Pro Kontra Wanita Karir, Bagaimana Menurutmu?

Baru-baru ini , teman istri waktu bekerja di sebuah Bank Syariah mengirim BBM ke istri . Ibu fulanah, sebut saja begitu, ternyata baru saja resign dari bank itu setelah bekerja sekitar dua dasawarsa. Dia mengatakan `ternyata selama ini saya rugi ya, selama 20 tahun membantu suami mencari nafkah, sebenarnya hal itu tidak perlu. Selama kita bersyukur terhadap rejeki yang ada, Insya Allah cukup saja. Ternyata tidak sesuai pengorbanan meninggalkan anak-anak dengan hasil yang didapat. Agak kaget juga saya mendengarnya.

Saat ini menurut pengamatan saya, wanita bekerja di Indonesia semakin banyak sepertinya. Saya ingat ketika sumpah PNS baru di kantor, ternyata lebih banyak perempuan daripada laki-lakinya. Kantor saya yang berhubungan dengan minyak dan gas sebenarnya tidak umum diisi oleh wanita, karena isinya anak2 perminyakan, geologi, teknik kimia dan teknik lainnya. Ternyata dari jurusan-jurusan itu itu, yang masuk banyakan wanitanya. Entahnya, mungkin mereka berpikir kalau PNS cocok kulturnya dengan wanita, walaupun sekarang sering juga harus pulang malam.

Untuk masalah yang lumayan rumit ini, saya sampai 3 kali berubah pikiran. Pertama, sewaktu sekolah sampai selesai kuliah S1, saya pikir aneh sekali wanita yang mau jadi ibu RT. Bukan apa-apa, sayang ilmunya kalau tidak diterapkan, sementara pendidikan dari SD sampai bangku kuliah perlu pengorbanan waktu, pikiran, usaha, dan juga dana yang tidak sedikit. Apalagi kalau lulusnya lama kaya saya, hehehe. Saya ingat, di kantor saya yang lama (waktu saya belum menikah) pernah ada pengajian yang membahas hal ini dan terjadi diskusi yang cukup seru dari para Bapak yang punya istri hanya di rumah saja dengan para wanita karir di kantor itu. Dan saat itu saya termasuk yang pro wanita bekerja. Kasihan sekali kalau punya suami yang ingin istrinya cuma ngurus kasur, sumur dan dapur saja, begitu pikiran saya waktu itu.

Kedua, ketika saya menikah dan punya anak. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama, istri hamil. Saya sendiri masih punya pendapat istri harus bekerja, apalagi Bunda Zaki adalah lulusan UI, jadi pasti ada pengharapan keluarga di pundaknya. Saya ingat saat hamil 7 bulan, kita berdua ikutan tes CPNS dalam rangka ikhtiar mencari pekerjaan. Dan proses melamar pekerjaan itu berlanjut sampai anak pertama lahir.Saat itu saya baru kepikiran, lah yang jaga anak siapa? Orangtua? Kan sudah cape mendidik anak, masa harus mendidik cucu? Asisten RT? Sudah nyarinya susah, yang bagus pastilah terbatas dikarenakan tingkat pendidikan dan gaji yang tidak sesuai dengan beban kerjanya. (lihat saja status teman2 saat lebaran, pasti sibuk cari asisten baru.

Akhirnya saya berpikir, memang seharusnya isteri itu di rumah, yang berkerja biarkan suami-suami, namanya rejekikan ada yang menjamin. Selain itu, dengan single bread winner, si suami akan fight sekuat-kuatnya sehingga akan optimal dalam karir. Lagian kalau saya perhatikan, ada sebagian pegawai wanita yang kurang termotivasi untuk maju dalam berkarir, terutama terlihat kurang berkompetisi. Kalau masalah rajin sih iya, tapi kurang dorongan untuk berkarir, kalau begini kan mendingan full time mendidik anak-anak ya. Saya menduga hal ini memang sudah bawaannya wanita, makanya mereka yang melahirkan, bukan pria. Sense sabar mendidik adalah karakter dasar wanita, sedang kelebihan pria adalah kemampuan berkompetisi yang kuat, sehingga cocok untuk jadi bread winner. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Namun pendapat ini sedikit mengalami modifikasi setelah melihat ternyata ada juga wanita-wanita yang berpotensi jadi pendidik tapi juga leader. Bisa dilihat misalnya wanita sekualitas Sri Mulyani atau Evita Legowo (mantan Dirjen Migas), luar biasa gabungan dari kecerdasan,ketekunan ketegasan, passion namun juga keibuan yang melindungi anak-anak (buahnya) . Kalau kita termasuk berjodoh dengan wanita seperti ini, mungkin yang terbaik adalah mencarikan solusi untuk penjagaan anak, sebab potensi istri kita yang paling utama adalah karir. Kita dorong sekuat-kuatnya untuk berkarir, sebab bisa jadi itulah amal utama dari istri (dan tentunya keluarga ) yang akan bisa memudahkan kita masuk surga.

So, menurut saya wanita itu defaultnya jadi ibu pendidik anak-anak di rumah kecuali kalau terlihat jelas potensi yang luar biasa untuk berkarir dalam dirinya. Tentu ada baiknya berkarir dahulu sebelum punya anak, biar merasakan sulitnya mencari nafkah :-) Itu menurutku, wallahu’alam. Bagaimana menurutmu?

note:
wanita karir yang saya maksud disini yang full day ada di kantor ya, jadi tidak termasuk part time

About these ads

About luthfiti96

Seorang abdi negara dengan cita-cita masuk surga. Sedang menimba ilmu di Hiroshima University dalam bidang Ekonomi Energi dan Lingkungan.
This entry was posted in Islam and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to Pro Kontra Wanita Karir, Bagaimana Menurutmu?

  1. purdesoraya says:

    menurut gw ya fi namanya perempuan kalau punya anak kecil apalagi masih baby, pasti pikirannya ga bisa fokus utk bekerja…makanya biasanya mereka kurang mengejar karir…tp coba kalo anak2nya udh gede, cuma rumah doang yang diurus…itu makanya di sjp yg semangat bgt ngejar karir itu kalo ga yg masih perawan atau ibu2 yg anak2nya udh pada gede, yg makin butuh uang kuliah yg besar yang pd akhirnya uang dan karir memang harus dikejar….kalo anak udh selesai kuliah dan kerja tinggal emaknya deh cari uang utk diri sendiri…yakan :) tapi yang menjadi permasalahan terkadang tempat kerja skg kebanyakan ga ramah dengan ibu2 bekerja yg mesti urus rumah tangga, anak dan pekerjaan…dan ibu2 tua itu kebanyakan lupa kalau mereka dulu jg pernah punya anak bayi, ngomongnya enak kalo kerja harus fight…tp namanya manusia pasti punya keterbatasan…

    Gw pribadi lebih memilih bekerja karena suami sendiri bingung takut2 gw stress dirumah, krn gw jg bukan org yg seneng sama anak kecil…gw sayang anak gw tp gw bukan org yg sabar hehehe jd sebisa mungkin gw struggle untuk menjalani 2 peran yang mulia tersebut :) …trus laki gw jg ga seneng liat perempuan kusut wkwkwk tergantung perempuannya si, tp bawaan gw kalo dirumah kusyut bgt….dan yang terakhir gw masih akan bekerja sampai gw merasa menemukan hal yg lebih baik dr yg gw jalani sekarang…mungkin dg semakin besarnya anak, gw akan semakin semangat terbukti dr pas anak gw udh mulai sekolah dengan biaya yg ga sedikit wkwkw gw jd lebih termotivasi deh fi….Dlm hal pendidikan anak, wanita bekerja memang hrs lebih banyak berkorban drpd IRT, krn harus cari sekolah yg pendidikan agamanya lebih besar porsinya,,,trus tiap pulang kerja harus nemenin si cantik belajar plus menanamkan paket cuci otak sesuai dg tujuan kita wkwkwk semua balik kpd masing2 si fi…cuma kalo kerjanya terlalu menyita waktu jatah anak gw dg tdk ada kompromi mungkin gw akan pilih keluar jg fi…krn biar bagaimanapun keluarga tetep nomer 1 :) jd semua tergantung kondisi masing-masing aja :)

    • luthfiti96 says:

      thanks atas sharing pendapatnya… Iya beberapa teman juga berpendapat sama, takut ngg betah kalau di rumah saja. Yang jelas gw setuju banget walaupun kita bekerja, keluarga no 1.

  2. mailani says:

    Setuju. saya juga tidak akan takut menjadi “jobless” kalo sudah berurusan dengan keluarga dan masa depan keluarga.

  3. Muh.Kan'an Lainufar says:

    alhamdulillah,klo istri bekrja plus memperhatikan anak. Namun sy menyesal mengijinkan istriku bekerja dan kuliah S3. sdkit curhat ne,skedar utk melegakan hati,syukur2 jka mdpt solusi.
    saya seorang ayah muda 28thn dengan balita laki2 berusia -+ 3bulan,hampir setahun menikah. saya bekerja di kota A sebagai karyawan kontrak dan memiliki toko online,saya mengontrak dikota A,namun istri berada di kota B ikut dengan ortunya dan bekerja dikota B juga. Yang menjadi masalah adalah istriku mengejar karir dan studinya.Ia menjadi dosen di PTS kota B dan sekarang sedang S3 dikota A. Ia ke kota A jika ada kuliah saja.
    Saya melihat dan merasa istri lebih mementingkan karir dan studinya,sebelum menikah ia memang sering mendapat beasiswa untuk s2 dan s3. mulanya saya setuju asalkan ia bisa bertanggungjawab,namun kini berbeda. Ia sibuk kuliah s3 dan bekerja sebagai dosen.Bahkan anak kami yang berusia 3 bln diberi sambungan susu formula dan diasuh pembantu.Saya sendiri tidak tiap hari dirumah,seminggu skali saya pulang menengok anak istri. Istri tidak mau ikut saya di kota A karena alasan pekerjaan sebagai dosen.Jujur antara saya dan istri memang memiliki pendidikan brbeda,istri S3 dan saya hanya D3 dri segi gaji pun istri lebih banyak.
    Pernah saya meminta isrti saya untuk ikut saya ke kota A sambil kuliah s3 dan mengelola toko online dan melepaskan pekerjaannya sebagai dosen.Tapi ia menolak alasannya gengsi jika ia lulusan beasiswa S2 luar negeri dan mendapat beasiswa S3 hanya menjadi IRT dan mengelola toko online.
    Sebagai suami saya merasa rendah bila istri berkata2 seperti itu,apalagi jika menyangkut keuangan.
    Meskipun ia mendapat beasiswa,tpi msh juga hrs mengeluarkan biaya yg lmyn banyak untuk kuliah dan riset. Istri lebih condong ke orang tuanya ketimbang dengan saya. Belakangan ini saya baru mengetahui bahwa istriku masih menyimpan rasa dg teman dekatnya dulu,dan melampiaskan rasa kecewanya krn tdk bs bersamanya dengan membanding2kan saya dengan mantannya dulu.
    Bgaimana saya harus bersikap untuk mendidik dan membimbing istri saya?Wassalam

    • luthfiti96 says:

      Terima kasih sudah berkunjung Mas,smoga ada manfaatnya.

      Menanggapi diskusi permasalahan yang ada,cukup serius juga ya,saya merasa tidak punya jawaban yg memuaskan karena pengalaman yg masih sedikit.

      Namun kalau boleh saran,mungkin Mas bisa menilai seberapa potensi istrinya.Kalau sangat besar potensinya,lebih baik kita yg mengalah.Dukung dia semaksimal mungkin,termasuk menjadikan karir kita no2.Sebisa mungkin tinggal berdekatan agar nyaman bagi semuanya.Beberapa teman ikut istrinya ke LN,mendampingi kuliahnya,walau tidak sekolah.Ada yg jaga anak,bekerja dll,yg jelas ikut membersamai untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.Saya menduga persepsi negatif itu semata2 karena jarang tinggal bersama.Wallahu’alam

  4. Muh.Kan'an Lainufar says:

    istri memang dosen kontrak PTS,saya merasa tdk nyaman bila ikut mertua tinggal di kota B. mertua menstir istri,pdhl stlh menikah sya langsung ambil KPR dikota A,tp skrg malah hanya saya yg tinggal dikontrakn,sampai2 mengurus segala sswtnya sndri. Yang saya khawatirkan hnya putra balita saya maz,,,jika mamanya cuek,bgmn perkembangan anak n2tnya?

    • luthfiti96 says:

      Kebetulan orang tua saya penasehat pernikahan di pengadilan agama. Biasanya nasehat beliau pada pasangan yang sedang kurang harmonis ya itu, susah senang hidup harus bersama. Karena komunikasi penting sekali, sebab pernikahan itu hubungan emosional bukan rasional, sangat mudah berubah dan sulit dijelaskan dengan logika.Tanpa komunikasi yang baik, akan sulit mengelola rumah tangga, apalagi ada masa lalu yang kesannya indah.

      Kalau saran saya, mungkin cari kontrakan/rumah dikota B, tidak tinggal di mertua kalo merasa kurang nyaman.

      Dan jangan lupa berdoa Mas, karena Allah yang menggenggam hati manusia. Wallahu`alam, semoga Allah memberi jalan keluar terbaik bagi Mas dan keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s