebagian jobdesc bisa dilihat di http://goo.gl/001VX6).

2.Baca Undang-Undang dan isu teranyar terkait Lembaga Negara

Untuk PNS pusat, setiap bagian biasanya punya UU. Misal, UU 22/2001 ttg Migas, UU 4 2009 ttg Pertambangan Mineral. Paling tidak masalah yang sedang hangat harus kita update. Waktu tahun 2006 bahkan ada soal ujian tulis tentang ekplorasi dan eksploitasi, orang-orang diluar perminyakan dan geologi mungkin kurang familiar dengan istilah ini.

3. Jadilah Pemerintah

Ini bagian terpenting dan keunikan wawancara CPNS, terutama CPNS pusat. Dalam menjawab pertanyaan analitis kebijakan, kita harus memposisikan diri sebagai Pemerintah/pengambil kebijakan. Akan ada selalu pro dan kontra dalam kebijakan, seorang pembuat kebijakan harus mengambil resiko dan memutuskan kebijakan. Namun, karena seorang kandidat CPNS di luar sistem, maka seringkali jawaban wawancara kita terlalu pengamat sentris yang kritis namun seringkalu tidak solutif.

Mudah2an berguna

——————————————-

Wawancara CPNS ESDM 2006

Pewawancara 1 : Kamu setuju ngg rencana Pemerintah mengurangi subsidi BBM?
Saya : (saya ingat kata teman, berpikirlah seperti Pemerintah, tapi alasan harus rasional)
Saya setuju banget Pemerintah menaikkan harga BBM.
Pewawancara 1 dan 2 (tampangnya ngg nyangka kalo jawabannya itu). KOk bisa setuju?
Saya : Saya mengutip pendapatnyanya HNW (waktu itu Ketua MPR). Beliau mengatakan, sepanjang kompensasinya bisa meringankan warga miskin, beliau setuju. Toh subsidi kita banyak yang salah sasaran, jadi harus dibenahi. Populer tidak berarti benar kan?

Pewawancara 1 &2 : (sepertinya ngg percaya sama jawaban saya, mulailah mereka iseng2 bertanya yang saya belum duga) Dulu kuliah dimana ya Mas, apa ngg pernah demo kenaikan BBM? Sambil lihat2 CV saya. Tuh kan, lulusan UI lagi tukang demo nih (katanya dengan nada seperti berhasil menemukan sesuatu yang bisa menjatuhkan)

Saya : (Ups, kaget juga ditanya seperti itu). Iya Pak, saya sering demo ke Istana, kata saya. Tapi tentu sekarang beda, saya bukan lagi mahasiswa. Mahasiswa itu oposisi permanen, jadi apapun kebijakannya, pasti ada demo. Itu sekedar mengawal agar kebijaknnya pro rakyat dan segala konsekuensi dari kebijakan sudah dipikirkan Pemerintah dan dilaksanakan, bukan hanya di atas kertas. Pemerintah kan memerintah, harus tegas mengambil kebijakan apa, biarkan rakyat menilai, DPR mengawasi, mahasiswa mengawal.

Pewawancara1&2 : (tampangnya puas), OK kalau gitu, wawancara selesai.

———————-

Beberapa isu strategis di Kementerian di ESDM yang bisa jadi ditanyakan dalam wawancara

Migas : subsidi BBM, nasionalisasi perusahaan asing, shale gas

Listrik : subsidi listrik

Mineral dan BAtubara : pro kontra kewajiban membangun smelter

Energi Baru Terbarukan : Pro kontra nuklir, Energi dan Climate Change

untuk melihat kajian isu strategi dari KESDM, bisa dilihat di http://goo.gl/HsbqVb

——————————————————————————————-

Wawancara dari beberapa CPNS ESDM 2013

Atas kebaikan teman2 yang terbantu dengan blog ini, berikut ini wawancara CPNS ESDM tahun 2013

Jabatan : Analis Laboratorium

Yang ditanyakan : Karena Lab nya adalah Lab Eksplorasi Produksi, maka yang ditanyakan seputar itu. Dan jangan lupa persiapkan jawaban berbahasa Inggris, terutama dalam perkenalan, penjelasan skripsi dll.

———————————————————————————

Jabatan : Analis Volume Pengangkutan BBM

Pertanyaan awal wawancara sesuai riwayat hidup, seperti latar belakang pendidikan, keluarga, hobi, pekerjaan sebelumnya, dan lain2. Kemudian diminta bercerita tentang riwayat hidup menggunakan bahasa Inggris. Dalam perjalanannya, kadang ditanya dengan bahasa Indonesia kadang bahasa Inggris, jadi harus dilatih bahasa Inggrisnya.

Ditanya tentang tujuan kenapa ingin jadi PNS walaupun gajinya kecil, kenapa memilih Kementerian ESDM, sebelumnya melamar kemana saja. Kemudian ditanya juga yang diketahui tentang migas dan kontribusi apa yang bisa diberikan apabila sudah diterima. Ditanya juga bagaimana kalau pas sudah diterima ada tawaran pekerjaan dengan gaji yang lebih besar.  Pertanyaan yang agak unik adalah, apalah menurut kita Pancasila itu masih diperlukan atau perlu diganti.

Waktu wawancara kira-kira 45 menit.Waktunya beda-beda, sepertinya peserta lain ada yang cuma 15 menit.

—————————————————————————————

Jabatan : Inspektur Ketenagalistrikan

Pertanyaan pada saat wawancara saya lebih ke riwayat hidup yg telah saya buat, misalkan seputar latar belakang pendidikan, keluarga, pekerjaan ayah ibu saya, Motivasi saya memilih T elektro dan memilih menjadi PNS ESDM (saya jawabnya, karena ingin menghentikan pencarian kerja yang lebih baik karena saya yakin pekerjaan sebagai PNS sudah sangat terlalu baik bagi saya (jangan jawab untuk mengabdi kepada Negara karena sangat klise jawabannya dan terlalu umum. Saya pernah nanya juga sama teman teman seperjuangan jawabannya itu rata-ratanya ),

Lalu pekerjaan sebelumnya (kenapa kamu keluar dari pekerjaan sebelumnya {biasanya hal itu sangat sering ditanyakan, jawab saja sejujurnya, sudah habis kontrak atau ingin mencari pekerjaan yang lebih baik lagi dan saya yakin ESDM merupakan pekerjaan terbaik}, Nanti pasti ditanya bisa bahasa inggris? (jawabnya iya,) jangan ragu sedikitpun walaupun sebenarnya kurang bisa berbahasa inggris, {saya sarankan persiapkan komunikasi dalam bahasa inggris untuk meyakinkan mereka} Karena saya melamar sebagai inspektur (nanti ditanya juga apakah kamu bersedia ditugaskan keluar daerah ) jawabnya iya dengan yakin…. Waktu interviewnya kira – kira sekitar 20 menitan tetapi itu tergantung pewawancaranya dan tidak mutlak

—————————————————–

Alasan jadi PNS, pertanyaan yang sering ditanyakan sepertinya. Ini jawaban saya kalau ditanya

Dalam berkarir, ada 3 hal yang selalu jadi pertimbangan saya, 1. Kontribusi terhadap masyarakat 2. Berkembangnya ilmu 3.Materi (uang yang didapatkan, karena kita bekerja mencari nafkah).

Karena saya pindah dari swasta ke PNS, maka kontribusi saya akan jauh lebih besar, sebab PNS di kementerian adalah pemegang kebijakan. Walaupun mungkin jabatan kita tidak terlalu tinggi, namun kontribusi PNS itu jauh lebih besar dibandingkan bila kita bekerja di swasta. Di swasta, kontribusi terbesar mungkin terhadap untung/rugi perusahaan, sementara PNS scope nya negara, jadi multiplier effectnya Insya Allah sangat besar.

Selain itu sebagai PNS, peluang mendapatkan beasiswa dan tugas belajar sangatlah mudah, sehingga ilmu yang saya miliki akan selalu berkembang dan kesempatan melanjutkan sekolah sangat terbuka lebar, suatu hal yang sangat sulit didapatkan di swasta.

Walaupun, bisa jadi dalam hal materi, menjadi PNS bisa jadi mendapatkan nilai materi yang lebih kecil dari swasta, namun dua hal yang di atas sudah cukup kuat sehingga saya memutuskan berusaha hijrah menjadi PNS. Selain itu saya juga meyakini dengan harapan yang makin tinggi dari masyarakat terhadap PNS, maka kesejahteraannya pun semakin lama semakin baik, dan sekarang pun sudah mulai terlihat dengan adanya sistem remunerasi.

Saya teringat perkataan  Imam Ali RA, Ilmu lebih mulia dari harta, Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta. Ilmu jika diamalkan malah akan semakin bertambah, sedangkan harta jika digunakan akan semakin berkurang.

Oleh karenanya, saya berkeyakinan, menjadi abdi negara adalah pilihan karir yang paling pas bagi diri saya, terpenuhi semua kriteria yang saya inginkan.

Tips Mendapatkan Beasiswa ala Ustad Yusuf Mansyur

survival-scholarship-icon-

Secara teori, berburu beasiswa sebenarnya mudah saja. Syarat pertama adalah kita harus bisa ‘menjanjikan’ kalau kita punya potensi untuk berprestasi selama studi (IP degree sebelumnya bagus, TOEFL/IELTS tinggi dan tema riset yang menarik). Syarat kedua adalah setelah lulus kita menjadi lulusan yang punya peran besar (recommendation letter dari orang berpengaruh dan statement of purpose yang original. Untuk teman-teman PNS, biasanya punya keuntungan di sini karena peran sebagai Pemerintah yang cukup vital). Tapi kadang, walaupun kita sudah memenuhi persyaratan yang ada, ada saja non teknis yang mengganjal. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana mempermudah jalan beasiswa, tapi membahas non teknisnya, karena saya pikir tulisan tentang tips secara teknis sudah cukup banyak.

Akhir Maret 2012
Untuk mendapatkan beasiswa, biasanya kita diminta untuk terlebih dahulu memiliki LoA (Letter of Acceptance) dari universitas yang dituju. Untuk mendapatkan LoA dari Hiroshima University, selain beberapa syarat lain, butuh 2 rekomendasi dari dosen dan 1 dari kantor. Dua sudah ada, namun dari kantor siapa ya? Kasie saya ngg mungkin sebab perlu jabatan yang cukup tinggi agar surat kita berbobot. Kasubdit saya baru ganti saat saya tugas belajar, jadi belum kenal banget. Posisi Direktur sedang kosong, jadi satu2nya yang paling mungkin Dirjen, tapi masa surat rekomendasi dari Dirjen, apa ngg ketinggian? Lagian saat Bu Dirjen baru masuk, saya sudah tugas belajar S2,jadi ngg terlalu kenal juga. Tapi setahu saya Bu Dirjen yang satu ini saya peduli dengan pendidikan dan setelah saya cari info, beliau juga beberapa kali membuatkan surat rekomendasi ke mantan anak buahnya. Bismillah, dengan modal nekad, saya minta beliau membuatkan surat rekomendasi.

Saat itu beliau sedang sibuk dengan rapat-rapat marathon dari pagi sampai tengah malam, maklum ada rencana kenaikan harga BBM per April. Namun karena kepedulian beliau, masih sempat2nya meluangkan waktu mewawancarai saya untuk pengisian surat rekomendasi, salah satu kemudahan yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Perijinan sekolah pun menjadi lancar di luar dugaan, sebab saya baru saja pulang, kok bisa diijinkan sekolah lagi. Walaupun saya ingat kami sedikit ‘berdebat’ tentang aturan kepegawaian untuk tugas belajar pegawai , namun akhirnya beliau ‘mengalah’ dan saya pun diijinkan kembali sekolah setelah hanya 1 tahun kembali bekerja. Alhamdulillah.

Mei 2012
Tidak berapa lama, LoA dari Hiroshima University keluar. Beasiswa internal dari Kementerian ESDM adalah beasiswa yang saya inginkan, maka sayapun berkonsultasi dengan pengelola beasiswa internal di kantor saya bagaimana cara mendapatkan beasiswa tersebut. Di luar perkiraan, ternyata beasiswa internal ESDM tahun itu (2012) kemungkinan besar ditiadakan disebabkan masalah penganggaran, padahal untuk mendapatkan beasiswa lain seperti Monbusho, usia saya sudah lewat . Akhirnya saya coba cari2 jalan lain, beasiswa World Bank, IDB dan lainnya, dan ternyata sebagian besar beasiswa S3 hanya untuk akademisi, so peluang saya mengecil.

Bukan cuma itu saja, LoA Hiroshima University juga ternyata punya batas waktu, cuma berlaku beberapa bulan saja dan itu berarti peluang saya makin kecil untuk kuliah tahun ini. Dengan waktu yang sebentar, sulit sekali mendaftar pada suatu beasiswa dan diterima dalam jangka waktu 3 bulan sesuai masa berlakunya LoA.

Juli 2012
Setelah menyadari kalau usaha saya mencari beasiswa tahun ini sepertinya mustahil, saya teringat suatu saat pernah membaca kisah 3 orang beriman yang terjebak di gua dalam hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori Muslim. Jadi membuat saya berpikir, apa bisa ya tawasul dengan amal sholeh kita? Dalam hadis tersebut, ketiga orang soleh itu menggunakan amal2 terbaik mereka yang cukup unik, yang pertama berbakti pada orangtua, yang kedua menghindari zina dan yang terakhir mengembalikan harta orang lain. Terus, kalau saya pake amal yang mana ya?

yusufSetelah berpikir2 dan menyadari kalo amal saya kayaknya belum berbobot dan terinspirasi dengan konsep sedekahnya Ustad Yusuf Mansyur, maka saya berpikir untuk bersedekah. Saya ingat salah satu kerabat punya keinginan kuliah dan saya selalu mendorong untuk melanjutkan studi namun belum tergerak untuk membantu. Bukan tidak mau, namun karena menurut hitungan saya, kemampuan financial saya belum cukup. Namun teringat dengan pesan Ustad Yusuf Mansyur, saya pun agak2 nekad membayari kuliahnya walaupun belum tahu nanti bayar semesternya bagaimana. Hitung2an manusia menunjukkan, kalau dengan penghasilan sekarang dan membiayai 3 orang anak dan ditambah membiayai kerabat saya kuliah, maka bukan hanya pas-pasan, malahan keuangan saya akan sedikit defisit. Ya sudah, bismillah, toh itukan matematis manusia.Dan sayapun bertawasul agar amal ini mempermudah saya mendapatkan beasiswa S3 tahun depan.

Agustus 2012
Dengan kondisi yang ada, saya tadinya mengira paling cepat  akan mendapatkan beasiswa tahun depan, yaitu sekitar Oktober 2013.Namun ternyata ada setitik cahaya cerah. Setelah beasiswa internal sepertinya mustahil,tiba-tiba saya punya ide untuk bertanya secara formal ketersediaan beasiswa ke pejabat pengelola beasiswa melalui surat resmi dari atasan. Selain itu saya juga tidak sengaja mengetahui adanya beasiswa JISPA (Japan IMF Scholarship Program for Asia) dan mencoba memenuhi syarat2 administrasinya.

IMF Scholarship

Tidak berapa lama ternyata turun pengumuman kalau beasiswa ESDM tahun ini kembali diadakan (mungkin karena membaca surat dari kantor saya), padahal tadinya pintu sudah tertutup. Dan pada saat bersamaan saya dinyatakan lulus seleksi administratif dan mendapatkan jadwal interview dengan IMF Jepang sebagai tahap akhir beasiswa.

November 2012
Alhamdulillah, singkat kata akhirnya saya mendapatkan dua beasiswa untuk masuk ke Hiroshima University, suatu kenyataan di luar dugaan. Walaupun saya tidak bisa bergabung ke kampus per Oktober 2012, namun kedua beasiswa itu bersedia menunggu sampai saya mendapatkan LoA pada periode berikutnya. Is that amazing?

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

——————————————————————————————-

17

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda,’Pernah terjadi pada masa dahulu sebelum kamu. Tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam didalam sebuah goa. Tiba-tiba ketika mereka sedang berada didalam goa itu jatuhlah sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu goa itu hingga mereka tidak dapat keluar.
Berkatalah mereka,’Sungguh tiada sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari bahaya ini kecuali jika kalian berdoa kepada Allah dengan (perantara) amal-amal shaleh yang pernah kalian lakukan dahulu. Maka berkata seorang dari mereka,’Wahai Allah dahulu saya mempunyai ayah dan ibu dan saya biasa tidak memberi minuman susu pada seorang pun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau hamba sahaya. Pada suatu hari saya menggembalakan ternak ditempat yang agak jauh sehingga tidaklah saya pulang pada keduanya kecuali sesudah larut malam sementara ayah ibuku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya dan saya pun segan untuk membangunkan keduanya dan saya pun tidak akan memberikan minuman itu kepada siapa pun sebelum ayah ibu. Lalu saya menunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perah itu. Padahal semalam anak-anakku menangis didekat kakiku meminta susu itu. Wahai Allah jika saya melakukan itu semua benar-benar karena mengharapkan keridhoan-Mu maka lapangkanlah keadaan kami ini. Lalu batu itu pun bergeser sedikit namun mereka belum dapat keluar darinya.

Orang yang kedua berdoa,’Wahai Allah saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, karena sangat cintanya saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya akan tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang minta bantuan kepadaku maka saya memberikan kepadanya seratus duapuluh dinar akan tetapi dengan perjanjian bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada diantara dua kakinya, tiba-tiba ia berkata,’Takutlah kepada Allah dan jangan kau pecahkan ‘tutup’ kecuali dengan cara yang halal. Saya pun segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya dan saya tinggalkan dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Wahai Allah jika saya melakukan itu semata-mata karena mengharapkan keredhoan-Mu maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini. Lalu batu itu pun bergeser sedikit namun mereka belum dapat keluar.

Orang yang ketiga berdoa,’Wahai Allah dahulu saya seorang majikan yang mempunyai banyak buruh pegawai dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu dan ia segera pergi meninggalkan upah, terus pulang ke rumahnya dan tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu sehingga bertambah dan berbuah menjadi kekayaan. Setelah beberapa waktu lamanya buruh itu pun datang dan berkata,’Wahai Abdullah berilah kepadaku upahku dahulu itu?’ Saya menjawab,’Semua kekayaan yang didepanmu itu adalah dari upahmu yang berupa onta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu.’ Orang itu berkata,’Wahai Abdullah kau jangan mengejekku.’ Saya menjawab,’Saya tidak mengejekmu.’ Lalu diambilnya semua yang disebut itu dan tidak meninggalkan satu pun daripadanya. Wahai Allah jika saya melakukan itu semua karena mengharapkan keredhoan-Mu maka hindarilah kami dari kesempitan ini. Tiba-tiba batu itu pun bergeser hingga mereka dapat keluar darinya dengan selamat.” (HR. Bukhori Muslim)

Referensi*:

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/tawassul-dengan-amalan-sholeh.htm

http://muslimah.or.id/aqidah/memahami-tawassul.html

gambar diambil dari http://bit.ly/1koDNbc , dakwatuna.com, dan http://bit.ly/1nbWdec

Buat Apa Sekolah?

Pertanyaan ini benar2 diucapkan bos saya (kemungkinan baru baca surat permohonan saya di mejanya) ketika tak sengaja berpapasan di lift kantor. Ketika lift terbuka dan beliau melihat saya di depan lift, langsung beliau berkata, “Luthfi, kamu mau sekolah lagi ya? Buat apa?” diucapkan dengan gaya Jawa Timuran yang sering nembak langsung, hehehe. Karena tidak menyangka ditanya seperti itu, saya pun melongo saja, tidak sanggup menjawab pertanyaan sampai lift tertutup kembali.

Pulangnya saya jadi kepikiran, buat apa ya sekolah lagi? Apa motivasi saya karena karir? Ingin dibilang pintar? Biar nama di kartu nama semakin panjang? Atau apa? Hmmm, saya kemudian mencoba berdiskusi dengan diri saya sendiri dan mencoba menggali, motivasi apa yang ada dalam diri saya. Bukan apa2, dengan PhD program yang berat ditambah kemampuan pas-pasan begini, saya harus punya motivasi yang benar dan kuat sehingga bisa selesai dengan baik dan bermanfaat bagi dunia akhirat saya.

Ketika memikirkan hal itu, saya teringat masa-masa waktu bekerja di sebuah bank syariah, pekerjaan yang sangat mulia dan nikmat; kerja dimulai dengan doa pagi bersama, angkat telepon mengucapkan salam, pengajian tiap seminggu sekali. Menjadi mujahid ekonomi syariah adalah sebuah karir yang ideal karena peran strategis dan lingkungan yang terjaga, Insya Allah selamat dunia akhirat :-). Namun saya akhirnya memutuskan untuk menjadi PNS dengan motif ingin cari beasiswa. Hmm, motivasi pendidikan mengalahkan kenyamanan.

Akhirnya, setelah merenung cukup lama, terbuka juga pikiran saya. Motivasi itu mungkin terinspirasi dari pesan orangtua yang secara tidak langsung sampai ke saya. Orangtua saya adalah salah seorang tokoh Muhammadiyah di Pasar Minggu, dari dulu sampai sekarang, sering ada orang datang untuk sekedar silaturahim ataupun berkonsultasi banyak hal. Nasihat yang paling sering diutarakan orangtua kepada yang datang adalah pentingnya masalah pendidikan. Beliau mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib RA : “Sesungguhnya ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.” Nasihat inilah yang mungkin masuk ke alam bawah sadar saya sehingga walaupun kemampuan pas-pas an, saya punya keinginan kuat untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Simple saja, agar ilmu bisa menjaga saya dalam hidup di dunia ini, Insya Allah…

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada hamba-hambanya yang berjihad untuk mencari keridhoannya.Aamiin YRA…

Sharing : Cara Mendapatkan Beasiswa dari Jepang (Japan IMF Scholarship for Asia – JISPA)

Image

Mungkin sudah banyak tulisan tentang bagaimana mendapatkan beasiswa lain di Jepang tapi rasa-rasanya belum ada yang sharing pengalaman untuk mendapatkan Japan IMF Scholarship for Asia. Itulah sebabnya saya coba sharing pengalaman sebagai seseorang yang pernah  menerima beasiswa ini.

Tadinya saya berharap pada beasiswa lain, namun sejak saya mendapatkan Letter of Acceptance dari Hiroshima University untuk masuk 1 Oktober 2012, ternyata beasiswa yang saya incar belum ada kejelasannya, padahal sudah hampir expired LoA, jadilah saya cari jalan lain ke Roma, eh maksudnya Hiroshima dengan browsing beasiswa-beasiswa dari Jepang mulai dari World Bank, ADB dll. Sebagian besar sudah tutup, dan salah satu yang masih memungkinkan adakah beasiswa JISPA (Japan IMF Scholarship Program for Asia). Seperti tertera di foto, beasiswa ini ditujukan untuk PNS junior di Asia untuk mempelajari ilmu ekonomi di salah satu Universitas di Jepang.

Dalam websitenya (bisa dilihat alamatnya di bagian bawah), ternyata Hiroshima University bukanlah salah satu University Partnernya beasiswa ini, jadi saya mengambil jalur Open Track, bukan Partnership Track. Untuk Open Track, hanya ada 2 seleksi, paper selection dan wawancara. Kalau dilihat dari eligibility, saya sebenarnya kurang pas dengan ketentuan beasiswanya  yaitu bekerja di Pemerintahan yang mengurusi / terkait makroekonomi. Namun saya perbesar peluang saya dengan kemampuan bahasa sedikit di atas persyaratan (syarat Toefl paper/Toefl IbT/IELTS 550/79/6) dan surat rekomendasi dari dosen S2 saya, seorang ketua Jurusan Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi UI. Dan mungkin yang paling mujarab adalah surat rekomendasi dari Direktur Jenderal Migas, Dr Evita H Legowo (ada untungnya juga sok kenal dengan pejabat yang mendukung sekali anak buahnya untuk sekolah). Selain itu dalam formulir saya tuliskan kalau saya bekerja di bagian kebijakan subsidi BBM, jadi agak ‘berbau’ makroekonomi.

Setelah mengisi form dan melengkapi dengan syarat administrasi lainnya, kita diharuskan mengirimkannya rangkap 3 via pos ke kantor IMF Tokyo , kalo ngg salah biayanya sekitar Rp. 400rb pake DHL. Setelah semingguan dapat konfirmasi kalau IMF Jepang sudah terima filenya dan akan diproses kira2 2 mingguan. Agak telat sedikit, setelah 3 mingguan, tiba2 masuk email kalo saya termasuk kandidat dan akan masuk tahap wawancara dan saya diminta mengirimkan tesis S2 Selain itu supervisor di Jepang pun menelpon saya dan  mengatakan kalau saya kandidat kuat, tinggal wawancara saja, dan beliau diminta IMF untuk mengarahkan penelitian saya mengenai stabilitas makroekonomi.

Karena ngg terlalu berharap dari awal, maka persiapan wawancara pun kurang. Wawancara jarak jauh dilakukan dari kantor IMF Jepang via Video Conference ke kantor saya, kebetulan di kantor sudah ada alatnya  dibantu  ahli IT kantor (thanks ya Mas Agus). (Kalau kantor  tidak punya alat itu, wawancara bisa via Skype). Ada 2 orang pewawancara, 1 orang India sepertinya dan satu lagi Jepang. Orang Jepangnya terlihat tertarik dengan master tesis saya tapi yang satunya lagi banyak tidak puas dengan jawaban saya. Jadi setelah selesai, saya yakin kalau tidak diterima, berhubung kurang lancar menjawab beberapa pertanyaan penting. Pertanyaan seperti alasan mengambil PhD dan proposal riset saya jawab dengan kurang mantap. Pewawancara yang satu itu mengejar metode proposal saya mengenai Energy Policy, namun karena saya belum yakin benar, saya selalu menjawab akan saya pelajari lagi dan dia tampak kurang puas.

Sekitar 3 minggu kemudian email hasil wawancara pun dikirimkan. Jadi antara senang dan bingung ketika menerima surat penerimaan beasiswa, pertama kali baca email bukannya alhamdulillah malah ah masa sih? :-). Saat itu LoA saya sudah kadaluarsa alias harusnya masuk per 1 Oktober tapi diumumkan diterima kalau tidak salah November 2012.Dan saya pun bertanya tentang LoA yang sudah kadaluarsa, IMF menjawab tidak ada masalah, saya bisa apply masuk kampus lagi untuk April 2013 dengan beasiswa IMF.

Namun ada satu ketentuan yang merisaukan saya, yaitu beasiswa yang bisa diperbaharui (renewable) pertahun. Perlu ada persetujuan dan evaluasi dari kantor saya, universitas dan IMF terkait hasil studi dan progress riset pertahun agar beasiswa bisa diperpanjang. Ini yang akan menyulitkan saya sebab saya tidak benar-benar berkerja dan meneliti kebijakan makroekonomi, bisa ngg lanjut terus gimana? Apalagi supervisor juga back groundnya environmental economics. Supervisor dan IMF sih menyarankan saya untuk menerima, toh berdasarkan pengalaman, sangat sedikit yang tidak diperpanjang. Namun setelah ditimbang-timbang termasuk saran dari kantor, akhirnya terpaksa diurungkan niat sekolah dengan beasiswa itu. Mudah2an bisa membantu yang lagi hunting beasiswa. Ganbatte kudasai….

Link bisa lihat di

http://bit.ly/Y9Xfaz : JISPA 2013 – 2014

http://bit.ly/UhkSlG : JISPA Open Track: Application Guidelines

http://bit.ly/XDhdhP) : formulir

catatan:mungkin tahun ini pendaftaran untuk jalur Partenrship Track sudah ditutup,  tapi masih terbuka peluang untuk Open Track

Manjadda Wajada tapi juga Tahu Batasan

Suatu hari di SMA 28 Jakarta, Pak Guru sedang menjelaskan deret Matematika. Saya yang sejak SMP bermasalah dengan Matematika, sedang asyik menyimak penjelasan Pak Guru, hmmm, lumayan juga ya, deret ukur dan deret hitung. Yang agak bingung ketika masuk ke soal UMPTN dengan tampilan angka yang ajaib, ada pembilang-penyebut, ada pangkat pula. Pusing euy….

Sementara itu di depan saya, bukannya mendengarkan penjelasan Pak Guru, sang jenius malah membuka buku lusuh dibawah meja. Mirip orang sedang mencontek kalau ujian, dengan hati-hati dibukanya halaman demi halaman buku yang sudah kusam itu. Penasaran juga, baca buku apa nih anak? Saya intip, ternyata…., isinya formulasi deret yang jauh lebih rumit, dan judul bukunya adalah ‘Matematika untuk Universitas’. Nasib-nasib, lagi susah – susah dengerin penjelasan dasar tentang deret, eh ada juga yang tega-teganya buka buku begituan padahal belum cukup umur. J

Manjadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, begitu kata ustad di Pondok Madani. Bukan pisau yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguhlah yang kan mencapai sukses. Terus apa hubungannya ya dengan cerita di atas? Kalau kita baca buku motivasi, seringkali sang penulis memberikan iming-iming, dengan Berpikir dan Berjiwa Besar dipastikan pembacanya akan sukses menjadi CEO paling berpengaruh di dunia, jadi pengusaha paling berhasil, atau jadi ilmuwan peraih nobel. Apa benar? Pernahkah ada survei misalnya, berapa orang pembaca ‘The 7th habit yang karena melaksanakan pemikiran penulisnya menjadi Nobel winner? Atau CEO terkemuka di dunia? Atau pengusaha paling bonafid pemilik perusahaan dalam Fortune 500? Pasti ada, tapi prosentasenya sedikit. Mengapa? Karena kapasitas pembacanya berbeda. Kapasitas saya dan teman saya yang jenius dalam matematika itu misalnya, jelas berbeda. Dan paling tidak dapat disimpulkan, teman saya itu punya peluang lebih besar dari saya untuk berkarir yang berhubungan dengan matematika.

Ada dua sisi ekstrim yang ingin saya kemukakan disini:
a) Jangan batasi usaha anda dengan pandangan pesimis
Dalam buku Kubik Leadership, contoh yang juga sering muncul di buku manajemen lain adalah tentang kutu yang dimasukkan ke dalam kotak korek. Kutu yang tadinya bisa lompat lebih tinggi dari tempat korek, hanya akan melompat tidak lebih dari kotak korek setelah dipaksa tinggal didalamnya. Pandangan pesimis kita terhadap kemampuan kita sebenarnyalah yang membatasi kita untuk maju.
b) Tetapi juga jangan over confident
Bagi kita yang berharap setelah menonton film motivasi ataupun buku manajemen diri dan tiba-tiba berharap jadi orang paling hebat setelah melakukan semua triknya tentu tidak tepat juga. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda. Saya pernah bertemu orang yang sangat cerdas, tapi tidak mampu menjelaskan idenya pada orang lain. Ada juga yang jago ngomong, tapi maaf, kurang berisi. Ada lagi yang pandai sekali bergaul, dari cleaning service sampai direktur nyambung aja, tapi ada kekurangan disisi lain. Orang yang di dirinya mengumpul beberapa kecerdasan (verbal, logika, matematika, music, interpersonal dll) maka akan lebih berpotensi dari pada yang lain. Setiap orang punya bobot yang berbeda. Untuk menjadi CEO kelas dunia misalnya, tentu diperlukan kecerdasan yang cukup dalam beberapa hal. Steve Job misalnya, tidak cuma jenius masalah konsepnya yang sangat futuristik, presentasinya pada saat launching produkpun luar biasa.

So, mari melihat segala diri kita secara objektif (susah ya?), usaha harus optimal, namun tahu diri sehingga berimbang dalam melihat potensi diri….
_________________________________________________________________________________________________
Jadi ingat, dulu waktu saya sekolah, Ibu saya pandai sekali memotivasi namun tidak tampak kecewa ketika anaknya tidak berhasil. Ibu beberapa kali dipanggil ke sekolah atau kampus. Sayangnya bukan karena anaknya berprestasi, tapi karena nilainya kritis, hehehe. Pertama, ketika kelas 1 SMA, nilai matematika saya 5, Ibu dipanggil untuk memotivasi anaknya. Kata-kata Ibu Wali Kelas kepada Ibu seperti ini “ Bu, anak ibu kan laki-laki, kalau bisa masuk jurusan Fisika, biar logika berpikirnya terlatih dan bisa fleksibel pada pemilihan jurusan saat kuliah. Jadi, semester 2, kalau bisa nilai Matematikanya 7, biar bisa masuk ya Bu.Sang ibu yang baik hati itupun mengatakan ke saya, ‘Ibu tidak masalah kalau kamu masuk jurusan lain, yang penting kamu suka, sesuai dengan pilihanmu’. Saya yang kesulitan menghapal dan paling ngg mudeng dengan pelajaran Sosiologi memilih berusaha belajar menyukai matematika. Akhirnya nilai matematika saya cuma 6, tapi mungkin karena peminat jurusan Fisika terbatas, terpaksalah mereka memasukkan saya ke jurusan itu.

Saat kedua adalah ketika kuliah, nilai semester satu saya jeblok, kembali Sang Ibu harus ‘mempertanggungjawabkan’ nilai anaknya. Saya sejak awal tidak mengira kuliah di jurusan Teknik Industri ternyata harus belajar Matematika Kalkulus, Aljabar Linier, beberapa Fisika dan Kimia. Mabok kepayang judulnya. Sang Ibu yang baik hati pun sepulangnya dari ‘pengarahan’ malah santai-santai saja, sambil memotivasi saya untuk berusaha lebih baik.Kok bisa ya?
Saya ingin sekali mencontoh cara memotivasinya, tapi ternyata sulit juga ya,karena di kepala saya terbersit keinginan dan harapan bahwa anak-anak harus lebih baik dari orangtuanya….

Terinspirasi dari buku Kubik Leadership…..

Beasiswa S2/ short course Twente Univ Belanda

Dear Sir or Madam,

We are pleased to send you our brochures with details of our training programme for the academic year 2012-2013.

As usual we offer two short courses:
‘Formulating Proposals for CDM Projects’ and
‘Energy Management in Small and Medium Scale Industries’.
Detailed information about these courses can be found in the attached brochures and also on our website: http://www.utwente.nl/mb/cstm

Besides the short courses, we also offer a one-year Masters programme (MSc) in ‘Environmental and Energy Management’. More information about this Masters programme can be found in the attached brochure as well as on the website: http://www.utwente.nl/meem

For funding opportunities please visit the website of the Netherlands organization for international cooperation in higher education (NUFFIC): http://www.nuffic.nl/nfp
Nuffic also has funds available for organizing courses abroad.

With kind regards,

Barbera van Dalm (Mrs)
International Course Administrator
University of Twente
MB-CSTM
Buidling Ravelijn – room 4107
P.O. Box 217
7500 AE Enschede
The Netherlands
( +31-(0)53-489 4377
* b.vandalm@utwente.nl
8 http://www.utwente.nl/mb/cstm/
Twente Centre for Studies in Technology and Sustainable Development
http://www.utwente.nl